Evolusi terjadi dalam semua tingkatan. Muncul sebagai satu organisme tunggal, kemudian berkembang selama jutaan tahun, menjadi makhluk yang berjalan di atas kaki hingga dengan berani menyebut diri sebagai Manusia Bijaksana (Homo Sapiens).

Perubahan terjadi secara individu, maupun sebagai kumpulan individu yang kemudian kita kenal sebagai masyarakat. Masyarakat berkembang, sejak pemburu pengumpul yang menghabiskan jutaan tahun lamanya berburu hewan liar, makan tumbuhan liar hingga memutuskan untuk bercocok tanam, memelihara hewan ternak dan membuat senjata. Kreativitas manusia terus berkembang, seiring perkembangan volume otak.

Bagaimana kita melihat evolusi dalam masyarakat manusia ini? Apakah evolusi masyarakat yang akhirnya membangun peradaban-peradaban besar adalah hasil kreasi manusia sendiri? Bagaimana denga keruntuhan-keruntuhan mereka? Bagaimana kita memandang perbedaan-perbedaan dalam masyarakat dan peradaban berbeda di dunia?

Jaredian adalah sebuah istilah baru yang saya gunakan dengan merujuk kepada pandangan, teori dan gagasan-gagasan Jared Diamond, seorang peneliti burung, fisiologi dan biologi evolusioner yang telah menghabiskan waktu kurang lebih 30 tahun untuk mengamati perkembangan pada berbagai masyarakat tradisional dan modern, serta masyarakat masa lampau yang telah punah maupun masyarakat kita hari ini yang sedang menatap ancaman-ancaman serupa. Saya menyebut diri sendiri sebagai seorang Jaredian, yang bisa diartikan sebagai pengikut pandangan Jared Diamond.

Pandangan Jaredian bertumpu pada beberapa teori besar, meliputi Geographic Determnism, Collapse (teori keruntuhan) dan Creeping Normality (kenormalan merayap). Kesemuanya meliputi satu kondisi geografis yang membentuk arah sejarah dan proses evolusi masyarakat manusia.

Secara ringkas, determinisme geografis atau bisa kita sebut sebagai “takdir lingkungan” merujuk kepada suatu kondisi di mana keadaan lingkungan atau geografis yang meliputi lokasi, iklim, distribusi sumber daya serta topografi adalah faktor yang mempengaruhi banyak fenomena dan karakteristik manusia seperti kebiasaan, kepercayaan, ekonomi, genetik, pendapatan, harapan hidup, kesehatan, kecerdasan dan hal-hal lainnya.

Dengan menggunakan Jaredian sebagai sebuah perangkat teori dalam memahami masyarakat manusia, kita dapat melihat sebab terjadinya perbedaan dalam perkembangan setiap peradaban atau masyarakat.

Sejarah umat manusia bermula di Afrika jutaan tahun lalu, pertanian muncul pertama kali di daerah-daerah seperti Mesir, Mesopotamia, Irak dan daerah bulan sabit subur lainnya. Tulisan muncul pertama kali dari wilayah yang sama. Tetap, perkembangan teknologi dan inovasi dalam sejarah perkembangan masyarakat manusia justru berhasil di tempat-tempat seperti Eropa dan Amerika.

Ini disebut sebagai sebuah “keberuntungan lingkungan”. Kondisi lingkungan yang tepat, iklim yang mendukung sumber daya yang berkualitas, mempengaruhi kondisi biologis manusia, genetik, volume otak dan mendorong kreativitas dan inovasi. Orang-orang dari benua Asia dan Afrika dengan kecerdasan di atas rata-rata, akan lebih berkembang dan mungkin menemukan inovasi baru jika didukung oleh lingkungan yang tepat.

Kemajuan dan keberhasilan dalam inovasi atau membuat sebuah penemuan, pada dasarnya ditentukan oleh lingkungan atau kondisi geografis. Eric Weiner, jurnalis yang menulis buku “The Geographic of Genius” secara tidak sadar juga mendukung teori Jaredian.

Di beberapa tempat lahir orang-orang jenius, penemu-penemu ambisius dan orang-orang dengan ambisi memecahkan rahasia evolusi, justru berhasil menjadi ilmuwan karena dukungan lingkungan; kondisi geografis, fasilitas serta sokongan dana, kondisi iklim yang nyaman dan tempat-tempat yang memungkinkan mereka memiliki waktu lebih lama untuk merenung atau melakukan eksperimen.

Sejarah dengan demikian berjalan dalam garis lurus. Tidak ada sejarah alternatif. Evolusi bekerja melalui seleksi dan mutasi, begitu pula evolusi dalam masyarakat.

Ada masyarakat yang tumbuh berkembang dan bertahan hingga hari ini, tetapi tidak sedikit yang telah runtuh dan punah. Itu bagian dari proses seleksi dan mutasi, sebuah takdir atau determinisme. Tumbuh berkembang sebuah peradaban ditentukan oleh kondisi lingkungan mereka sendiri, tidak ada alternatif.

Jika kriteria geografis memungkinkan, sebuah peradaban akan maju. Tapi sebaliknya, kondisi geografis tidak mendukung, iklim buruk, mempengaruhi jumlah sumber daya dan bahan-bahan alam yang bisa dikonsumsi untuk mendukung populasi dan komunitas yang lebih besar.

Dalam persoalan ini, Jaredian menyediakan satu set faktor lingkungan penyebab mengapa suatu masyarakat atau peradaban runtuh (collapse). Faktor-faktor tersebut meliputi kerusakan lingkungan, perubahan iklim, tetangga yang bermusuhan, mitra dagang serta kemampuan menyelesaikan persoalan.

Keruntuhan yang diteliti oleh Jared Diamond, tidak hanya pada masyarakat tradisional yang hidup ratusan hingga ribuan tahun lalu, tapi juga meliputi peradaban masa kini yang menghadapi persoalan lingkungan serupa dan menghadapi ancaman keruntuhan yang sama, seperti Australia dan Cina.

Keruntuhan mungkin akan terjadi dalam kurun waktu paling cepat 50 tahun atau setidaknya 100 tahun dari sekarang. Tapi dalam perspektif Jaredian, pada saat keruntuhan itu terjadi segala sesuatu sudah terlambat. Ini disebabkan suatu kondisi sebelum menghadapi keruntuhan yang disebut sebagai “kenormalan merayap” (creeping normality).

Secara singkat, kenormalan merayap merupakan sebuah kondisi perubahan mendasar pada lingkungan dan masyarakat yang terjadi secara perlahan, bertahun-tahun dan dalam skala yang kecil, sehingga ketika kondisi beralih dari “normal” menjadi “tidak normal” dianggap sebagai sesuatu yang biasa, sehingga standar “normal” berubah dari tahun ke tahun.

Seperti perubahan suhu bumi yang meningkat dari tahun ke tahun, yang terjadi perlahan-lahan, sehingga dianggap masih normal dan standar normal bergeser secara perlahan.

Masyarakat di mana pun telah melalui seluruh fase perubahan, proses evolusi yang terus terjadi. Tidak ada yang bisa menghindari. Kehiduapn kita bergantung pada lingkungan, sebaliknya lingkungan juga bergantung kepada manusia. Hubungan ini menyebabkan kerusakan lingkungan tidak dapat dihindari, kepunahan juga demikian.

Manusia mengeksploitasi lingkungan untuk memenuhi kebutuhan populasi, di satu sisi proses itu secara bertahap merusak lingkungan. Dan ketika itu terjadi, keruntuhan tinggal menghitung hari. Takdir kita ditentukan oleh lingkungan, dan takdir lingkungan tergantung bagiamana kita memperlakukan hutan, sungai, gunung dan isi bumi lainnya. Jaredian, telah mempersiapkan seperangkat teori yang memungkinkan kita meramalkan bumi kita di masa mendatang.