Social distancing sudah mulai dikampanyekan, namun, sekali lagi, kita selalu lupa pada jarak eksistensial. Wabah corona ini tidak mengenal siapa pun kita, baik yang kaya maupun yang miskin. Namun, apakah wabah ini takut dengan orang-orang yang berhati-hati?

Faktanya tidak. Orang yang berhati-hati pun bisa kena. Itu pun melalui dari orang yang tak berhati-hati yang mungkin diduga terkena penyakit wabah ini. 

Kejadian yang tak diduga seperti ini mengingatkan kita ide yang menjadi andalan Sartre bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Jadi sebesar apa pun usaha kita memikirkannya, baik itu kita ungkapkan melalui ucapan maupun tulisan, itu hanya bersifat kemungkinan saja, dan jika kita tetap terus memikirkannya, nanti rasa mual pun muncul.

Ini bukti bahwa kita ada dan hidup. Dan juga bukti bahwa perhatian kita pada orang lain bisa berakhir sia-sia saja. Pembelian masker dan hand sanitizer yang berlebihan, bahkan baju APD pun bebas diperjualbelikan, tanda bahwa eksistensi kita bukanlah bersifat sosial. Egoisme kita selalu menjadi tolak ukur dalam melihat segala sesuatu.

Kita mungkin masih diingatkan beberapa kejadian yang buram dan sekaligus pahit sewaktu yang lalu. Perlakuan jenazah yang terjangkit covid19 sangat terlihat rasis. 

Rasisme bukanlah berhati-hati tapi suatu sikap buruk terhadap orang, bahkan yang sudah mati pun. Jaga jarak bukan berarti membenci. Kebodohan dibaluti oleh kebohongan akan berlipat ganda dari pada kebodohan untuk mencari tahu.

Seorang keluarga mungkin akan mengatakan jangan suudzon (berprasangka) untuk mematahkan teori jaga jarak. Sikap tanpa berhati-hati seperti itu bisa membawakan kita pada malapetaka. 

Namun, ini menandakan bahwa jarak eksistensi begitu kental pada kehidupan kita. Ini mungkin menunjukkan bagaimana nasib para kaum pekerja yang tak mampu. Bagaimana mereka bertahan di tengah-tengah situasi wabah seperti ini.

Semenjak kepastian dalam bereksistensi hanya bersifat subjektif, para pekerja harus mengetahui bahwa kerja di luar rumah akan sangat rentan. Kita mungkin takut kalau kita berinteraksi pada yang terjangkit, namun, kita juga takut hasil kerja payah kita pun berakhir sia-sia. 

Kekeringan keberadaan ini mengingatkan kita pada mitos sisifus. Sia-sia atau tidak, harus ada seseorang yang berimajinasi bahwa kita akan selalu baik-baik saja.

Teori keabsurdan pada eksistensi ini mengingatkan kita pada Albert Camus. Imajinasi menjadi tempat hiburan bagi mereka yang terpaksa keluar mencari penghidupan.

Di dalam imajinasi tersebut mungkin kita akan melihat semangat aturan akan totalitas di kedua belah pihak, pemerintah dan rakyat. Tidak sedikit dari kita yang mungkin ingin melakukan lockdown, tapi bagaimana nasib para pekerja yang tak mampu?

Kita berharap ada semacam aturan yang totalitas tentang kepedulian. Kita ingin kedua belah pihak itu akur. Namun, itu hanya imajinasi saja, kan?

Yang lemah akan selalu diprioritaskan dalam aturan dan bukan yang diuntungkan oleh jabatan. Namun, kembali lagi, bukankah itu hanya imajinasi saja? Jika imajinasi tidak bisa mengobati kita. Maka, teori-teori Nietzsche pun bisa menjadi jawabannya.

Dalam bukunya, beyond good and evil, Nietzsche mengatakan bahwa salah satu persyaratan kehidupan itu adalah kepalsuan. Tidak sedikit orang yang tak percaya pada orang-orang yang berkuasa saat ini. 

Itulah sebabnya mengapa terjadi lockdown setempat. Karena ketika kita menyadari bahwa kepalsuan merupakan persyaratan dari kehidupan, kita pun berhenti berharap.

Hal-hal yang patut kita ingat dulu dan sekarang merupakan hal yang penting. Mungkin dari sebagian dari kita pernah menghujat bahwa mereka yang hidup di Wuhan benar-benar tidak manusiawi, membiarkan dan bahkan, hanya menonton saja orang-orang berjatuhan dikarenakan covid19 ini. Namun, ketika itu menimpa kita, kita justru melakukan hal yang sama.

Baru-baru ini pun kita dikritik oleh seorang pakar asal Australia bahwa kita terlambat dalam mengawasi perbatasan untuk menghentikan wabah ini. Alih-alih tawadhu (sikap rendah hati), kita malah menyombongkan diri bahkan kita bebal atas kritikan tersebut. Baiknya jika dikritisi, ini bisa menjadi bahan pelajaran dan bukan sebaliknya.

Social distancing tidak akan pernah bekerja tanpa adanya pengertian mendalam tentang jarak eksistensial atau keberadaan antar sesama manusia. Bahkan social distancing akan memberikan rasa mual bagi mereka yang putus asa atas perhatiannya yang tak dibalas. 

Imajinasi membuat kita terhibur tapi tidak memberikan solusi. Menghapus harapan maupun tak mempercayai sebuah kepalsuan merupakan langkah yang tepat membasmi kebohongan yang mematikan, yang membunuh banyak jiwa manusia. Ini bukan persoalan kebodohan atau pun kehati-hatian kita, melainkan bagaimana menjadi manusia di situasi mewabah ini.

Menjadi manusia membutuhkan pengorbanan, bukan persaingan tentang siapa benar dan siapa salah. Kita selalu berfokus pada hal itu, berdebat tanpa ujung yang memastikan sebuah solusi. 

Keberadaan bukan hanya persoalan pikirian, tapi juga kebiasaan. Apa gunanya pendidikan yang lebih tinggi jika tidak bisa menjadi sebuah kebiasaan?