AS Laksana bisa saja menulis esai Kenapa Jurnalis Kita Menulis secara Buruk. Namun masyarakat pembaca berita di Indonesia secara umum, tampaknya, sudah tidak setuju dengan paragraf pertama esainya itu. Bahkan, jauh sebelum keseluruhan esainya itu ditulis.

Mari beranjak sebentar ke peringkat situs web di Indonesia per 5 April 2019, yang disajikan oleh Alexa. Peringkat tersebut dipuncaki oleh situs web yang berbentuk portal berita. Jika ditelusuri lebih lanjut, tiga dari lima posisi teratas peringkat itu—atau enam dari sepuluh, atau 26 dari 50—diisi oleh portal berita.

Itu menunjukkan, masyarakat Indonesia memiliki hubungan yang baik dengan berita. Mereka rajin berkunjung ke portal berita; berlama-lama di sana; membuka banyak laman; secara sukarela mendistribusikan satu-dua beritanya ke media sosial; dan melakukan hal-hal lain yang berdampak positif pada performa digital suatu portal berita.

Apa mereka tersiksa oleh berita yang ditulis secara buruk? Kita bisa menjawab pertanyaan itu dengan menyimak tiga penggalan berita berikut ini:

Roy yang rencananya bersama bersama ibunya bernama Marlan Hadi (66) hendak berpergian menuju arah Jombang, memutuskan berhenti di bahu jalan untuk memeriksa keadaan mobil.

Beredar sebuah artikel blog bernama pettrok(dot)blogspot(dot)com yang diberi judul “Menurut Data Resmi TNI, Prabowo Sudah Menang, Tidak Perlu Ada Pemilu Ulang!”. Artikel blogspot ini juga beredar di grup-grup WhatsApp dan Facebook.

Melalui skema tersebut termasuk sosialisasi via digital, pengunjung pameran IIMS 2019 disebut melambung. Tercatat, selama sembilan hari pengunjung mencapai 425.211 (25 April - 3 Mei 2019).

Tiga penggalan itu diambil dari berita berkategori populer, yang dimuat oleh portal-portal berita teratas. Juara dari juara, secara jumlah pembaca-pembagi-pembicara. Jika kita bisa menilai tiga penggalan berita itu, kita tahu berita yang ditulis secara buruk tidak menyiksa orang banyak—justru bisa diterima, untuk tidak mengatakan sebaliknya.

Berita yang ditulis secara buruk hanya menyiksa AS Laksana dan sebagian kecil pembaca berita di Indonesia. Tentu saja, yang sedikit itu berhak menuntut semua jurnalis kita untuk menulis berita secara baik. Namun, inilah kabar buruknya: selama jumlah mereka sedikit, tuntutan mereka tidak berarti.

Kabar itu datang dari jebolnya imunitas jurnalisme kita, tepat ketika ia memasuki skema pasar—bukan untuk memperbaiki, tetapi mengikuti. Hari ini, jurnalisme kita memberi apa yang orang banyak suka dan bisa telan, bukan apa yang orang banyak butuh. Dengan begitu, pemilik sebuah portal berita bisa melihat dua metrik bergerak-cepat bersama: traffic dan revenue.

Ya, jurnalis kita menulis secara buruk karena pasar suka dan cocok dengan berita buruk. Mereka menyesuaikan selera pasar. Namun itu bukan satu-satunya alasan, sepertinya. Lainnya adalah kebanyakan portal berita kita, secara bisnis, terlalu main aman dalam game jurnalisme ini. Mereka menjadikan kecepatan dan kuantitas produksi berita sebagai penyokong utama.

Tidak mengejutkan jika kualitas dikesampingkan, diniatkan maupun tidak. Di tengah riuhnya kompetisi portal berita di Indonesia, yang mampu memproduksi lebih banyak berita dalam waktu yang lebih singkat akan menang. Jika sebuah portal berita membiarkan jurnalisnya berlama-lama dalam mengolah berita, lanskap kompetisinya akan lebih berat.

Ia berisiko untuk mendapati kekalahan yang begini: kehilangan momen dalam interaksi di media sosial, meraih posisi yang jauh dalam mesin pencari, dan secara keseluruhan performa digitalnya tidak menggiurkan bagi pengiklan. Siapa yang mau mengambil risiko ini?

Mungkin ada beberapa jurnalis yang mampu menulis banyak berita bagus dalam waktu cepat. Namun kita bisa menebak persoalan lainnya, yakni harga jurnalis semacam itu mahal. Saya tidak tahu apakah portal berita mau mempekerjakan jurnalis semacam itu, tetapi tahu bahwa mereka punya pilihan yang ekonomis. Pilihan itu, tidak lain, adalah pemula dan anak magang.

Menggemukkan bagian produksinya dengan buruh-buruh yang bisa dibayar murah. Begitulah strategi yang tepat bagi sebuah portal berita, ketika yang ia perlukan hanya produksi cepat-banyak. Dalam hal ini, bahkan pabrik sepatu tidak melakukannya karena memiliki editor (maksud saya quality controller) yang benar-benar galak.

Sampai di sini, kiranya kita memang patut pesimis seperti AS Laksana; kualitas umum berita kita masih akan begini-begini saja. Selain itu, patut juga berduka untuk para sarjana yang terjebak dalam proses bisnis portal berita yang menumpulkan—betapa pun mimpi mereka adalah menjadi jurnalis andal.

Namun paragraf bernuansa negatif semacam itu, saya rasa, kurang baik untuk dijadikan penutup. Karena itu, perlu juga disampaikan hal lain. Misalnya, kita masih punya beberapa pilihan portal berita yang bagus, yang layak baca dan bagi. Soal sesekali kita bertemu dengan berita buruk, ada pihak-pihak lain yang bertanggung jawab di bagian itu …

… dan sementara kita tahu, produsen berita buruk tidak berminat menjadi salah satunya.

Jika pekerjaan pihak-pihak itu kelihatan hasilnya—pasar, masyarakat Indonesia, yang lebih cerdas—, kita akan tahu bahwa portal berita yang terlambat meningkatkan kualitas produknya akan kalah. Ia akan ditinggalkan; peringkat Alexa akan berubah. Saat itu, jurnalisme yang ideal, tidak bisa tidak, harus menjadi penggerak bisnis portal berita.