Malcolm Gladwell mengawali bukunya yang berjudul Blink: the Power of Thinking without Thinking dengan sebuah cerita tentang sebuah keputusan cepat dan krusial yang seharusnya mampu menyelamatkan Museum J. Paul Getty di California dari kerugian dan rasa malu yang teramat besar.

Pada tahun 1983, ketika pihak museum ditawari sebuah arca kouros, mereka segera melakukan penyelidikan mendalam terhadap keaslian arca tersebut. Sebuah prosedur penyelidikan selama empat belas bulan pun dilakukan. 

Prosedur tersebut melibatkan berbagai metode penelitian ilmu tanah yang meliputi penggunaan mikroskop elektron dan penerapan teknik-teknik spektrometri massa, difraksi sinar X, dan fluoresensi sinar X pun dilakukan. Hasilnya memuaskan: arca tersebut asli.

Arca tersebut pun mulai dipamerkan. Media massa terkenal pada saat itu memberitakan pameran arca langka tersebut dengan kata-kata yang penuh kepuasan dan kebanggaan. Konon, arca kouros dalam bentuknya yang lengkap di dunia ini hanya berjumlah 12 saat pihak museum menerimanya.

Namun belakangan, beberapa arkeolog dan ahli sejarah menemukan kejanggalan pada arca tersebut—sebuah kejanggalan yang sepele tapi berpotensi menimbulkan keraguan atas integritas dan keaslian arca tersebut. 

Thomas Hoving, mantan direktur Metropolitan Museum of Art, bahkan serta-merta menggumamkan kata “segar” sebagai reaksi saat pertama kali melihat arca tersebut. Padahal kata “segar” bukanlah sebuah kata yang diharapkan bagi sebuah arca berusia dua ribu tahun.

Arca tersebut saat ini masih dipamerkan di Museum Getty. Label pada patung tersebut bertuliskan “Yunani, sekitar 530 SM, atau Sebuah Tiruan Modern.”

Keterampilan yang dimiliki oleh Thomas Hoving adalah keterampilan berpikir dan membuat keputusan secara cepat tapi jitu, yang tidak membutuhkan analisis yang dalam dan makan waktu, dan muncul dari alam bawah sadarnya secara tiba-tiba.

Sebuah keterampilan yang tumbuh dan menjadi matang karena pengalaman dan proses pembelajaran yang ia jalani sebagai seorang arkeolog. Keterampilan seperti ini mampu menghasilkan keputusan yang jitu dan solusi yang cepat yang acapkali lebih dapat diandalkan daripada keputusan yang dihasilkan melalui proses analisis yang lama.

Keterampilan Berpikir Cepat Para Ustaz

Keterampilan seperti inilah yang diharapkan dimiliki antara lain oleh para ustaz yang menyisipkan sesi tanya jawab dalam program khotbah mereka. Ketika mereka mempersilakan jemaah mereka untuk bertanya kepada mereka, keterampilan berpikir cepat, mudah, dan solutif mereka diuji.

Bahkan sebenarnya para ustaz itu sendiri pun menginginkan agar keterampilan tersebut diuji, karena dengan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan secara cepat dan jitu, kredibilitas mereka sebagai seorang ahli ilmu yang “hafal” semua solusi agama “di luar kepala” terangkat secara dramatis. Inilah sebabnya mengapa sesi tanya jawab menjadi bagian inti dari berbagai program ceramah, baik di atas mimbar maupun di layar televisi.

Ustaz Abdul Somad adalah salah satu dari para penceramah yang secara bersemangat menerapkan tradisi tanya jawab tersebut dalam program ceramah mereka. Estafet kertas-kertas kecil berisi pertanyaan menjadi pemandangan yang jamak bagi pemirsa acara-acara ceramahnya.

Belakangan—sebenarnya beberapa tahun yang lalu—dalam sebuah sesi tanya jawab kuliah subuh di sebuah masjid yang tertutup, Abdul Somad menerima secarik kertas dari seseorang di antara para jemaah. Pertanyaannya kurang lebih adalah mengapa ia menggigil setiap kali melihat salib. Sang Ustaz dengan kemampuan berpikir cepatnya serta merta menjawab, “ada jin kafir di salib tersebut.”

Jawabannya cepat dan jemaah puas. Kalau tidak puas, mana mungkin video sesi tanya jawab tersebut bisa muncul di internet, bukan? 

Yang menjadi pertanyaan, apakah jawaban tersebut jitu dan solutif? Apakah implikasi dari jawaban tersebut memberi kemudahan, khususnya bagi si penanya dan umumnya bagi semua orang yang terpapar oleh jawaban tersebut?

Bagi saya pribadi, alih-alih jitu dan solutif, jawaban tersebut susah dan pada akhirnya menyusahkan. Karena jawaban tersebut menyusahkan, kredibilitas Abdul Somad sebagai seorang penceramah yang diharapkan hafal solusi agama di luar kepala layak untuk saya pertanyakan kembali.

Mengapa Susah?

Jawaban tersebut susah karena alasan yang jelas: susah diamalkan dan menyusahkan hidup si penanya. 

Kalaulah si penanya kemudian tahu bahwa ada jin kafir dalam salib yang membuatnya merinding, apakah lantas permasalahannya dengan salib terpecahkan? Apakah lantas setiap kali berkendara, ia harus menghindari jalanan yang ada gereja di sisinya? Atau lebih ekstrem lagi, apakah lantas ia harus menghindari segala hal yang berbentuk salib (perempatan, ambulans, dan sebagainya)?

Jangan-jangan orang-orang jadi alergi dengan segala yang berbentuk salib—seperti kejadian di Solo beberapa waktu yang lalu—karena fatwa yang menyusahkan seperti ini?

Sikap alergi yang berujung denial atau penyangkalan inilah yang sebenarnya tengah menjadi virus berbahaya yang menjangkiti masyarakat kita. Banyak contohnya. Kita menyalahkan salib karena menyangkal iman kita yang masih lemah. Kita memonyat-monyetkan rakyat Papua karena menyangkal penjajahan yang selama ini kita lakukan atas mereka.

Demi Akidah

Kalalah ada dalih bahwa fatwa bawah sadar tersebut kurang jitu, Ustaz Abdul Somad masih memiliki waktu untuk mengoreksi fatwa tersebut dengan memikirkan sebuah keputusan atau fatwa yang lebih analitis setelah video tersebut tersebar—menjadikan ruang ceramahnya bukan lagi ruang tertutup, tapi sudah terbuka lebar.

Namun, dengan waktu yang tersedia tersebut, ia tetap bergeming: fatwa tersebut sudah final dan dia menolak untuk minta maaf karena dengan mengoreksi fatwa dan meminta maaf berarti ia menolak akidah yang diyakininnya.

Saya masih tidak paham cara Abdul Somad meletakkan konsep akidah atau iman ini sebagai dalih bagi fatwanya.

Baiklah, sekarang kita berbicara tentang akidah, tentang iman. Sebenarnya, kalaupun Abdul Somad menggunakan dalil akidahnya dengan benar, ia justru akan menghindari jawaban yang susah dan menyusahkan tersebut dan memberikan sebuah jawaban yang mencerahkan tidak hanya bagi Muslimin. Tapi juga bagi non-Muslimin, bagaimana bisa? Saya mulai dengan mengutip sebuah cerita berikut.

Haji Pertama

Satu tahun setelah Perjanjian Hudaibiyyah, Nabi Muhammad SAW memimpin kaum Muslim Madinah untuk menjalankan ibadah haji—atau lebih tepatnya umrah—pertama mereka, sebagaimana diatur oleh isi perjanjian tersebut.

Salah satu rukun umrah adalah tawaf atau berjalan mengelilingi Kakbah. Kalau Kaum Muslimin waktu itu mengikuti fatwa Ustaz Abdul Somad, kita bisa bayangkan betapa tersiksanya mereka karena mereka tidak hanya harus mengelilingi Kakbah yang dipenuhi berhala-berhala dan jin-jin kafir kelas kakap yang menghuninya.

Kaum Muslimin—tanpa senjata apa pun—juga berada di bawah pengawasan para prajurit Mekah yang siap kapan saja menghunus pedang-pedang mereka.

Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Kaum Muslimin dapat beribadah dengan tenang dan khusyuk sementara konon, para prajurit kafir yang sedang berbaris di Bukit Quaiqaan-lah yang merasa gentar dan takjub melihat kekhidmatan dan kekuatan keimanan dan ketakwaan Kaum Muslimin.

Iman adalah alasan mengapa Kaum Muslimin tidak menggigil dan panas dingin saat melihat berhala-berhala yang bermukim di sekeliling Kakbah. Kalaupun ada jin-jin kafir yang menghuni berhala-berhala tersebut, bisa dipastikan bahwa jin-jin tersebutlah yang sebenarnya merinding ketakutan merasakan dahsyatnya keimanan Kaum Muslimin.

Sebenarnya, kalau saja Ustaz Abdul Somad mau memberikan jawaban yang jitu dan lebih mudah diterapkan dalam kehidupan nyata, yang tidak mengganggu harmoni keberagaman di Indonesia, ia akan menganjurkan si penanya untuk memantapkan keimanannya agar ia tidak merinding ketika melihat salib, melewati gereja dan perempatan, dan masuk ke dalam mobil ambulans.

Iman Adalah Jawaban Paling Mudah

Iman adalah jawaban yang paling mudah tidak hanya bagi si penanya, tapi sebenarnya juga bagi si penceramah sendiri. Kenapa demikian?

Dalam buku yang saya kutip di awal tulisan ini, sebagaimana dibahas pula dalam buku-buku lain yang lebih serius, khususnya Thinking Fast and Slow karya penerima nobel Daniel Kahneman, keterampilan untuk memberikan jawaban, penilaian, dan keputusan yang cepat dipupuk oleh pengalaman hidup dan proses pembelajaran yang panjang.

Sesuatu yang sering dialami akan sangat mudah muncul dalam sebuah proses mental yang disebut adaptive unconscious dan membantu dalam membuat sebuah keputusan yang cepat dan jitu.

Bagi seorang pengkhotbah seperti Ustaz Abdul Somad, tidak ada pengalaman yang lebih pampang ketimbang pengalamannya dalam memberi wasiat keimanan dan ketakwaan kepada jamaahnya karena hal tersebut adalah salah satu rukun utama dari Khotbah Jumat.

Selain itu, hampir setiap pesan keimanan dalam Alquran pasti berujung dengan kalimat “walaa khauf ‘alaihim walaa hum yahzanuun.” Orang-orang yang mengaku beriman kepada Tuhan lalu teguh serta istikamah dalam keimanannya tidak akan mudah merasa gentar, sedih, galau, menggigil, dan panas dingin.

Lalu mengapa Ustaz Abdul Somad masih kukuh dengan fatwanya yang susah dan menyusahkan? Apakah karena ia hanya ingin terlihat jenaka? Maaf, Pak Ustaz, seperti halnya lelucon catcalling yang populer beberapa waktu yang lalu, lelucon yang tendensius seperti yang Pak Ustaz sampaikan terasa sangat memuakkan.

Akhirnya saya menduga bahwa banyak dari Umat Kristiani di Indonesia tidak terlalu sensi dan gampang panas dingin melihat provokasi Ustaz Abdul Somad mungkin karena satu hal: iman mereka lebih kuat daripada iman kita Umat Islam. Betapa terang benderangnya tiba-tiba pesan dari Surat al-Baqarah ayat 62 ini.