Alunan gending jawa mengalun dengan merdu, tak terasa bulir bening mengalir dengan derasanya. Membasahi kerudung lebar merah marun yang aku kenakan, perlahan terasa ada tangan yang bertengger di pundakku. Sembari menepuk-nepuk pelan, terdengar bisikan suara, yang lebih tepatnya sayup-sayup karena beradu dengan aluanan gending yang keluar dari Soundsystem.

“Sudah Kinan, jangan tampakan kesedihanmu didepan mereka semua. Kamu harus ikhlas, ini sudah suratan takdir dariNya,” ucap Rara sembari menyodorkan selembar tisu.

Aku menerima tisu yang diberikan oleh Rara, lalu mengusapkanya perlahan, menyisakan riasan yang memudar.

“Iya Ra, aku akan baik-baik saja. Hanya saja tak kuasa melihat mas Bagas bersanding dengan perempuan lain, dan perempuan itu bukan aku.”

Kembali ada yang meleleh di pelupuk mata, tapi kali ini aku secepat mungkin menghapusnya. Aku tak boleh terlihat lemah dan rapuh di depan mas Bagas, selepas itu aku beranjak melangkahkan kaki menuju pelaminan.


 ***

1 bulan lalu

“Ayo Kinan! udah telat nih,” suara cempreng itu melengking di sebrang telepon sana.

“Iya sebentar, 5 menit lagi.” Aku mematikan sambungan telepon dari Rara.

Jemari lentik ini hati-hati sekali memoles bibir dengan lipstick warna nude, yang senada dengan jilbab yang aku kenakan.

“Aku harus terlihat cantik di depan mas Bagas pokoknya!” gerutuku selepas beres memoles make up. Kuambil tas warna hitam berukuran mini yang bertengger diantara beberapa tas yang ku punya, cukup untuk mengisinya dengan dompet, HP dan amplop tentu saja.

 Aku tak suka ribet, begitu pun dengan pakaian, gamis simpel dengan hiasan renda dipergelangan tangan. Mempermanis tampilan,

“Apalagi aku sudah manis. Eh kok memuji diri sendiri astagfirullah ….”

Kulangkahkan kaki menuju halaman depan, “hmm … pagi ini mentari bersinar malu-malu” kuedaarkan pandangan, mencari sosok Rara yang katanya sudah menunggu di depan. Ketika tangan ini terayun untuk mengambil HP, tiba-tiba tercium aroma parfum yang sepertinya tak asing. Dada kian bergemuruh, saat ekor mata ini menangkap sosok tinggi tegap dan mengulas senyum dengan gagahnya berhias kumis tipis, sempurna.

“Mas Bagas …! Sejak kapan ada di sini …?” Tanyaku, dengan detak jantung yang semakin kencang. Untung saja aku tidak jantungan, bisa-bisa aku pingsan dibuatnya.

“Semenjak setengah jam lalu,” sembari menatap mata Kinan, sedangkan Kinan hanya tergangga. Lututnya mendadak kelu, hampir jatuh dibuatnya.

“Astaga kenapa mas Bagas menatapku seperti itu” batin Kinan. Bukannya semalam ia mengajak ketemuan disana.

Kinan yang sedang melamun dikagetkan lagi oleh datangnya Rara yang tersenyum menyiratkan arti dengan berbagai pertanyaan. Mas bagas bergegas menuju mobil, aku mengekor di belakangnya, begitupun Rara. Ketika aku membuka pintu belakang mobil, Mas Bagas berteriak “memangnya aku supirmu? Duduk di depan!,” titahnya. Aku menuruti perintahnya, sebenarnya tak enak pada Rara, dia harus duduk di belakang sendirian. Menjadi obat nyamuk aku dan mas Bagas, maafkan aku Ra.

Jalanan terasa lengang, di dalam mobil hanya menyisakan bisu, sebenarnya ada perasaan yang mengusik hati sejak kemarin. Ingin bertanya pada mas Bagas tetapi sungkan lebih baik ku urungkan saja. Tak terasa 30 menit berlalu mas Bagas membelokan mobil pada pelataran yang terjuntai janur kuning di sana, sebuah tanda jika terdapat acara pernikahan.

Berderet karangan bunga yang menghiasi pelataran tersebut, terdapat tulisan berisi doa untuk kedua mempelai Dava dan Dira. Setelah mobil terparkir dengan sempurna, aku bergegas turun disertai Rara dan mas Bagas melangkahkan kaki menuju bangunan joglo yang digunakan sebagai tempat resepsi. Nuansa Jawa terasa kental sekali di sini, Dari kejauhan terlihat Dira menggunakan gaun atau lebih tepatnya disebut pakaian pengantin khas Jawa Tengah berwarna hitam, jarik dan dihiasi dengan roncean bunga melati yang terpasang disanggul, sedangkan Dava menggunakan baju beskap, jarik,blangkon serta keris yang disematkan di antara jarik dan stagen.

“Sempurna,” ujar mas Bagas.

“Mereka serasi sekali ya mas.” Ucapku seraya memandangi kedua mempelai dengan binar bahagia.

“Semoga kalian lekas menyusul ya,” tiba-tiba terdengar suara Rara dan mas Bagas berkata “aamiin aku yang mendengar pun tiba-tiba terperanjat dengan jantung yang kembali berdegup kencang.

Antrian para tamu undangan yang tadinya mengular sudah terurai, beberapa meter lagi aku akan berjumpa dengan Dava dan Dira. Aku masih memandangi sekeliling area resepsi tersebut. Dan mata ini menangkap sosok yang tak asing, memang sih pasti banyak teman Dira yang di undang, apalagi teman semasa SMA dulu, dia menjadi primadona di sekolah.

Dan sosok itu pun memandangiku dengan mata terbelalak. Seketika berjalan ke arah kami berdiri.

“Nisa …? Kamu nisa kan..? aku masih terkaget memandanginya.

“Iya Kinan, ini aku Nisa.” Dia merengkuh pundakku sekilas. Sedangkan mas Bagas yang berada di depanku pun menoleh karena mendengar aku berbicara. Dan pandangan mereka bertemu, ada tatapan berbeda dalam netra mas Bagas, begitu pun dengan Nisa. Mas Bagas menyapa Nisa dengan sedikit gagap. Ada rasa canggung diantara keduanya, aku memahami itu. Sedangkan Rara mengengam erat tanganku, yang kini rasanya membeku.

Rara tau semua kisah itu, sebelum aku mengetahuinya malah. Semasa SMA Rara, Nisa, dan Mas Bagas berada di sekolah yang sama. Sedangkan aku tidak. Tempo hari Rara bercerita, jika Nisa dan mas Bagas pernah dekat. Dalam artian mereka pernah menjalin hubungan khusus, cukup lama ujarnya. Hampir 2 tahun, sedangkan aku dengan mas Bagas baru berjalan 1 tahun. Ketika itu aku berpapasan di halaman kampus, dan ia tak sengaja menabrakku. Setelah kejadian itu kira sering bejumpa dan dekat.

Dan aku mengenal Nisa, ketika ia bertandang ke rumah Rara. Aku hanya tau, tetapi tidak begitu mengenalnya. Lamunanku buyar ketika mas Bagas menarik tanganku yang masih terasa dingin ini. “kamu kenapa Kinan? Kenapa tanganmu menjadi dingin dan wajahmu pucat?” tukasnya.

“Aku tidak kenapa-napa mas, ayo kesana.” Ucap Kinan berjalan ke pelaminan. Selepas itu bergegas memeluk Dira, dan berbisik.

“Selamat Dira, semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, dan warohmah. Semoga lekas diberi keturunan ya, selamat menempuh hidup baru, aamiin.”

“Aamiin, terima kasih atas kedatangannya Kinan. Ucap Dira sembari melepas pelukan. Disusul Rara dan mas Bagas. Setelah memberi ucapan mas Bagas langsung mengajak aku pulang, tidak memberi kesempatan Rara yang sudah tergiur dengan hidangan.

“Kenapa langsung pulang sih! Aku kan pengen makan.” Gerutu Rara.

“Maaf Ra, aku tiba-tiba dapat pesan dari kantor harus bergegas ke sana. Lain waktu aku traktir deh. Rayu mas Bagas.

Aku yang berjalan di belakang mereka hanya bisa senyum-senyum sendiri, tapi ada perasaan yang mengganjal dihati. Mungkin sebuah firasat, tetapi aku buru-buru menapiknya.

Mobil mas Bagas meninggalkan pelataran, dan janur kuning melambai-lambai tertiup angin. Seolah berbicara kepada kami, selamat tinggal.

Setiba di rumah, mas Bagas langsung pergi. Tidak sempat bertemu orangtuaku. Dan itu membuat mama bertanya-tanya.

“Kenapa Bagas tidak mampir dulu Nan?”

“Katanya ada urusan mendadak ma, tadi aja cuma sebentar di sana.” Ku liat ada raut kecewa di wajah perempuan yang telah melahirkanku itu.

Bergegas aku beranjak ke kamar, kurebahkan diri di atas kasur. Ku pejamkan mata, tiba-tiba ingatan kejadian di resepsi tadi mengelitik perasaan. Tak terasa ada yang mengalir d ujung mata. Keluar begitu saja, aku tergugu entah kenapa.

Di dalam hati yang paling dalam. Ada perasaan takut yang entah mengapa, takut dengan tatap mas Bagas kepada Nisa. Diiringi isakan, perlahan aku terlelap dalam pejaman mata.

****

Seminggu setelah kejadian itu, mas Bagas mulai jarang menghubungiku. Ketika aku cek WhatsAppnya pun jarang terlihat online. Banyak pertanyaan yang memenuhi isi kepala, tetapi aku urung untuk menyapanya. Sampai ketika aku membuka Ig, kulihat unggahan Nisa yang sedang berada di sebuah cafe. Ada tangan yang menggengam tangan tersebut, dan sepasang cincin yang melingkar indah di kedua jari kelingking mereka. Aku menyerngit, sepertinya tidak asing dengan tangan yang mengenggam tangan Nisa. Ku tutup aplikasi itu, bergegas k rumah Rara. Aku menceritakan semuanya, dan ternyata ia sudah tau semuanya. Aku merasa menjadi gelap. Dan ketika aku terbangun, ada mama dan Rara di sampingku.

“Maaf Nan, aku tidak tega untuk menyampaikan kepadamu tempo hari.” Aku memandangi muka sahabatku itu, raut mukanya terlihat menyesal.

“Tidak apa.” Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut. Lidah ini masih terasa kelu, hancur sudah segala harapanku.

Selang beberapa jam, terdengar ketukan dari pintu depan. Mama bergegas membukanya. Mama mempersilahkan masuk tamu tersebut, kamar yang aku tempati berada di dekat ruang tamu. Jadi aku bisa mendengar percakapan mereka meski aku tak melihatnya.

“Maaf Kinan.” Terdengar suara dari sudut kamar. Aku hanya menoleh sekilas dan membuang muka, tak ingin orang yang sangat ku cintai itu melihat mata yang membengkak ini.

“Maaf Nan. Aku tak bermaksud menghianatimu, merusak segala mimpi indah kita. Tapi aku terpaksa melakukan ini, ayahku memiliki hutang budi dengan keluarga Nisa. Dan aku dijodohkannya, aku sudah menolak, tetapi ayahku terus memaksa. Aku tidak memiliki pilihan, maaf Kinan.”

Aku hanya bergeming mendengar penjelasan itu, enggan untuk mendengar. Pada akhirnya beberapa hutang orangtua, anaklah yang harus membayarnya. Entah itu materi ataupun hati yang harus tergadai. Dan segala mimpi aku dan mas Bagas harus dikubur dalam-dalam.

Mas Bagas pamit setelah mengatakan semuanya, dia tak tega melihatku, yang terdiam tanpa ekspresi kehilangan cahaya.

3 minggu berlalu, dan aku di sini menatap sepasang pengantin dengan balutan gaun pengantin berwarna hitam. Warna yang aku mimpikan ketika di pelaminan, dan kini menatap lelaki yang masih tersimpan dihati bersanding dengan wanita lain di sana.

Janur kuning yang diperuntukan untuk diriku telah melengkung, tak ada lagi yang masih tegak berdiri. Aku berjalan nanar meninggalkan tempat resepsi diiring liukan janur kuning yang di pasang menjuntai sepanjang pinggiran jalan. Dan lukaku masih mengangga, begitulah cinta. Sebesar apapun perasaannya, jika ia bukan takdir kita. Hanya menyisakan luka.