Jatuh cinta itu kutukan.

Bagaimana tidak? Jalan hidup mempertemukan saat masing-masing dari kita sudah ada yang memiliki. Kau bahkan sudah berencana untuk menikah. Cupid menjatuhkan aku di hati seorang calon pengantin pria, yang bukan calonku! 

Gila!

Yang lebih gila lagi, aku rela-rela saja mencintaimu, mas. Membiarkan hatiku luruh, menikmati setiap momen bersamamu, lalu tersenyum sendiri mengingat percakapan kita padahal ada orang lain disampingku; orang yang mencintaiku.

Bagaimana tidak disebut kutukan bila kita yang sudah berkomitmen dengan seseorang ini malah asyik menikmati duduk di taman sambil makan es krim cokelat berdua saja? Jelas kutukan namanya bila akhirnya rasa cinta kita ini dicap sebagai sebuah dosa oleh orang lain.

Lho, cinta kok dosa?

Aku tidak pernah minta untuk dipertemukan denganmu, tidak juga pernah ingin jatuh cinta dengan diam-diam. Aku yakin kau pun begitu kan, mas?

Tapi aku dikutuk!

Dan aku menikmatinya!

Salah satu kutukan paling indah ialah ciumanmu. Pelan, lembut, tidak tergesa. Seakan jarum jam pun menahan diri untuk tidak berdetak saat kita berciuman. Jangan tanya bagaimana kabar jantungku, haha. Gemuruh hebat!

Lalu sampailah kita di sini. Titik paling pamungkas dari kutukan ini.

Apalagi kalau bukan perpisahan? Harus menyaksikanmu mengucap ijab adalah kutukan dengan rasa paling neraka bagiku, mas.

Tidak, aku tak akan datang walaupun berbagai cara kau lakukan untuk mengharap kehadiranku. Apa yang kau inginkan untuk kulihat, mas? Kau ingin aku melihat bahwa kau bahagia? Kau ingin aku tahu bahwa bibir yang sempat kukulum itu sekarang tak akan tersentuh lagi olehku? Kau juga ingin ikut mengutukku, mas?! Tidak.

Kutukan ini hanya aku yang bisa mengakhiri. Dan aku memilih mengakhirinya dengan airmata. Untuk yang terakhir kali.


Rekan Penumpuk Dosa

Teruntuk kamu, rekan penumpuk dosaku.

Aku tahu kamu tidak pernah melewatkan satupun tulisanku. Aku tahu kamu selalu membacanya. Kamu memang tidak mau mengakuinya, tapi ya aku tahu begitu saja.

Tak perlu malu, mas.

Akui saja kalau kau rindu.

Walau mulutmu selalu berucap hubungan kita hanya mudharat, tapi ku tahu kau juga menikmati. Siapa lah yang akan menolak perjalanan romantis di bangku kereta yang penuh obrolan riang? Siapa yang tidak menikmati ciuman-ciuman hangat di dalam bioskop?

Mengajakku menonton film di bioskop itu hanyalah alibimu agar bisa memelukku tanpa terlihat orang lain, kan? Yaa walau kita paham Malaikat tetap akan mencatatnya sebagai dosa tapi kita berlagak saja tidak tahu.

Dosa kita bersaing pahitnya dengan Arabica yang kau pesan di kafe itu. Di meja paling sudut yang juga menjadi saksi mulut gombalmu. .

Sudah tiga minggu kau menghilang. Tak bisa dihubungi dan tidak mau menghubungi sama sekali. Sepi. Sepi sekali. Tak lagi bisa aku dengar suaramu. Tak lagi bisa kunikmati manis senyum berhias gigi gingsulmu. Aku tak akan menyalahkanmu, hubungan yang tanpa faedah ini memang harus diakhiri. Hubungan yang penuh dosa. Tapi, mas, aku mau tanya. Tidakkah kau rindu bibirku? Liukan lidahku? Rangkulan lenganku? Juga genggaman jemariku?

Aku rindu.

Pepatah yang berbunyi "Rumput tetangga selalu lebih hijau" itu kuartikan menjadi "Calon suami orang selalu lebih gurih untuk dinikmati".

Kau tertawa saat dulu mendengar ucapanku itu lalu membalas dengan : "Calon istri orang juga manis-manis ngeri".

Apa dengan kepergianmu kau mengira dosa kita akan berhenti? Salah, mas.

Dengan saling membayangkan dan tetap saling merindu kita berdua justru semakin menumpuk dosa-dosa manis itu di timbangan akhirat kita.

Ah, tapi sekali lagi, siapa yang bisa menolak?


Cermin

Apa kabar, Cermin?

Sehatkah kau disana?  Semoga hujan tidak terlalu mengganggu aktifitasmu.

Sedang apa kau, Cermin?

Duduk santai memandangi koleksi unikmu?

Atau sedang bermain gitar menyanyikan lagu-lagu yang dulu sering kita nyanyikan?

Apa kau sudah makan, Cermin?

Kau si penggemar telur dadar dan aku si pencinta telur mata sapi. Telur dadarmu harus diberi irisan cabai rawit dan daun bawang yang melimpah. Telur mata sapiku haruslah bertabur banyak sekali lada. Lalu kita akan sama-sama memakannya dengan kecap manis.

Kau masih suka minum teh, Cermin?

Teh kental aroma vanilla dengan bongkahan gula batu di dalamnya. Kau tidak terlalu suka yang manis, takut diabetes. Jadi gula batu adalah pilihan yang pas.

Aku? Oh, aku lebih suka minum kopi. Bukan kopi mahal seperti yang ada di kafe-kafe itu, melainkan kopi sachet. Dan bukan pula kopi hitam. Lambungku tak kuat. Aku suka moka. Selalu moka.

Kau masih memakai kalung dengan batu kesayanganku itukah, Cermin?

Batu yang berwarna-warni bila terkena cahaya. Kau bilang batu itu mahal. Aku tak paham. Yang aku paham batu itu spesial. Kesayangan kita berdua. Kau bahkan membuat sendiri tempat liontinnya. Yang tidak terlalu feminin tapi juga tak terlalu tomboi. Agar kita berdua bisa bergantaian memakainya.

Apa kau tau, Cermin?

Aku masih memakai cincin pemberianmu. Batu kristal yang kau cari susah payah, yang kau tahu adalah batu impianku. Warna batunya sedikit memudar. Mungkin karena aku kurang paham bagaimana merawatnya. Aku hanya bisa memakai dan berharap cincin ini tidak rusak sampai saat kita bertemu nanti.

Semoga kau sama, Cermin.

Sama-sama sedang rindu malam ini. Sama-sama sedang merapal banyak sekali doa agar kita bisa segera bertemu.

Tetaplah menyenangkan.

Berhentilah menyebalkan.