Kertas adalah tonggak penting dalam sejarah peradaban manusia, tak terkecuali dengan dunia Islam.

Awal mula penggunaan kertas dan produksinya dapat dipakai sebagai alat ukur untuk melacak jejak kejayaan peradaban Islam di masa silam. Perang antara Dinasti Abbasiyah vs Dinasti Tang atau yang dikenal dengan pertemuan Talas pada tahun 751 M dipercaya sebagai awal mulanya.

Setelah peperangan tersebut usai, serdadu Tiongkok yang menjadi tawanan perang pada akhirnya bersedia untuk berbagi pengetahuan tentang rahasia pembuatan kertas. Hasilnya, pinggiran kota Samarkand, Baghdad (red: Irak) kala itu disesaki dengan kehadiran lebih dari seratus toko penjual kertas dan buku.

Meskipun kertas pertama kali ditemukan oleh bangsa Cina (Ts’ai Lun; dalam buku The 100, a Rangking of The Most Influential Person in History menduduki posisi ke-7 sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah) sekitar abad ke-2 SM, tetapi umat Islam dipercaya sebagai kelompok pertama yang menggarap kertas secara massal.

Industri di bidang ini telah berkontribusi besar membuka jalan pembangunan sebuah peradaban ke arah lebih maju, baik di masa lalu maupun dengan masa akan datang. Peradaban buku, pada suatu masa, melatih manusianya agar selalu mencintai buku; simbol kreativitas menulis para ilmuwan.

Selain dapat memberikan rangsangan luar biasa untuk menuntut ilmu, produksi kertas juga membuat harga buku makin murah dan mudah ditemukan. Pada era keemasan Islam, buku adalah salah satu produk yang dibebaskan dari beban pajak. Konsep ilmu telah bertransformasi menjadi sebuah praktik yang distributif.

Sederet torehan umat Islam di atas, harus diakui, telah mengambil perannya untuk memengaruhi kebijakan produksi kertas di masa kini. Pelaku industri tidak akan mungkin dapat memalingkan perhatian sekaligus berupaya memberikan produk terbaiknya, terlebih bagi umat Islam.

Dirjen Industri Agro Kemenperin, Panggah Susanto, menuturkan bahwa kebutuhan kertas dunia saat ini telah berada pada kisaran 394 juta ton. Data tersebut diyakini akan terus mengalami kenaikan sampai 2020 mendatang dan diperkirakan menyentuh angka 490 juta ton setiap tahunnya (CNBC Indonesia).

Angka tersebut merupakan hasil akumulasi dari keseluruhan bentuk kertas yang dibutuhkan masyarakat dunia. Sampai saat ini, para pelaku industri kertas adalah salah satu pihak yang tetap berada di garda terdepan untuk mengambil dan bertanggung jawab (secara moral) atas pemenuhannya.  

Tidak pelak lagi, dalam rangka memenuhi kebutuhan saudara-saudara muslim, misalnya, baik di Indonesia maupun di negara dunia, industri kertas telah memainkan perannya menjaga keutuhan dan kesucian Alquran sebagai pusat ilmu pengetahuan dan tuntunan mengarungi kehidupan.

Menurut penuturan Sekjen Majelis Ulama Indonesia, Anwar Abbas, Indonesia masih kekurangan jumlah mushaf Alquran hingga 2 juta eksemplar setiap tahunnya. Ketersediaan yang dimiliki hanya dapat memenuhi 2 persen saja dari seluruh kebutuhannya (Okezone).

QPP Sinar Tech yang diproduksi IKPP Tangerang Mill, misalnya, hadir menciptakan desain khusus untuk dijadikan bahan dasar pembuatan Alquran. Spesifikasinya, High Smoothness, High Opacity, dan High Average. Secara normal, penggunaan produk ini mampu bertahan hingga 100 tahun lamanya.

Selain itu, kehalalan dan kelebihan lain dari produknya juga telah dijamin oleh LPPOM MUI dan ISO 9706. Keharusan melakukan sertifikasi halal terhadap produk ini merupakan pemenuhan terhadap ketentuan pasal 29 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.

Kertas untuk keperluan pembuatan mushaf Alquran yang berasal dari Indonesia juga telah dipercaya oleh berbagai negara berpenduduk mayoritas muslim, seperti Arab Saudi, Mesir, Turki, dan Lebanon, yang merupakan pusat percetakan Alquran bagi seluruh dunia (Bisnis).

Dikatakan, APP Sinar Mas menjadi pemasok 60 persen kebutuhan kertas Alquran dunia. Dari 120 ribu ton total penjualan kertas, 22 ribu tonnya diperuntukkan bagi pencetakan mushaf Alquran dan 8 persen darinya diperuntukkan bagi kebutuhan Alquran di Indonesia.

Selain aspek kualitas yang relatif baik, isu keberlanjutan merupakan faktor penting dalam pertimbangan penggunaannya. Sebagaimana diketahui, Indonesia mengungguli pasokan bahan baku ketimbang negara lainnya mengingat iklim yang dipunyai cocok bagi Hutan Tanaman Industri (HTI) seperti akasia.

Di dalam negeri sendiri, temuan Kementerian Agama menyebutkan, terdapat 54% dari total populasi umat Islam Indonesia yang masih belum dapat membaca Alquran. Minimnya distribusi dan pasokan disebut-sebut sebagai salah satu indikatornya. Diperlukan upaya konkret untuk meminimalisasi keadaan tersebut.

Oleh karenanya, aspek ekonomis tidak serta-merta dapat dijadikan dalih untuk menstigma produk kertas dan industrinya. Selain misi ekonomi, tentunya, terdapat misi lain, seperti dakwah di dalamnya. Umat Islam secara umum tidak lagi kesulitan mengakses kitab suci Alquran.

Sejarah telah merekam kolaborasi agama dengan ekonomi. Sebut saja Islam, yang merupakan agama yang lahir di tengah-tengah wilayah dengan kegiatan perekonomian supersibuk.

Terakhir, untuk setiap kerja-kerja yang telah dilakukan oleh pelaku industri kertas, penulis kutipkan penggalan ayat QS. 68: 1-2 dengan narasi bahasa Indonesia: Demi kalam dan apa-apa yang mereka tulis dan sesungguhnya begi engkau pahala yang tidak putus-putus.