Saya terus mengikuti polemik antara sains, agama, dan filsafat dari para filsuf muda maupun tua di Facebook. Sekilas, ini adalah fenomena menarik bagi saya sebagai orang yang masih belajar filsafat sambil cemas-cemas tidak jelas.

Tulisan ini hanyalah tanggapan singkat dan mungkin ada banyak kekurangannya. Mengingat, saya mencoba mengomentari salah satu dari beberapa jagoan di negeri ini yang masuk dalam lingkaran perdebatan yang luar biasa canggih. Dan oleh karena itu, mohon dimaklumi.

***

Dari sekian tulisan yang saya baca, tulisan tanggapan dari Ulil Abshar Abdalla atas tulisan Goenawan Mohamad yang menyentil korelasionisme Quentin Meillassoux yang paling menarik bagi saya, meskipun bukan yang paling bagus. Sebab, ada semacam gerbang baru yang dibuka oleh Ulil dalam tulisannya dengan maksud melanggengkan metafisika, suatu upaya menjaga "eternal being" dari kecenderungan ego antroposentrime dalam sains. Tapi di sisi lain, tetap mempertahankan sentralitas manusia dalam formasi pengetahuan.

Ini sesuatu yang membingungkan bagi saya yang baru belajar. Bagaimana bisa Ulil mencegah Tuhan tidak dibunuh dengan nalar spatio-temporal sembari mencegah das Ding An sich membunuh manusia? Apakah Ulil berangkat dari asumsi berbeda mengenai status ontologi dari benda pada dirinya sendiri? Tampaknya memang demikian.

Sebab, Ulil mengajukan pembedaan yang tidak jelas antara formulasi metafisis Quentin Meillassoux pada ranah matematika sebagai benda pada dirinya dengan idealisme transendental Kant yang menempatkan dunia tersebut tetap selalu dalam keadaan negatif. Tak bisa ditembus.

Pada Bab 2, dalam bukunya After Finitude (Fideism, Metaphysics, Speculation), Meillasoux menperluas konsepnya tentang "ancestrality"—sebentuk realisme yang berbeda dengan realisme tradisional. Ia dengan jelas menarik garis demarkasi antara tafsir dua objek—nomena dan fenomena, sebagai dunia yang di sana dan di sini dengan dunia kontingen di mana benda pada dirinya "mungkin" untuk diketahui dengan tetap pada modus yang keberadaannya tak berkorelasi.

Tapi untuk yang terakhir, dengan cara apa ia diketahui? Inilah yang membuat Ulil geram.

Benar bahwa Meillassoux berupaya menggeser posisi metafisis Kantian pada ranah entitas yang independen dari manusia ke ranah kontingensi—yakni keyakinan dogmatis-metafisik-negatif ke ranah yang mungkin. Artinya benda pada dirinya, sudah selalu eksis mendahului pikiran manusia, tapi ia ada di sini; seperti pada jejak-jejak purba sebelum manusia hadir. Ia absolut tapi mungkin.

Tapi matematika, seperti tafsir Ulil atas konsep "ancestrality" sebagai bagian dari entitas benda pada dirinya, pada dasarnya bukanlah benda itu sendiri. Matematika adalah cara lain untuk menangkap segala kemungkinan yang fragmentaris dari realitas yang tak terbatas, atau apa yang disebut "kualitas primer".

Realitas itu harusnya dipahami sebagai ketiadaan penilaian akal, yang disebut sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Dan ini adalah properti ontologis absolut, dan bukan tanda keterbatasan pengetahuan kita.

Dengan demikian, properti ontologis itu selalu ada dalam keadaan epistemologis yang sifatnya asimptosis (asymptotic): mendekati tapi tak pernah bertemu. Tapi mungkin untuk diketahui.

Ini adalah upaya dari Meillassoux untuk keluar dari lingkaran korelasionisme yang menganggap apa yang ada adalah apa yang dialami dan dipikirkan manusia. Apalagi model korelasionisme postmodernis yang menganggap apa yang transenden selalu berkorelasi secara internal dengan dunia faktual.

Dan selain itu, ia menghindar dari jebakan negativitas benda pada dirinya sendiri yang dogmatis yang—pada gilirannya—cenderung menciptakan spekulasi ala fideisme yang meletakkan iman di atas nalar; bahwa ketidakmungkinan adalah rumah bagi iman. Seperti Pascal: "iman dapat tetap rasional jika tidak ada bukti", atau jika diparafrasekan: Tuhan adalah apa yang tidak mungkin dibuktikan. Ulil seperti mau mengatakan itu, tapi malu-malu.

Pertanyaannya adalah, bagaimana jika konsep Tuhan yang dibangun di atas fondasi benda pada dirinya ala Kantian itu digeser ke ranah kontingensi, atau apa yang disebut Meillassoux sebagai "necessity of contingency"?

Seperti komentar Christopher Watkin: “Meillassoux datang dengan corak yang menggoda dengan menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk menyingkirkan Tuhan adalah dengan membuktikan secara rasional keberadaanNya, tetapi kita harus menunggu sedikit lebih lama".