Pekerja
1 tahun lalu · 58 view · 3 menit baca · Puisi 94325_53422.jpg

Januari, Hujan Sehari-hari

Hai apa kabar?

Lama tak menyapa.. apa yang berubah darimu setelah usia bertambah satu?

Tahun-tahun belakangan hujan lebih sering datang daripada kemarau. Setiap rintiknya berisi hal-hal sendu mendayu, yang membawa pesan kangen seseorang. Tak selalu panjang dan berbelit-belit, bisa simpel saja misalnya seperti... "Dan ketika jatuh sayang padamu adalah sebuah dosa, aku ingin mengubahnya menjadi doa. Serupa Ia pada pesta di Kana."

Malam sudah cukup larut saat aku menulis ini. Hujan deras. Angin seperti ingin kecemasan dilibas. Menahan suka ada ditempatnya. Dan tak perlu susah-susah mencari, kutemukan bantal yang beraroma kau. Lipatan selimut sehangatmu. Jejak kecupan di bibir cangkir bening bergaris merah. 

Ah, sudahlah, kau pasti lelah. Sebelum terpejam, dengarkan hujan..."Aku menunggu pelukan yang tertunda di suatu senja, lalu merapikan rindu yang berserakan di tanah pengharapan." 

Mohon jangan sembunyi, lagi ~ 

*

Pulang

Seorang laki-laki berjalan resah. Sepanjang perjalanan ia meracau, kadang diam menunduk, kadang tergelak menertawai diri sendiri, kadang menangis di pelukan lengannya sendiri. Ada apa dengan perjalanannya, jika arti rumah adalah tatapan seorang perempuan yang jauh di seberang.
~
Di sebuah kota yang membeku sebab musim dingin kali ini lebih lama dari biasanya. Seorang perempuan menatàp jalanan dari jendela lantai lima kantornya. Salju dimana-mana. Dingin menusuk tulang. Sambil merapatkan jaket dan memasukkan kedua tangannya ke saku, diingatnya lagi pertemuan sederhana suatu sore, tigapuluh menit sebelum masuk studio lima sebuah gedung film. 

Laki-laki jangkung bermata murung. Yang jika menatapnya dalam-dalam, bening coklat retinanya akan menceritakan sekian kisah. Timbunan lelah memenuhi lingkar matanya pun pundaknya yang sarat sepi yang menyakiti. Terlalu redup dan nyaris padam. Satu yang menyala di dirinya, harap. Entah pada siapa.. seringnya ia sembunyikan di kaku garis senyumnya.

Bertahun-tahun setelahnya hidup membawa perempuan itu pergi menjauh, sejauh-jauhnya untuk lupa. Lupa akan pelukan dalam diam sepanjang film diputar. Genggaman yang seolah menjadi janji untuk saling menunggu. Menunggu kembali pulang dalam kedalaman rindu masing-masing. Membangun apa-apa yang tak sekedar suka. 

*

Kalau mau bahagia itu seharusnya begini, seharusnya begitu, bla bla bla..

Ora kabeh-kabeh ning urip iki kudu seharusnya, apa maneh mung menurutmu ~

Begitulah, memilih menjadi bahagia itu memulai. Memulai dari hal kecil untuk menciptakan bahagia, seperti membayangkan senyum samwan misalnya. Bukan hal-hal yang diharuskan, sebab begini atau begitu itu relatif. Sebab isi kepala juga berbeda meski sama-sama bernama otak.

Jika standar bahagiamu terlalu tinggi ya jangan lupa siapkan pengaman. Suatu waktu ndilalah jatuh kamu nggak kesakitan. Kalopun sakit nggak sampai nginep di rumah sakit. Hari gini opname itu bikin bangkrut, mana diinfus-infus gitu kan sakit. Tapi lebih sakit ditinggal pergi pas sayang-sayangnya sih, kata tetangga sebelah.

Dan hari ini saya menemukan banyak kebahagiaan dari hal-hal kecil yang pas. Pas bangun tidur masih bisa membuka mata dengan sempurna, nggak dijangkiti belekan yang mengganggu penglihatan dan penampilan. Pas bangun paru-paru terasa lega, jadi bisa bebas bernapas tanpa membayar, gratis tanpa cicilan apalagi denda.

Pas kerja masih jeli membaca dan mencari-cari berita dengan cepat. Pas haus masih tersedia kopi, teh celup, air panas dan gula. Pas mau mandi air melimpah di bak mandi. Pas butuh sarapan ada warung murah dan enak deket kantor. Dan pas-pas yang lain yang membuat urusan-urusan hidup terasa lebih menyenangkan.

Tanpa kecuali urusan hati, biar kata samwan yang itu bukan siapa-siapa, dan mungkin nggak akan pernah jadi siapa-siap tapi entah mengapa mengingatnya saja saya sudah bahagia. Entah mengapa. Tapi yasudahlah nikmati saja segala tetek bengek kehidupan yang seringnya bikin baper dunia ini.

Eh lima menit sebelum tulisan ini selesai ditulis, aku bahagia, lagi. Si samwan itu mengirim pesan, boleh kita berbincang sebelum malam membawamu ke dunia mimpi?

Ah semesta, suka ini memanjang jauh menembus tingkap kaca.

---------

Kanak-kanakku sangat menyenangkan meski tak kenal android atau apalah itu jenis telepon pintar lainnya. Tak ada game online, yang sampai sekarang pun aku tak menyukainya. Entah mengapa.

Kanak-kanak adalah bahagia yang sebenar-benarnya. Tak perlu berpura-pura. Tak ada beban. Tak ada gengsi. Tak butuh privasi.

Dalam ingatanku, boneka panda, boneka kain buatan sendiri, ular tangga, petak umpet, perangko-perangkoan dari kertas yang dilubangi dengan peniti, uang-uangan dari bungkus permen, bekelan, buku-buku dongeng, Bobo, Tintin adalah surga.

Sementara baper dan mata berkaca-kaca terjadi ketika bapakku bercerita tentang masa kecilnya, juga kisah Ratu Gandari yang sedih dengan kematian putera-putranya dan merasa cemas dengan Duryodana, putera satu-satunya yang masih bertahan hidup dalam peperangan. Namun akhirnya di hari kedelapan belas perang Bharatayuddha ia kalah karena pahanya dipukul dengan gada oleh  Bima.

Dan pada segala keriangan kanak-kanak itu, aku rindu.

Tuhan, boleh kuulang sekali lagi masa itu?

Artikel Terkait