2 tahun lalu · 490 view · 4 menit baca · Agama us_navy_091110-n-7032b-062_medical_staff_at_naval_medical_center_san_diego_are_nearly_outnumbered_in_their_operating_room_by_casualties_during_a_command-wide_mass_casualty_drill.jpg
Tidakkah kamu teringat Tuhan di kekacauan ini?

Jarak Terdekat antara Manusia dan Tuhan Ada di Rumah Sakit

Mau tidak mau, kita perlahan disodorkan sebuah kenyataan bahwa nilai tempat ibadah semakin rendah di mata manusia, dalam kasus terdekat ya di Indonesia. Bisa saja kita mulai dari hal-hal yang sederhana dan bersifat mundane—duniawi—seperti misalnya kecenderungan untuk mengabaikan panggilan ibadah dan enggan menyempatkan waktu untuk beribadah langsung ke tempat ibadah dengan alasan kejar-kejaran dengan urusan duniawi, bak kata Silampukau; maghrib mengambang lirih dan terabaikan, Tuhan kalah di riuh jalan. Itu bicara sederhananya, tapi kita tahu kenyataan di lapangan jauh lebih buruk; tempat ibadah bukan saja diabaikan, tapi dibakar, dilecehkan, dan diperlakukan seperti—atau bahkan lebih buruk dari—tempat pelacuran.

Tempat ibadah seakan bukan lagi menjadi tanda sakral hubungan manusia dan Tuhan, atau sebuah tempat suci yang menjadi simbol keberadaan Tuhan, atau malah tempat tinggal Tuhan sendiri. Tempat ibadah nampaknya malah menjadi lambang adanya jembatan putus di antara sesama manusia, dan celakanya, penyebabnya seakan adalah Tuhan sendiri.

Tempat ibadah membuat orang-orang yang merasa tidak bertuhankan apa yang disembah di tempat itu terintimidasi. Ketika seseorang dari sebuah tempat ibadah merasa terganggu dengan tempat ibadah lainnya, maka tempat itupun akan dilalap habis dengan orang tersebut dan konco-konconya. Tempat ibadah bukan lagi tempat manusia mencari ketenangan, melainkan tempat saling adu ego, kekuatan, dan kebenaran relatif.

Tetapi pada dasarnya manusia memang memerlukan tempat ibadah. Tempat dimana jarak mereka dengan Sang Pencipta adalah yang terdekat. Manusia memerlukan harapan, dan berharap kepada sesama manusia yang sama-sama perlu harapan kadang berujung kehampaan.

Lebih baik berharap kepada sebuah keberadaan yang kita yakini Maha Kuasa, Maha Mendengar, dan akan mengabulkan segala permintaan dan harapan kita—syarat dan ketentuan berlaku—diluar apakah benar keberadaan itu ada atau tidak. Keyakinan itu sendiri malah kadang menghasilkan kekuatan yang besar dan membuat kita bisa terus bangkit.

Nah, tempat ibadah seharusnya menjadi representasi fisik dari keyakinan itu. Representasi dari kelemahan manusia dan kebutuhannya akan sebuah keberadaan Maha tempat ia selalu bisa menggantungkan harapan, bukan sebaliknya; representasi kekuatan dan keinginan untuk menonjol.

Lalu di manakah tempatnya lagi, jika tempat ibadah sudah tak lagi merepresentasikan apa yang seharusnya? Masih adakah tempat dimana manusia bisa meletakkan dirinya sebagai makhluk yang lemah, dan memerlukan bantuan yang mungkin tidak bisa diberikan oleh manusia lainnya? Jawabannya; ya, ada. Tempat itu bernama rumah sakit.

Kita bisa mengambil contoh mulai dari Unit Gawat Darurat. Bayangkan keadaan UGD yang begitu kacau balau dengan orang-orang yang berada dalam masa kritis. Bayangkan di depan kita ada seorang wanita tua yang kelihatannya—maaf—cacat mental dan terkena kecelakaan. Ia selalu berusaha untuk keluar dan meronta tidak ingin dirawat. Ada juga orang-orang yang terkena kecelakaan lalu lintas dengan luka di sekujur tubuhnya dan mungkin ditambah dengan tulang-tulang yang patah. Pokoknya, mengerikan!

Lalu kita berpindah ke ruang rawat inap. Disinilah yang menyisakan kesan yang lebih dalam. Kita akan menemukan bahwa di antara hal-hal yang seharusnya lebih ditakuti oleh manusia dari kematian adalah ketidakberdayaan, dan diikuti dengan kesakitan. Di samping kita adalah seseorang yang sudah lanjut usianya, dan sepertinya mengidap penyakit menahun yang menimbulkan bercak-bercak luka di kakinya. Setiap saat kita mendengar ia mengerang kesakitan, semakin hati kita teriris.

Di sinilah, kita akan menemukan “senjata” yang setidaknya bisa meminimalisir efek ketidakberdayaan; doa-doa, dzikir, dan ibadah, terutama yang sunnah. Ibadah-ibadah yang tidak sempat atau malah mungkin enggan kita lakukan lantaran kesibukan kita sebagai manusia utuh.

Hanya ketika kita melihat dengan mata kepala sendiri ketidakberdayaan dan segala kesibukan duniawi yang ditarik paksa, kita bisa lebih dekat kepada Tuhan. Apalagi dengan erangan-erangan kesakitan dan pemandangan orang-orang sakit di sekitar kita. Ya kalau saya sih, secara psikologis, tentu akan dengan sendirinya mendekat kepada Tuhan lantaran ingin berdoa supaya nasib saya tidak sekeras mereka.

Perlahan, kita mulai menyimpulkan dua hal. Pertama, bagaimana rumah sakit sebenarnya lebih merepresentasikan ketidakberdayaan manusia. Sedangkan ketidakberdayaan adalah sebab utama mengapa manusia memerlukan keberadaan yang lebih tinggi darinya, dalam hal ini Tuhan.

Ada dokter, perawat, spesialis, dan lain sebagainya yang bisa memulihkanmu dengan semampu mereka, namun apakah mereka bisa membuatmu seperti sedia kala dengan satu jentikan jari? Pada akhirnya mereka juga mau tidak mau tetap harus membawamu ke masa-masa ketidakberdayaan yang disebut rawat inap jika apa yang kena kepadamu mereka anggap parah.

Bahkan mereka pun tidak akan bisa sepenuhnya membantumu melewati masa-masa itu. Kamu tetap perlu bersandar, mengisi ketidakberdayaanmu dengan hal-hal ringan yang dulu kamu lupakan ketika kamu berdaya, yaitu ibadah. Karena sesungguhnya Tuhan semakin mau menerima ibadah orang-orang yang dalam ketidakberdayaannya bersandar kepada-Nya.

Lalu, kedua. Nampaknya kita bisa mengatakan bahwa untuk menyatukan manusia dalam keyakinannya yang berbeda-beda akan Tuhan, ketidakberdayaan memainkan peran penting. Seorang Muslim, Kristen, dan Yahudi dirawat dalam satu ruang rawat inap yang sama.

Kemungkinan terjadi pertikaian besar di antara ketiganya sangat kecil, jauh lebih kecil daripada ketika mereka berada di tempat ibadah masing-masing yang ketiganya saling berderet, karena mereka sama-sama tidak memiliki kekuatan untuk bertikai, dan hanya memiliki keinginan yaitu untuk bersandar kepada Tuhan menurut keyakinan masing-masing.

Lah kalau begitu, masa sih, untuk bisa saling mengerti, orang-orang dari keyakinan yang berbeda harus dibuat tidak berdaya dulu? Lalu, apakah tempat ibadah sebaiknya disatukan saja dengan rumah sakit? Bagaimana pula nantinya itu? Akan kemanakah tempat-tempat ibadah yang seharusnya menjadi tempat kita bertemu Tuhan?

Entahlah. Satu hal yang bisa saya katakan; jarak terdekat antara manusia dan Tuhan adalah ketidakberdayaan. Dan sekarang, letak jarak tersebut nampaknya lebih kuat berada di rumah sakit, ketimbang tempat ibadah.

Artikel Terkait