98720_52033.jpg
ist
Budaya · 3 menit baca

Jawaban Terhadap Sanggahan Farid Salman, Meluruskan Tasawuf Modern?

Beberapa waktu yang lalu, saya iseng mencari nama on line saya (Jamal Ke Malud) di search engine google, apa yang akan saya temukan. Di antara yang saya temukan adalah tulisan Muhammad Farid Salman Alfarisi RM, dengan judul Meluruskan Tasawuf Modern? yang menyanggah tulisan saya di Qureta ini. Para pembaca bisa mengecek di link tersebut.

Saya senang ada yang menyanggah tulisan saya. Itu berarti telah terjadi dialog intelektual yang sehat. Memang begitu sikap intelektual muslim para pendahulu kita. Seperti dicontohkan oleh Quthb al-‘ilm al-Gazali dan Ibn Rusyd, al-Hakim al-Turmudzi dan al-Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabi, dan lainnya.

Tentu saja, saya tak sebanding dengan para nama-nama besar. Tanpa ada niat membandingkan, saya bahkan tak layak disebut satu titik debu di hadapan lautan keilmuan mereka. Tahafut al-Falasifah al-Gazali disanggah oleh Tahafut al-Tahafut Ibn Rusyd, dan Khatm al-Awliya’ al-Turmudzi dijawab di jilid ke-11 oleh al-Futuhat al-Makkiyyah Ibn ‘Arabi.

Meluruskan Tasawuf Modern?

Farid Salman dalam sanggahannya terhadap tulisan saya memberi kesimpulan berikut, “Tasawuf modern mesti diluruskan menurut Jamal tidaklah benar. Apalagi mengadunya dengan tasawuf klasik. Pada prakteknya sanad tasawuf (dalam bentuk tarekat) masih bersambung hingga hari ini. Bagi Hamka, istilah tasawuf modern itu dimaksudkan dalam tasawuf yang sudah dimodernisasi.”

Saya jawab, barang kali benar demikian jika yang dimaksud dengan tasawuf modern merujuk pada tulisan Hamka. Tetapi saya tidak merujuk pada Hamka. Saya merujuk pada buku Tarekat Tanpa Tarekat, karya Ahmad Najib Burhani, terbitan Serambi. Tasawuf modern yang ditawarkan buku Najib ini seakan ingin menghapus tasawuf klasik dari akarnya.

Tiga Spare Part Manusia

Farid Salman juga menulis, “tiga spare part manusia yaitu tubuh, akal dan hati. Menurutnya itu klasifikasi para sufi tanpa menjelaskan sufi mana yang dia maksud”. Saya jawab, saya memang tidak menyebut satu nama pun di tulisan saya yang disanggah itu. Waktu itu saya menulisnya dengan bahasa yang sangat ringan, dan memang menghindari penyebutan nama.

“Mengenai tiga spare spart manusia itu agak unik. Sebab ini jarang ditemukan dalam pembahasan atau pun diskursus tasawuf. Biasanya para Sufi menjelaskannya dalam pembagian jasad dan ruh”. Demikian tulis Farid. Saya jawab, memang para sufi biasanya berbicara sesuai hal (ekstase spiritual) atau maqam (stasiun spiritual) yang sedang dialaminya, sehingga mereka memang cenderung berbeda-beda dalam mendefinisikan sebuah diskursus. Misalnya, al-Gazali merangkum sedemikian banyak perbedaan definisi sabar menjadi satu definisi, di dalam Ihya’.

Salah satu literatur sufi yang membagi spare part manusia menjadi tiga, adalah al-Hikam al-‘Athaiyah Syarh wa Ta’lil karya Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, saat menjelaskan hikmah ke-13 dari kitab itu.

Qalb, Hati, Jantung, Dan Liver

“Adapun mengenai tasawuf sebagai penginstalasi softaware hati, penulis sepakat. Akan tetapi ketika software hati yang dimaksud itu adalah liver menurut penulis agak keliru. Sebab software itu ditanamkan oleh pembimbing yang dikenal sebagai mursyid bukanlah ke liver. Software itu ditanamkan ke jantung sebagaimana penuturan guru tasawuf penulis”. Demikian tulis Farid.

Saya jawab, kita sepakat bahwa instalasi software itu adalah ke qalb. Dalam bahasa Indonesia, qalb berarti hati. Dan kita memang sepakat bahwa instalasi software itu adalah ke hati. Tetapi, Bahasa Inggris hati adalah liver. Sedangkan Bahasa Inggris jantung adalah heart. Ini memang keterbatasan Bahasa. Dan bukan hanya di Indonesia yang membingungkan tentang hati dan jantung ini. Tetapi juga di Malaysia.

“Secara akademik ini diamini oleh Naquib al-Attas bahwa yang dimaksud qalb itu bukanlah hati dalam makna liver akan tetapi adalah jantung”. Demikian tulis Farid. Saya jawab, jika demikian berarti Farid menerjemahkan qalb dengan bahasa Indonesia, yaitu jantung. Sedangkan saya menerjemahkan qalb dengan bahasa Inggris, yaitu liver. Seperti sering diungkapkan al-Gazali, jika kita sudah sepakat makna di balik kata itu, perbedaan kata tidak usah lagi diperdebatkan.

Dunia Dalam Perspektif Sufi

“Benar bahwa sufi lebih mementingkan kualitas hatinya dalam perjalanan menuju Allah. Akan tetapi mereka tidak melupakan dunianya. Harusnya di sini Jamal mencontohkan sufi-sufi yang juga makmur kehidupan dunianya”. Demikian tulis Farid.

Saya jawab, kan saya sudah menulis, “Seorang sufi tidak lari dari dunia, tetapi mengejar dunia mati-matian. Baginya, dunia adalah ladang akhirat. Tanpa dunia, seorang sufi tidak akan memanen apa-apa di akhirat. Seorang sufi sudah selesai dengan spare part pertama dan kedua. Sekarang sudah waktunya untuk menghidupkan spare part ketiga. Spare part pertama dan kedua sudah hidup. Kini, waktunya spare part ketiga untuk dihidupkan.”, di tulisan itu pada paragraf ke-12.

Saya kira, semua sanggahan saudara Farid Salman bisa direduksi pada empat poin di atas. Barang kali ada beberapa hal yang agak melebar, tapi jika mau disimplifikasi, arahnya ya ke empat pon itu. Jika masih ada poin yang belum dijawab, saya senang kita berdiskusi sambil menyeruput kopi, meski saya bukan fans ngopi. Terima kasih.