Kalau bulan bisa ngomong
Dia jujur takkan bohong

Kalau cinta sudah melekat
Tahi kucing rasa coklat

Kalau masih ingat dengan lirik lagu di atas, selamat anda berarti sudah sangat tua adalah penikmat lagu-lagu lama atau memang beneran pecinta musik. Tapi, kali ini saya nggak akan ngomongin tentang musik. Apalagi, tentang alat-alat musik. 

Saya bukan musisi, atau toko musik. Lirik lagu di atas tadi merupakan lirik lagu lama yang menceritakan tentang cinta, menggambarkan bahwa cinta meruntuhkan logika. Jadi, cinta itu beda tipis dengan orang sakit jiwa?

Lah, wong tahi kucing bisa-bisanya jadi rasa coklat. Terus kenapa dia mengandaikan kalau bulan bisa ngomong. Saya gak nyangka, kalau sebongkah satelit itu saat kita lagi asik nongkrong sama teman-teman, terus dia teriak "ngopi apa! Diem-diem bae ah lu pada!". Bujug, yang ada bukannya kagum malah seram. Ya, tapi memang lirik lagu cinta kadang tidak ada yang logis.

Seperti pepatah yang pernah saya dengar; di hadapan kekasih, logikamu runtuh sekali.

Jadi begini, berbicara tentang cinta dan tetek bengeknya nggak akan pernah habis. Mau dikuliti sampai mana pun, cinta ya cinta. Kadang merepotkan, bahkan sampai lahir istilah kekinian bernama bucin, singkatan dari dua kalimat; Budak cinta. 

Kini populer karena banyak kawula muda yang so sweet nggak ketulungan. Disuruh datang jam 12:00 malam bawa makanan, loh dia nurut. Ini namanya bukan manis lagi, tapi bablas jadi toxic. Memang pacarmu itu sedang hamil atau gimana? Nyari makan malah tengah malam. Ramudeng

Kali ini saya ingin membicarakan tentang cinta bukan tanpa sebab. Kasus tentang cinta, cerita tentang cinta bahwa film tentang cinta mah sebenarnya saya sudah makan banyak asin manis serta pahitnya. 

Masalahnya, kali ini saya melihat lagi kisah percintaan. Nggak jauh-jauh amat, kok. Kali ini saya mengalami (lebih tepatnya bukan mengalami tapi mengamati) dengan teman satu kos sendiri. Abang tingkat saya di kampus, yang sudah sangat senior itu kini kasmaran lagi. Yawlah

Jadi begini, kurang lebih dari sebulan lalu gerak-gerik ia mulai kasmaran lagi dimulai dari sebulan lalu. Mulai dari cara berpakaian saat malam yang sangat rapih, mandi mulai teratur dan wangi parfum yang sangat sesak. Mending kalau parfum itu punya sendiri, boleh minta lagi. Hadeeehhhh

Saya awalnya cukup acuh tak acuh. Biasalah, ada yang lebih penting. Tapi, lama-lama ini orang kok makin pamer. Mulai dengan kode tipis-tipis yang ingin dikecengin begitu, sampai mulai buka cerita yang bahkan tidak ditanya.

Menurut saya pribadi, memang jatuh cinta itu biasa-biasa saja. Akhir-akhir ini bagi saya, ya, cinta itu adalah luapan emosi yang menggebu ketika ada hormon bahagia yang tersalurkan. Perihal rindu, cemburu, bercumbu kata dan hal-hal menye-menye lainnya. Seperti lagu Efek Rumah Kaca, Jatuh Cinta Itu Biasa Saja. 

Tapi, memang agak hipokrit juga kata-kata saya tadi. Kalau saya pribadi pasti juga akan melakukan hal-hal yang sama, yang penuh dengan pergombalan duniawi dan pokoke mesti yang uwuwuwu~

Namun, pembaca budiman yang dirahmati Tuhan yang Maha Cinta, percayalah melihat orang jatuh cinta itu seringkali menyebalkan. Terutama abang tingkat saya ini.

Kisah percintaan dia dari dulu sungguh rumit, dulu sedari masih menjabat sebagai wakil ketua himpunan mahasiswa jurusan dia punya kembang yang ia jatuhi hatinya. Ia membesarkannya dengan kasih sayang (ini orang atau kacang kedelai?), dia besarkan dengan baik-baik dan sampai memiliki skill yang mumpuni. Pokoknya seluruhnya ia berikan, ciaelah. Jatuh cinta kadang begitu besar dampaknya.

Tapi, setelah begitu ia ditikung. Omg, what a poor man.

Untuk kisah cinta yang satu ini saya memang tidak tahu terlalu amat dalam, soalnya masih berstatus mahasiswa baru alias maba. Jadinya, sepotong-potong saja informasi ini. 

Dan, kampretnya orang yang merebut pujaan hatinya ini ternyata lebih asu. Sudah punya pacar, eh kok malah pacaran dengan perempuan cantik nan jelita ini. Dasar Rahwana, pantas saja kau disebut lelaki bajingan. Huhuhu, aku pun ikut sedih.

Baiklah, time passes so quickly. Si perempuan itu kini hendak menikah, dan dia juga sudah ikhlas. Tapi, kadangkala ada saja yang mengungkit kisah-kisah lama itu. Sampai bawa hal-hal yang menyangkut tentang jabatannya di himpunan mahasiswa jurusan. Tolonglah, memangnya dipikir cinta itu investasi?! Halahh. Eh, tunggu dulu. Kayanya saya deh yang suka ngomong begitu--

Oke, lanjut ke kisah selanjutnya.

Setelahnya, dia berlanglang buana dalam percintaan. Biasa, prinsipnya adalah fakir asmara dan bukan pengemis cinta. Yee, bisa aja wa haji. Mulai dari hanya sekadar singgah, sekadar lewat, sampai angkringan zone lalu ada yang terbaru mamang zone

Banyak, pokoknya sampai ke siratal mustakim ada itu ceritanya. Habis jadi novel bisa mungkin, atau bahkan mengalahkan kisah Kale di NKCTHI. Bedanya, dia sofboi dan bukan pakboy. 

Tapi, memang pola yang begitu-begitu saja yang membuat saya prihatin kok jadi buatnya kita sebal-sebal gemes begitu. Dia pernah bilang begini ke saya, mana pakai acara titip pesan segala. Sudah begitu nitipnya lewat kekasih saya. Katanya; bilangin ke dia ya, aku udah bahagia. Wow, sungguh mengejutkan. Biasanya ini orang susah sekali move on

Ealahhh, besoknya dia masih nanyain tentang si perempuan ini. Nulis cerpen tentang dia, membahas kisah romansa dahulu kala dipergoki di angkringan berdua. Ya, gimana gitu~

Satu kata; Kitinya idih bihigii, kik misih ninyi iji indi. Hilihhh.

Kondisinya padahal sedang punya gebetan, kalau aku yang jadi gebetannya pasti aku nangesss. Gusti, loro atiku

Padahal, hari sebelumnya begitu heboh dan histeris mau ke rumah gebetannya. yawlah, nggak ada habisnya kisah cinta yang penuh situasi komedi itu. Jadi begini, jatuh cinta itu boleh tapi mohon secukupnya saja dan ndak usah begitu heboh sampai alam semesta mendengarnya. Ya, tapi kayaknya abang tingkat saya ini dari dulu kisahnya begitu membahana dan terkenal. 

Aneh kan? Makanya tadi di paragraf paling atas saya bilang, bulan aja dianggap bisa ngomong apalagi masalah yang lain.

Jatuh cinta memang ada-ada saja~