Jean Baudrillard mulanya seorang marxis yang kemudian mengkritik marxisme itu sendiri. Tidak banyak biografi yang diketahui dari Baudrillard, tentu karena gaya hidupnya yang lumayan pendiam. Akan tetapi, para pakar menyebut Baudrilard lahir di Reims, Perancis, pada Tahun 1929 M. 

Diketahui juga, Baudrilard adalah cucu petani, dan orang tuanya sendiri merupakan pegawai negeri. Ia sendiri merupakan anggota keluarga yang terjun ke dalam dunia Intelektual. Baudrillard dikenal sebagai teoritisi dunia setalah Modern (Postmodern), yang berdampingan dengan filsuf seperti Derrida, Foucault, dan lainnya. 

Marx dan marxisme tradisional beriorientasi pada sistem produksi. Tentu, di era Marx kita tahu bahwa orang yang menguasi zaman ialah orang yang memegang kunci-kunci produksi. Melalui mesin, orang dapat menguasai zaman atau yang biasa disebut sistem kapital. 

Bagi Baudrillard, Marxisme seperti itu sudah tidak relevan di zamannya. Menurutnya, dunia setelah Modern, berorientasi pada sistem konsumen. Barang yang dikonsumsi bukan lagi mencerminkan nilai, melainkan sebagai simbol.

Abad 21 ini, kita hidup di dalam dunia screen teknologi (dunia layar). Baik itu layar TV, HP, dan seterusnya. Dunia yang kaya berita, akan tetapi miskin makna. Dunia di mana itu adalah simulacra atau dunia maya yang kita anggap dunia nyata. Jean Baudrillard (filsuf postmodern) menyatakan simulacra ialah wakil realitas yang kita anggap nyata. Dengan simulacra, lahirlah realitas semu (hiperealitas).

Dunia dinarasikan oleh media, baik screenteknologi (Televisi, komputer, smartphone, internet dan seterusnya) ataupun media cetak (koran, majalah, buletin, dan bahkan lukisan). Begitu pikiran kita digiring oleh media, di mana media itu menanggalkan realitas bahkan sama sekali tanpa makna, begitulah banyak instrumen-instrumen abstrak.

Melalui media, tidak jarang kita tahu bahwa “Islam adalah ekstrim, Indonesia adalah semrawut, Corona adalah angker dan seterusnya.” Kita juga tahu Amerika itu negara adidaya, dan Eropa itu Maju. Di samping menarasikan dunia secara umum, dalam lifestyle pun demikian. Media menarasikan bahwasanya cantik itu putih, mulus, dan memakai pembalut di kepala. 

Media adalah alat untuk mengiklankan propaganda-propaganda. Baudrillard menyatakan tujuan media-iklan ialah menggiring opini, mengkontrol pikiran, bahwa semua itu adalah nyata. Sehingga manusia kecanduan dunia simulasi, bergantung pada media. Alhasil hidup adalah dengan media, dan kita tidak sadar akan itu.

Sasaran media ialah ego dan kebahagiaan. Misalnya, jika anda ingin pintar minumlah minuman cap kadal/jika ingin keren pakailah smartphone merk jeruk/jika ingin sehat pakailah vaksin merk tikus/jika ingin halal pakailah yang ada cap halalnya/dan seterusnya. 

Padahal, dalam realitanya, jika ingin pintar dengan belajar, jika ingin sehat dengan olahraga-olahrasa-olahpikir, dan jika ingin keren tidak harus memakai cap jeruk, dan jika ingin halal tidak harus cap halal. 

Seolah-olah media dan iklan membantu kita (berbagi informasi), padahal kata Baudrillard dengan itu justru membuat kecanduan, kehilangan kesadaran, dan disorder (sirnanya rasa kemanusiaan).

Dahulu kala, orang yang pakai dan boleh memakai “sorban” hanyalah kiai. Melalui media, sorban tidak lagi mencerminkan arti kiai. Karena sorban sudah diselewengkan maknanya oleh media. Penjual obat kuat sekalipun juga memakai sorban. 

Simbol adalah pembentuk makna, atau sesuatu yang mencerminkan makna yang direpresentasikan dalam konsep-konsep. Baudrillard menegaskan bahwa makna tersebut dapat berubah karena instrumenisasi media. 

Laku penataan simbol mengarahkan konsumsi akan gambar, fakta, dan informasi. Kebutuhan manusia beragam, maka masyarakat harus mengikuti keragaman itu.

Abad 21, eksistensi masyarakat konsumerisme banyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat mengonsumsi sesuatu sebab pertimbangan apa merknya. Merk dianggap sebagai simbol yang merepresentasikan level sosial tertentu. Semakin mahal merknya, maka kelas sosialnya pun akan dianggap naik. 

Hiperealitas atau realitas semu membuat naiknya level sosial sebab mengonsumsi suatu merk itu seolah-olah tampak nyata. Kapitalisme memanfaatkan itu dengan memunculkan semakin banyak produk-produk simbol. 

Produk-produk simbol tersebut meluas dan menjamur di dalam aspek kehidupan manusia. Seperti misal, pakaian bermerk, sepatu bermerk, jam tangan bermerk, tas bermerk, kendaraan bermerk, kosmetik bermerk, handphone bermerk, laptop bermerk dan lain-lain.

Berkembang pesatnya ideologi konsumerisme didukung dengan perkembangan budaya populer melalui screen teknologi: televisi, iklan, internet, dan platform-platform sosial media (facebook, twitter, instagram, youtube, dan sebagainya).

Penyebaran konsumerisme melalui screen teknologi itu menjadi penyebab masyarakat abad 21 menjadi hedonis. Akibatnya, konsumerisme-hedonisme membuat individu agar orientasi hidupnya adalah kebahagiaan semu (false happiness).

Pemikiran Baudrillard, kita tahu bahwa dunia maya adalah ilusi yang dibuat seakan-akan itu nyata.  Kini, dunia screen teknologi menjamur hampir di seluruh aspek kehidupan manusia. Pertanyaannya, jika dunia screen teknologi yang sekarang ini menjadi sesuatu yang lebih praktis, mudah, perlukah kita menengok dunia nyata? 

Sumber Bacaan

Haryatmoko. Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post Strukturalis. Yogyakrta: Kanisius, 2016.

Afif al-Ayyubi. Skripsi. "Masyarakat Konsumerisme Menurut Jean Baudrillard Dalam Tinjaun Hipersemiotka." IAIN Surakarta, 2021.