AROMA yang semerbak menerobos
Masuk indera penciumanku.
Memberi kesan bahwa si pemilik sedang mengundang untuk
Datang menghampirinya.

Oh, tidak!

Aroma sedap. Lamun sangat familiar
Si adiwarna berbebar penuh tawa dalam rempan duka
Yang dulu ia ciptakan

Melintas penuh congkak dalam
Ruang-ruang kecil tempatku melepas lelah
Sosok yang tak asing itu bagai ros yang tak sampai hati kutepis.

Oh, tidak!

Dekap Aku
Aku terjerat
Lagi.

/2/

LAMA kumenunggu duduk termenung di atas dipan-dipan
Menengok tak tentu arah
Menunggumu yang entah di mana

Sore itu angin berhembus
Lembut menyentuh tiap pori kulitku
Menyisakan kesejukan tubuhku
Namun tak mempan menyejukkan hati

Kau berjanji akan datang
Mengungkapkan segala
Alasanmu tentang cinta barumu.

/3/

AH dia lagi
Bersama angin malam
Terbata-bata ia menghampiri.
Terselip pisau di balik jubahnya.
Apa kau hendak membunuhku lagi, masa lalu?


/4/

CINTA tak identik
Sedikit pun tak mengapa ia menoleh
Walau satu kedipan
Setidaknya langit merestui
Tak abai berkehendak

Bagai angin memompa
Menerbangkan sececah rindu
Cinta mampu menggayuknya
Dengan sayap rapuhnya
Walau luka menyimpan dengki
Atas sikap di masa silam

Sudah takdirmu di sana
Hidup mengayang dalam delusi rasa
Dalam belukar masa lalu
Duduk bermuram durja
Meratapi kisah usang.

Tak perlu sedu sedan itu
Tenanglah di sana
Nikmati jalannya
Kadang luka tak perlu obat
Dia menutup sendiri.

/5/

DI BAWAH mihrab bulan
Terpana menatap langit malam
Rembulan menetap
Sinari sanubari
Menanti cinta yang terpendam

Tak ada yang tahu ku membatin
Cinta yang terus tenggelam
Semakin dalam
Di hati yang kelam
Penuh keraguan

Walau harap datang dari wajahmu
Kita saling menatap dalam hingga cinta merekatnya
Sampai usia terlupa
Tak terhitung detiknya.

/6/

PAGI kembali lagi
Dia bukan awal hari
Ia hanya susulan
Kehidupan yang selalu berputar
Dalam nuansa hiruk dunia
yang kejam

Tulang punggung dibenturkan
Keringat bercucuran
Siap tampung beban selaksa
Demi keluarga

Hidup kembali hidup
Bukan nikmat yang berkuasa
Karena kerja adalah lelah
Jika tak mampu
Silakan menjelmahi bedebah

Hidup adalah usaha
Lelah juga imbasnya
Hanya doa yang terkasih
Membakar tindak
Mendorong hasrat

Hanya selayang pandang
Wajah tersayang
Di sanubari mengayang
Memberi rangsang
Agar semangat.

/7/

DI BAWAH kaki semesta
Kududuk menunggu
Sang purnama, menanti malam tiba
Senja memulainya
Dengan ribuan misterinya

Di bawah kaki semesta
Kumemandang dengan seksama -- kasih
Tuhan meliputinya, di antara
Terang dan gelap

Di bawah kaki semesta
Nyanyian burung
Mengiringi setiap sudut tanah ini. Segala
Makhluk pun menari hingga
Gunda terhibur. Juga nestapa

Di bawah kaki semesta
Rumah Tuhan membaca titah-Nya
Dengan alunan merdu
Tak kalah dengan
Nyanyian sang Jibril.

/8/

ADA yang hilang
Kala suaramu memanggil lirih
Mendadak waktu menarik masa
Di mana cinta
Lama berpeluk mesra

Kau beri sececah harapan
Hingga kita hanyut dalam
Dekap asmara
Bibirmu memagutku penuh berahi
Menukar tawar dan basah
Menakar debar dan gelisah.

/9/

WAKTU merambat sunyi
Tak ... Tik ... Tak ... Tik ....
Sekalipun kau acuh
Waktu tetap berjalan
Congkak

Mata tajam menusuk itu telah lama mengawasi. Sebabnya tak jelas. Apa ada yang salah? Tidak. Mungkin pakaianku. Ah, bukan juga.

Sesuatu ....

Hati mulai terbesit kala ia mendekat. Wajah mungil dengan goresan waktu yang tergambar di tiap sudutnya membuatku sadar bahwa

Tak ada yang salah. Kau ataupun Aku. Andaikata ada yang ingin disalahkan, maka biarkan waktu yang menanggungnya!

/10/

BAHANA bising di jerambah kampus
Duduk berkawan kata
Meliuk-liuk aksara terhampar di atas kertas
Larik sajak mengukir masa
Abadi

Benar, kata tak muluk becus melukis hidup yang rumpil
Ingatan tak lagi sama
Duka kerap mendepak diri dari kepuasan
Jejak waktu yang memaksa tiap kali kita berayun-ayun kaki

Untuk seorang yang hidup dalam kelengangan
Keluh itu satu hal
Baiknya bercatatlah!

Karena kata itu abadi
Ia sahabat yang tak akan menua
Plato mengaminkan.

/11/

LANGKAH bahela sempoyongan
Menjejaki tempat sunyi
Dalam koridor yang lampau
Terengah-engah penuh peluh

"Apa yang kau khawatirkan?" Tanya suara itu. Aku tak berminat untuk menjawabnya. "Apa kau takut terjerumus lagi?" Aku diam. "Jejak itu bukan urusanmu!" Nada suara itu mulai naik.

Ayolah ... Apa kau juga mendengarku?
Tiap langkah yang kuambil
Memang penuh kesangsian. Apakah kelak
Berakhir bahagia ataukah justru sebaliknya.

Namun ....
Hidup adalah hidup
Tiap jejak yang kita buat
Akan selalu menjadi
Pertanggung jawaban.

/12/

JARAK hanyalah ceruk
Tak perlu jarak untuk menjiwai cinta
Tak perlu mentari
Untuk merasakan hangatnya
Tak perlu nadi
Untuk merasakan getarnya

Hangat kan terasa kala rindu memagut
Getar kan terasa kala jujur.