2 bulan lalu · 96 view · 6 menit baca · Lingkungan 16512_87766.jpg
Dok. Pribadi

Jasa Sewa Buku dan Upaya Menaikkan Guna 'Kumpulan Kertas'

Bagaimana para pemilik buku bisa berkontribusi untuk menyelamatkan lingkungan?

Tiap kali ada bazar buku di kota tempat saya tinggal, Surabaya, saya selalu semangat. Saya membayangkan akan bertemu buku-buku dengan harga miring. Harga diskon. Seratus ribu, misalnya, bisa bawa 6-8 buku. Penggila buku mana yang tak tahan godaannya?

Namun, begitu buku-buku itu sampai di kamar saya, semangat saya meredup. Saya memandang lagi tumpukan buku yang saya beli di bazar-bazar sebelumnya. Keceriaan saya pun pelan-pelan surut. Buku-buku ini tak lagi memancarkan pesonanya. Ibarat kata, “Saya sudah memilikimu. Kapan pun saya baca, bisa kan? Tidak harus sekarang.”

Begitu terus yang terjadi. Saya sampai mengira saya mengidap tsundoku, istilah untuk menggambarkan keadaan memiliki banyak bahan bacaan, tapi tidak membacanya. Ya, memang tidak parah betul. Saya tetap membaca buku-buku yang saya beli, tapi dengan kecepatan seekor siput. Sungguh lambat. Sebab, saya menikmati proses membaca. Kata per kata saya kunyah. Kalimat per kalimat saya telan sambil menjalin susunan informasi itu untuk saya bingkai di otak saya.

Tidak dalam rangka membela diri, tapi apa yang saya lakukan dengan kalap membeli buku ini, tak lain bentuk investasi jangka panjang saya. Buku-buku dalam waktu dekat akan saya boyong ke kampung halaman saya, Lombok. Saya akan membuka penyewaan buku di rumah. Biar siapa pun yang senang baca, bisa menikmati koleksi bacaan saya.

Mengapa saya sewakan? Mengapa tidak dibikin perpustakaan atau taman baca saja? Ini terkait dengan apa yang sedang saya lakukan, mendirikan usaha persewaan buku.

Ketika satu persatu lapak sewa buku gulung tikar, saya justru nekad menjalankan usaha ini. Saya memulainya lewat platform Instagram. Saya bikin akun bernama @aku.kau.buku dan memajang buku-buku saya di sana. Siapa pun boleh sewa asalkan memfotokan KTP-nya sebagai jaminan. Calon penyewa tinggal memilih buku, saya akan mengirimkan ke alamat mereka.

Dan, memang saya menyasar anak-anak muda, khususnya pelajar. Kaum milenial yang lebih banyak main media sosial tapi masih suka baca. Saya menawarkan alternatif untuk membaca buku fisik. “Kalau berat beli buku, sewa saja.”

Rupanya, tawaran saya ini ditanggapi oleh banyak pihak. Tidak hanya pelajar SMA dan mahasiswa, tapi juga pekerja swasta hingga ibu-ibu rumah tangga. Alasan yang mereka berikan pun cukup beragam. Saya pikir perlu membeberkannya di sini.

Ada seorang pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar. Sebut saja namanya Rini. Ia berusia di atas 35 tahun. Tahu saya menyewakan buku, ia langsung menyewa beberapa judul. Alasannya yang membuat saya cukup terkejut adalah ia sedang tertarik mendalami gaya hidup minimalisme. 


Daripada membeli buku yang akan menumpuk di kamar, mending sewa. Baca selesai, sewa lainnya. Ia hanya butuh informasi di dalamnya, tidak fisiknya. Tidak perlu ada ‘tumpukan’ buku di kamarnya yang menghabiskan ruang.

Alasan ini tentu menampar saya yang suka beli buku. Namun, ini sekaligus memantik saya berpikir, “Saya kan beli buku. Agar tak menumpuk di kamar, saya beri kesempatan pada buku-buku ini untuk beredar. Dan, itu lewat penyewaan. 

Mengapa sewa? Mengapa diberi tarif dan durasi waktu? Biar orang lebih menghargai isi buku. Tarif membuat orang berpikir untuk menghargai buku yang disewa. Tenggat waktu membuat orang terdorong untuk membaca buku segera.”

Lantas, tanpa diduga, beberapa teman, termasuk follower @aku.kau.buku pun tertarik untuk menitipkan bukunya lewat saya untuk disewakan. Mereka menyayangkan koleksi bukunya yang telah dibaca, hanya menumpuk di rumah. 

Aha! Saya pikir ini bisa memecahkan masalah pula. Ada orang-orang seperti saya yang suka beli buku. Di sisi lain ada orang-orang yang suka baca buku, tapi kadang bingung menemukan buku yang bagus sekaligus keberatan dengan harga buku yang mahal.

Lantas saya teringat pada istilah sharing economy yang marak belakangan ini. Istilah ini muncul sebagai antitesis dari owning economy. Apa lagi kalau bukan Go-Jek, Grab, dan AirBnB adalah ‘biang kerok’ di balik munculnya istilah ini. 

Perusahaan penyedia jasa mobilisasi dan akomodasi ini muncul bukan karena mereka yang memiliki asetnya, yakni berupa kendaraan (Go-Jek dan Grab) dan properti akomodasi (AirBnB). Mereka hanya penyedia teknologi dan sistemnya. Warga masyarakat yang jadi pemilik kendaraan dan propertinya.  

Dan, saya baru menyadari, bahwa usaha penyewaan buku saya ini membuka kesempatan untuk sharing economy. Meski belum saya tangani secara serius, tapi saya sudah mendapatkan gambaran umumnya seperti ini.

Para pemilik buku yang tinggal di berbagai kota bisa mengajukan daftar bukunya yang bersedia disewakan. Saya tinggal bikin promosinya di akun @aku.kau.buku bahwa buku ini tersedia di kota A dan calon penyewa di kota A bisa menghubungi si pemilik buku. Transaksinya melalui @aku.kau.buku, tapi bukunya dikirim ke penyewa dan akan dikembalikan lagi ke pemilik bukuny via kurir khusus atau layanan pengiriman lainnya.

Saya membayangkan, para pencinta buku seperti saya yang punya kegelisahan karena koleksi yang menumpuk serta ingin menyebarkan semangat baca, bisa menyalurkan buku-bukunya dengan sistem sewa ini. Laiknya hukum ekonomi, ada penawaran ada permintaan. Ada yang menawarkan koleksi buku yang disewakan, ada yang butuh bacaan.

Apa dampak lanjutan dari ini? Orang-orang, khususnya kolektor buku yang juga memiliki semangat menularkan baca, tidak lagi khawatir dengan buku mereka yang menumpuk. Tidak lagi stres karena tingkat keterikatan yang tinggi terhadap buku. 


Mereka bisa mengendorkan ikatan itu sejenak dengan menyewakannya. Koleksi mereka bisa dinikmati oleh pihak lain. Isinya bisa bermanfaat bagi penyewa. Tentu dengan imbalan uang jasa yang dipatok jauh di bawah harga buku.

Akibatnya, buku-buku yang mungkin bagi pihak industri tertentu cuma menjadi komoditas, barang ekonomi semata, bisa tetap memainkan peran fungsional dan estetikanya sebagai penyedia oase intelektual sekaligus hiburan bagi jiwa. Buku-buku yang awalnya cuma dihargai biaya cetaknya saja – sehingga harganya bisa sangat murah di bazar – kembali menemukan muruahnya, yakni sebagai media pengikat ilmu.

Saya pun sebagai pembaca buku tidak lagi melihat buku-buku koleksi saya sebagai medium yang berisi ratusan kertas bertinta. Sebuah buku bukan sekadar kumpulan kertas tak bermakna. 

Sebab, lewat rantai distribusi yang saya tawarkan melalui platform media sosial, ‘kumpulan kertas’ itu bisa menemukan kembali para pembacanya, orang-orang yang menghargai keberadaannya. Sehingga ini bisa meminimalisasi ‘kumpulan kertas’ yang ujung-ujungnya cuma dianggap beban dan nilainya berkurang.  

Bagaimana saya bisa memiliki optimisme bahwa ini bisa menjadi sebuah geliat gerakan yang baik, tak hanya dari sisi ekonomi tapi juga lingkungan?  

Pertama, literasi sedang naik daun di Indonesia. Di mana-mana literasi digaungkan, bahkan telah menjadi gerakan nasional. Artinya, semangat membaca masyarakat Indonesia kian digelorakan. Kita tahu bahwa distribusi bahan bacaan masih menjadi kendala di negara kepulauan yang luas ini. 

Tentu, selain toko buku (luring maupun daring), taman bacaan, hingga perpustakaan, butuh pula alternatif lain, yakni penyewaan buku (baik luring maupun daring). Entah bukunya dalam format fisik maupun digital, itu tak masalah. Yang pasti, orang makin bergairah membaca.

Kedua, masyarakat yang membaca (buku), tentu akan semakin pintar. Mereka tidak sekadar berwawasan, tapi juga bisa mengembangkan kebijksanaan dalam hidup. Salah satunya, lebih bijak berperilaku terhadap lingkungan. Minimal dimulai dari rumahnya masing-masing. Tentu, mereka butuh pedoman untuk itu. 

Di era kekinian, mudah kiranya mereka menemukan sumber-sumber bacaan untuk memandu mereka bertindak lebih bijak dalam hal itu, contohnya: Seni Hidup Minimalis (Francine Jay), Goodbye, Things: Hidup Minimalis Ala Orang Jepang (Fumio Sasaki), atau The Life-Changing Magic of Tidying Up (Marie Kondo). Ya, ketiga buku tersebut adalah contoh panduan praktis yang bisa diterapkan oleh pembacanya untuk menata ruang atau lingkungan mereka.

Ketiga, penyewaan buku yang saya lakukan memang masih memiliki kekurangan, yakni saya mengedarkan plastik untuk membungkus buku tersebut. Namun, solusinya sudah saya pikirkan, yaitu akan membungkus buku-buku ini dengan kain. Nanti, pembungkus kain ini harus dikembalikan lagi oleh si penyewa. Artinya, kami tak lagi saling mengirimi ‘sampah baru’ alias plastik. Dan, saya pikir ini bisa jadi nilai tambah untuk usaha sewa buku ini.  

Ya, inovasi apa pun itu, bisa dipastikan selalu memberikan reaksi baru. Tiap solusi akan menghadirkan masalah baru. Sebagaimana halnya tiap pertanyaan yang ada jawabannya sekaligus memunculkan pertanyaan baru.


Namun, daripada bertopang dagu dan tak melakukan apa pun, mengapa tidak dimulai saja. Dari hal kecil semacam ini, saya yakin akan menggulirkan diskusi sekaligus solusi. Bukankah dunia bekerja dengan cara seperti ini, berupa siklus?

Jadi, apalagi yang kita tunggu? Kita hanya butuh bertindak. Aktivitas membaca yang notabene lekat dengan kertas, harusnya membuat kita bisa kreatif memecahkan masalah, mengusulkan solusi. Dan, inilah solusi yang bisa saya tawarkan sebagai pencinta buku.

Ada yang satu barisan dengan saya?

Artikel Terkait