Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh. Angin malam yang semilir sudah terasa dingin. Ita, pemilik kedai, belum lagi mau tutup. Bila kedai sedang lengang, biasanya jam segini ia sudah tutup. Di hatinya, ada sesuatu yang mengantung. Ada sesuatu yang meminta keluar untuk diucapkan.  

Di jalan sebuah sepeda motor lewat. Seorang pejalan, menyapa yang di atas sepeda motor yang melaju pelan diterpa terangnya sinar bulan. “Ke mana kau. Sudah jam sepuluh malam masih saja berkeliaran dengan onda,” sapanya.

“Mencari sinyal,” jawab yang di atas sepeda motor.

Rumah-rumah yang berjarak berjauh-jauhan sudah mulai menutup korden jendelanya. Terdengar deru aliran Batang Air Haji sayup-sayup. Suara binatang malam seperti memberi irama tersendiri bagi jiwa-jiwa yang masih terjaga. Sebuah lagu Malaysia diputar Ita di gawai--menghibur diri.

Jualan Ita berupa mi rebus, mi goreng, teh manis, kopi, kopi susu, dan rokok. Terletak di kaki Bukit Lambai, Desa Rantau Sumalenang.

Pesan mamak-nya (kakak laki-laki ibu) kalau sudah berjualan:”Jangan hanya berjualan saja, cari juga laki.”

Pesan Ayahnya setelah memberikan modal: ”Sudah 25 umur kau. Di kampung kita ini, sudah beranak dua perempuan seumur kau. Mulai carilah laki.”

Toh, kedua laki-laki itu berpesan sama, supaya Ita cepat berlaki.

Selama jadi pemilik kedai, ada hal yang membuat Ita selalu terusik malam hari ketika sudah berbaring di dipan--dalam kamar kecil di kedainya. Adalah kedai Ramli, sebuah kedai yang menjual rokok, kopi, dan teh manis--menyeberang jalan dari kedainya berjarak sekitar 40 m. Gelak-tawa terbahak-bahak di kedai itu kalau jam sudah menunjukkan di atas pukul delapan. 

Kalau Ita lagi menunggu kedai, gelak tawa terbahak-bahak itu terasa biasa saja. Tapi, kalau ia sudah berbaring di dipan, gelak-tawa terbahak-bahak itu sungguh jadi kebisingan. Tentu gelak-tawa terbahak-bahak itu begitu memecah bunyinya di tengah malam yang sunyi.

Lalu, hempasan dan gemeretak batu domino. Ya, kedai itu juga tempat pemuda bermain domino.

Mereka juga sering mabuk, dan muntah-mutah di tepi jalan jika sudah teler. Malam larut dan hening, jika sudah lapar, mereka suka mencuri ayam orang untuk digoreng dan dimakan pakai nasi. Soal mencuri ayam ini, belum lagi pernah tertangkap basah oleh warga.

***

Seminggu lalu, seorang pemuda yang biasa main di kedai Ramli mendatangi Ita di kedainya. Hanya memesan teh manis, sedangkan rokok dia punya. Tentu dia bisa beli teh manis di tempat Ramli sebenarnya. Duga-duga seketika terbit di kepala Ita.

“Tahu ndak Ita dengan aku,” kata si pemuda setelah duduk.

“Siapa ya,” kata Ita, sambil mengaduk gula dengan sendok dalam gelas teh.

“Kita sama SD dulu. Masa Ita ndak tahu.”

“Rendi,” kata Ita sembari mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari telunjuk setelah menghidangkan teh manis dan duduk dekat etalase rokok.

“Dengan aku masa lupa,” kata si pemuda, lantas tertawa.

Rendi mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya. Segera pantik korek gas untuk menyalakannya.

Ita pun teringat pesan Mamak dan Ayah--sesegera mungkin berlaki.

“Kerja apa sekarang Rendi.”

“Tidak ada pekerjaan tetap. Kadang pergi dengan orang saja. Memasang tenda tiap hari Rabu. Tenda tempat orang berjualan untuk hari Kamis,” sepasang mata Rendi mulai memperhatikan wajah Ita, dan menatapnya.

Membuat Ita kikuk.

“Belum ada rencana untuk berlaki, Ita. Ndak ada orang tampak di kampung kita ini,” kata Rendi sembari menghisap rokoknya perlahan. “Belum ada jodoh saja,” kata Ita pelan.

“Bagaimana kalau sama aku saja Ita,” langsung menembak Rendi.

Nyata membuat Ita seperti berkeringat. Tapi, ia hanya bisa diam.

“Bagaimana Ita. Kalau Ita suka aku minta jawabannya. Ndak bisa kini, seminggu lagi aku ke sini lagi,” kata Rendi.

“Ingat Ita. Aku minta jawaban," katanya lagi setelah berdiri hendak meninggalkan kedai.

Segera Rendi bayar teh manisnya. Sedangkan teh manis itu belum lagi diminum. Segitunya Rendi, tergesa, hanya menyampaikan maksud hatinya saja.

***

Sekarang Ita sedang tidak ingin ngapa-ngapain. Kedatangan Rendilah yang dipikirkannya. Waktu seminggu itu nyatalah kini adanya.

Semenjak tadi pagi di kedai konsentrasinya tak penuh. Membuat mi rebus lupa bawangnya. Membuat kopi lupa gulanya. Dan, kembalian orang membeli rokok kurang--membuat orang itu balik lagi ke kedai meminta uangnya yang kurang.

Mulai dari pagi Ita menunggu Rendi dan pikiran selalu Rendi. Sekarang jam di dinding sudah menunjukkan sepuluh lewat tiga puluh.

Sedang Ita bermenung, datanglah Rendi.

Rendi mengenakan kemeja lengan panjang, celana jins ketat hitam, bertopi cowboy, dan bersepatu kulit seperti sepatu bot. Sebatang rokok terselip di antara jemarinya.

Ita coba tenangkan diri. Ia menyalakan gawai, lalu meletakkannya kembali di meja. Ia merapikan duduknya.

“Seorang saja Ita,” kata Rendi, langsung duduk, sehingga mereka berhadap-hadapan.

Pandang di antara kedua insan itu pun beradu.

“Rendi suka kan main di kedai Ramli?” keluar kalimat yang sudah dipersiapkan Ita sejak pagi tadi.

“Iya, benar. Seperti rumah sendiri saja kedai Ramli itu bagiku, Ita. Ibarat rumah sendiri, ndak bisa aku meninggalkannya terlalu lama.”

"Suka mabuk juga. Dan kalau sudah teler, muntah-muntah di pinggir jalan."

Rendi hanya diam. Sambil menghisap rokok, terdengar napasnya sedikit mendesah

Ita menarik napas teratur.

”Kalau begitu jawaban aku ndak (tidak)!”

Jawaban itu sudah dipikirkannya masak-masak selama seminggu ini. Ita tidak suka lelaki yang suka mabuk-mabukan--merugikan diri sendiri. Muntah-muntah pula di pinggir jalan bila sudah teler. Belum lagi mencuri ayam yang merugikan orang lain.

“Maksud Ita?”

“Aku ndak jadi dengan Rendi.”

Dua ekor laron bermain-main di bohlam putih. Di jalan kelengangan seperti hantu yang merayap. Ita berdiri. Segera beranjak ke dalam kamar kecil di kedai itu. Tinggallah Rendi bermenung di luar dengan rasa kesal bertubi-tubi.