Peneliti
1 minggu lalu · 62 view · 6 min baca menit baca · Gaya Hidup 16678_84293.jpg

Jawa Adalah Kunci

Bagi kami orang Sulawesi, terutama aku yang Sulselbar, melakukan perjalanan ke Jawa itu adalah sesuatu. Sesuatu yang membuat kami (aku dan mereka) excited

Bagaimana tidak excited, bagi aku pribadi, ke Jawa itu akan banyak program asyik bin seru yang akan kujalani. Program ini akan mengubah pola pikir dan pola hidup atau gaya hidupku. Mulai dari acara seminar nasional & lokakarya yang akan aku ikuti, bertemu dengan sanak keluarga, sampai jadwal beli buku yang telah banyak dipesan oleh teman-temanku sejak awal.

Nah, kemarin tanggal 01 Juli, aku dan Ammoz pun terbang dari Makassar ke Jawa. Penerbangan kami ini dengan tujuan kota Jogjakarta dengan harga tiket pesawat Sriwijaya kurang lebih Rp1.300.000,.

Tiba di kota Jogja yang lagi adem, karena pergerakan massa udara dari Australia, di mana udaranya dingin dan kering karena angin monsoon Australia. Kami pun menginap di kos keluargaku yang lagi kuliah S2 di sini.

Jogja Hari Pertama 

Aku bangun jam delapan pagi karena semalam begadang sampai jam satu malam. Walau semalam kami sudah tiba di kos keluargaku jam sembilan malam, namun, karena kami keasyikan mengobrol dengan sepupu, jadi aku terlambat bangunnya.

Pagi itu, kami sarapan bubur ayam Bandung dengan tempat makanan yang (agak) ramah lingkungan, bukan plastik kemasan dan streofoam. Walau plastik juga, tapi ini bisa dipakai lebih lama dan berulang. 

Kemudian, setelah mandi dan bersiap, kami pun memesan Grab menuju terminal. Grab dengan tujuan terminal Jombor dari jalan Gejayan sekitar Rp26.000. Pagi itu, Jogja ramai sekali. Setahun tidak ke Jogja, aku pasti selalu kaget dengan perubahannya. 


Di terminal Jombor, Ammoz lebih memilih naik bus non-AC karena dia lebih suka angin jendela dan dihibur oleh pengamen. Kami membayar harga tiket bus Jogja - Magelang Rp15.000 per orang.

Setibanya kami di terminal Magelang, kami pun mencari angkot menuju daerah Kauman. Dengan menggunakan angkot biru bernomor 10, kami hanya membayar empat ribu per orang. 

Kami turun tepatnya di masjid besar Magelang. Di sana ada adik perempuanku yang menikah dengan orang Magelang. 

Di samping masjid, ada banyak makanan yang dijual seperti bakso dan ronde. Kami sempat membeli ronde, minuman hangat berbahan jahe yang ditambahkan kacang, dan tepung masak yang dibentuk bulat-bulat. Rasa ronde ini manis, hangat, dan lembut.

Tiba di rumah adikku, kami disambut hangat oleh adikku, suaminya, dan ponakan laki-lakiku yang baru berumur dua tahun. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Salatiga, tujuanku selanjutnya, kami menyempatkan dulu berbelanja kerudung di sebuah toko perbelanjaan pernak-pernik dan pakaian.

Gara-gara asyik di tempat perbelanjaan tadi, mungkin karena lama melihat barang-barang yang murah meriah dan bisa dibeli eceran, kami baru selesai berbelanja sekitar jam 16.35. Kami terlambat ke terminal Tidar ke Magelang.

Untungnya masih ada bus jurusan Kopeng-Salatiga. Namun, mereka tidak sampai di Salatiga, hanya sampai di Kopeng. Akhirnya, kami memutuskan dari terminal Tidar Magelang ke Salatiga dengan menggunakan Grab. Grab dengan harga kurang seribu rupiah, dua ratus ribu rupiah, Rp199.000.

Kami tiba di Yayasan Bina Darma, tempat penginapan yang telah disediakan oleh panitia Semiloka Agama-agama (SAA). Di sana, kami disambut oleh panitia dan langsung diajak makan malam karena jam sudah menunjukkan jam 19.15. 

Kami mendapatkan kamar bernomor G dalam sebuah penginapan yang dibangun rapi. Ada rumah di atas bukit dan di bawah bukit. Pepohonan yang rindang dan tanaman bunga yang banyak membuat pemandangan sangat asri, indah, dan segar. Apalagi, Salatiga termasuk kota yang sejuk.

Dalam kamar, kami akan tidur berempat. Aku, Ammoz, seorang anak UIN Suka yang terlihat tenang yang smart, dan seorang gadis manis yang ceria dari Luwuk, Banggai.

Bertemu dengan orang baru itu sangat menyenangkan. Kami sharing tentang makalah yang akan kami presentasikan di kelas atau panel nanti. Aku di kelas Gender dengan penelitian Siwaliparri, yaitu konsep kesetaraan gender dalam keluarga Mandar, namun konsep ini kurang sesuai dengan falfasahnya karena harus berhadapan dengan budaya patriarki. 

Anak UIN yang aktif itu dengan kegiatan Interfaith-nya akan hadir di kelas panel penyiaran agama. Si gadis ceria dengan cerita keunikan daerahnya dan sukaduka membuat paper penyiarannya juga. 

Dan Ammoz bercerita tentang dengan kisahnya ketika mengikuti sekolah harmoni, sekolah keberagaman. Sayang, itu tidak ditulisnya, sehingga dia hadir sebagai peserta bukan pemakalah.


Salatiga Hari Kedua

Kami di Salatiga dalam rangka seminar nasional dan lokakarya agama-agama ke- PGI 35 (Persatuan Gereja Indonesia). Pertemuan pertamanya dipusatkan di Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).

Keynote speaker hari itu yang rencananya menghadirkan Menteri Yasonna H. Laoly. Namun, karena sesuatu hal, ia kemudian diwakili oleh Dirjen Jhony Ginting dengan tema paper-nya "Agama dan Warga Negara yang Terpinggirkan pada Kepemimpinan Baru Indonesia".

Kemudian pembicara selanjutnya adalah Prof. Sumanto Al Qurtuby dari King Fahd University of Petroleum and Minerals. Yang 'ceramahnya' tentang penyiaran agama hari ini sangat menarik perhatian. Seperti tulisannya di Facebook yang straight to the point, lucu, agak nyiyir. Tapi nyinyirnya yang membuat kita sadar kalau kita itu harus tetap jadi diri sendiri, Indonesia. 

Pembicara ketiga adalah Prof. Dr. I. Nengah Duija yang serius tapi santai. Ia memberikan ilmunya tentang desa wisata, Bali. 

Ketika masuk magrib, acara seru itu pun selesai. Kami kembali pulang ke penginapan di Yayasan Bina Darma setelah jam tujuh malam. Kami langsung disambut dengan makan malam. 

Walau, malam itu, Ammoz kurang selera memakan makanannya karena rasa makanan Jawa yang kurang cocok dengan lidah Sulawesi-nya. Rasa manis dari makanan yang diberi Gula Jawa (merah) dan juga bumbu dapur semacam kencur dan jahe kurang familiar baginya.

Salatiga Hari Kedua

Hari ini, acara berpusat di Yayasan Bina Darma yang punya aula dan kelas-kelas yang menampung banyak orang. Pagi itu, masih dilanjutkan dengan pembicaraan tentang Agama dan Nasionalisme virtual yang dibawakan oleh Pdt. Dr. Izak YM. Lattu. Dan diskusi tentang Agama, Generasi Milennial dan Pendidikan Kebangsaan oleh Dr. Hatib Abdul Kadir.

Kemudian diskusi tentang kajian Gender dan Difabel yang menghadirkan ibu yang semangat, Alimatul Qibtiyah dan ibu yang lembut Dra. Arshinta.

Kemudian, setelah jam satu siang, dilanjutkan dengan kelas-kelas panel dengan subtema: Agama, Negara, & Keadilan Gender; Agama, Negara, & Kaum Disabilitas; Agama, Negara, & Masa Depan Masyarakat Adat Indonesia; Agama & Nasionalisme Virtual; Agama, Generasi Milennial, & Pendidikan Kebangsaan; Kontroversi & Sikap terhadap Penyiaran Agama di Indonesia. 

Aku pun presentasi di kelas gender, berbicara tentang nasib perempuan di kampungku, di Sulawesi Barat sana.

Kelas panel hari itu seru. Aku paling tertarik dengan subtema masyarakat adat, namun bersamaan dengan kelas gender.


Malamnya, setelah makan malam, dilanjutkan dengan diskusi buku, buku Bunga Rampai. Tulisan kami yang jadi paper akan disatukan dan dijadikan buku.

Malam itu, kami banyak melakukan foto bersama, tukaran nomor WA dan berbagi media sosial. Dua sampai tiga malam bersama secara intens membuat kesan yang mendalam.

Salatiga Hari Ketiga

Hari ini adalah hari refleksi. Panitia memberikan kesempatan kepada peserta, pemakalah, tamu undangan, dan lain sebagainya memberikan masukan-masukan yang berarti. Dari refleksi menjadi aksi.

Sebelumnya, penyelenggara telah menyatakan akan membuat rekomendasi dari sini untuk pemerintahan sekarang, apalagi dengan upaya mereka untuk terkoneksi dengan Kementerian HAM.

Ada beberapa orang meminta di acara ini juga dihadirkannya penghayat kepercayaan. Mereka juga membela kepentingan penghayat sebagai agama lokal di tengah gempuran agama impor. Dengan memberikan tempat untuk penghayat kepercayaan di berbagai bidang dengan tetap bisa menjadi "diri sendiri".

Di akhir, penyelenggara mengucapkan terima kasih kepada semua pihak dan tetap punya harapan. Dia juga meminta untuk tetap menjaga semangat nasionalisme, nilai-nilai kebangsaan, apalagi dari kaum milenial sebagai penerus bangsa.

Kami pulang dengan bahagia, membawa harapan untuk Indonesia baru, pada kepemimpinan baru Presiden Joko Widodo, semoga sudah tidak ada lagi yang terpinggirkan di Indonesia. Karena, selama ini, Pakde sudah melakukan banyak kerja nyata.

Kali ini, Jawa memang kunci, kunci pertemuan. Kita bertemu "di tengah", di pulau Jawa. Sebentar lagi, kami akan bergeser ke Jogja. "Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu," kata Katon Bagaskara dalam lagu Jogja

Jogja memang tercipta dari cinta dan rindu. Aku cinta ilmunya, aku rindu bukunya. Ceritanya, ketika di Jogja, kami akan ikut diskusi ilmiah Simbologi Anjing dalam Kebudayaan di UIN Suka dan memborong buku di toko buku yang (masih) murah meriah.

Burung Papua, burung Cenderawasih, cukup sekian dan terima kasih.

Rel kereta api, Timoho, Yk, 050719.

Artikel Terkait