Editor Buku
1 minggu lalu · 31 view · 7 menit baca · Cerpen 26103_55857.jpg
unsplash.com/@melindapack

Janji Setia

Entah ini pertengkaran kami yang ke berapa. Aku sudah tak mampu menghitungnya dengan jemari. Sepertinya siang inilah puncak dari ketidakakuran kami. Ganasnya terik matahari menggenapi adegan yang tengah kami lakoni. Situasi ini diperlengkap lagi dengan kipas angin di rumah kami yang rusak lebih dari seminggu yang lalu.

Aku duduk di kursi kayu berwarna coklat mengilat berbahan kayu jati sembari menatap meja beralas kaca riben kehitaman dengan tatapan kosong. Pikiranku seperti benang kusut. Sementara di seberang sana, suamiku duduk dengan tatapan penuh harap. Dia memang masih berharap tetap hidup bersama denganku. Namun kuabaikan tatapannya. Aku kembali menatap meja tanpa makna.

Sekelebat ide muncul. Dan tanpa kusaring lagi, langsung saja kutuangkan melalui deretan kata. "Aku ingin pergi!"

Tanpa jeda, Tian membalas, "Tidak, Citra. Aku saja yang pergi!"

Tian langsung membuktikan ucapannya. Dia bangkit, melangkah menuju kamar. Tak lama kemudian, dia terlihat sudah rapi, mengenakan kaos polo putih dengan celana jeans hitam. Di punggungnya menempel tas yang sudah biasa dia gendong saat bepergian. Tangan kanannya memegangi gagang koper berukuran sedang.

Tian mendekatiku. Jarak kami terbentang hanya sekira satu meter. Aku masih duduk, berusaha menyembunyikan keterkejutanku akan keputusan Tian. Dalam hati masih bertanya, benarkah dia akan pergi? Sementara Tian berdiri memandangiku dengan tatapan tajam.

"Aku berharap perpisahan ini hanya berlangsung sementara waktu. Seperti janji kita, kita akan tetap bersama. Selamanya. Janji kita 3 tahun yang lalu di tepian derasnya Air Terjun Pakuda. Sekarang aku pergi dulu. Selamat tinggal. Jaga dirimu baik-baik."

Tian benar-benar pergi. Aku tak mau peduli, dia pergi ke mana. Sekilas kupandangi punggungnya yang tertutup tas gendong. Langkah kakinya amat pelan. Seakan-akan dia berharap ada yang menahan seperti di film-film. Ah, tidak. Ini realitas. Siapa yang memedulikannya... Aku hanya memandangi kepergiannya. Namun punggung itu tak lama hilang setelah dia sendiri yang menutup pintu.

Ruangan yang sunyi terpecah oleh suara panggilan masuk dari smartphone yang tersimpan di kamar. Aku setengah berlari untuk mengambilnya. Kalau Tian yang menelepon, sudah kupastikan tidak akan kuangkat. Namun dugaanku salah.

"Kapan kalian resmi bercerai?" tanya Randu dari seberang.

"Aku tidak tahu. Dia tidak berminat menandatangani surat cerai," jawabku tak bersemangat.

"Kamu harus bisa memaksa dia agar mau menandatangani!" Suaranya meninggi. Aku merasa terdesak. Sungguh aku tak menyukai desakannya.

"Aku sudah coba. Dia bersikeras tidak mau," jawabku tegas. Kucoba tahan rasa sebalku.

"Lha, terus bagaimana nasib cinta kita. Kapan kita bisa menikah?" nada suaranya makin menyebalkan.

"Dengar, jangan tanyakan hal itu padaku. Aku tidak bisa mengendalikan keadaan ini. Lagi pula kenapa kamu tak bisa bersabar. Asal kamu tahu, seandainya aku resmi berpisah dengan Tian, kamu tak bisa langsung menikahiku. Aku harus menunggu masa idah selesai. Barulah setelah itu aku boleh menikah."

"Kamu tak usah ikut aturan itu. Buat apa? Waktu akan makin lebih lama lagi."

Ucapannya itu membuatku makin geram. Memangnya aku ini wanita gampangan.

"Tolong dengar dulu, Randu. Sekarang aku punya pemikiran lain. Belum jadi istri saja, kamu sudah berlaku seperti itu padaku. Memaksa, menuntut, dan harus buru-buru.Aku tidak suka. Asal kamu tahu, aku bukan perempuan yang mau diperlakukan semena-semena. Dengar, mulai saat ini, jangan hubungi aku lagi!"

Sambungan terputus. Randu tidak menyerah. Dia menghubungiku lagi. Aku tak mau mengangkatnya lagi. Biar suara panggilannya tidak mengganggu telinga, kusetting hape dengan mode silent. Dari belasan panggilan, dalam waktu cepat sudah berubah menjadi puluhan panggilan. Istimewannya, panggilan itu dari orang yang sama. Kulempar hapeku ke kasur. Kujauhkan dariku. Kubaringkan tubuhku yang lelah. Jiwaku juga lelah. Selanjutnya aku tak ingat apa-apa. Kesadaranku hilang, berganti tidur panjang.

*

Aku ingin membersihkan diri. Namun tiba-tiba kakiku terasa sangat lemah. Aku tak bisa melangkah. Perutku sakit. Badanku panas dingin. Aku tak bisa diam begini saja. Di rumah ini tidak ada siapa-siapa yang dapat kumintai bantuan. Setelah kupaksakan, akhirnya aku mampu berdiri, dengan otot-otot kaki yang bergeletar. Nyeri. Setelah beberapa langkah, kakiku tak kuat menahan berat tubuhku. Aku pun terjatuh. Tak mampu bangkit lagi.

Terpaksa akhirnya aku menghubungi adikku. Pastinya setelah menghubungi, mulut ember Sofie akan menguak semuanya sehingga keluargaku jadi tahu kondisi rumah tanggaku dengan Tian. Tapi mau bagaimana lagi?

Setelah terhubung, aku meminta adikku, Sofie untuk segera datang ke rumah. Setengah jam kemudian, Sofie datang. Untung saja selepas Tian pergi, pintu itu belum terkunci. Sofie masuk tanpa harus kubukakan pintu. Ketika Sofie masuk kamar, dia mendapatiku tengah terduduk lemah di lantai.

"Ya Tuhan," lirih Sofie, "Kenapa kakak bisa begini? Kak Tian ke mana?"

Aku tak membalas. Sofie segera membimbingku menuju kasur.

"Badan kakak panas banget. Untuk sementara aku kompres ya."

Dengan telaten, Sofie mengambil mengangkut baskom almunium berukuran sedang yang sudah terisi air panas. Setelah siap, dia menaruh handuk kecil yang sudah dibasahi di keningku. Hangat rasanya.

"Kak, kita ke rumah sakit aja ya..."

"Ter-se-rah ka-mu..." suaraku terputus-putus dengan nada parau.

*

Saat kubuka mata, yang tampak pertama kali adalah wajah seorang lelaki. Terlihat kabur. Namun tak berapa lama, menjadi blur hilang, berganti warna dan suasana yang jelas. Tian tersenyum. Senyuman yang terkesan tulus.

"Cepat sembuh, Citra." ucapnya singkat.

Di ruangan yang serba putih itu, hanya ada aku dan Tian. Ke manakah Sofie? Jangan-jangan dia sengaja menyetting ini semua.

Waktu terasa berjalan amat lambat. Kaku. Tak ada bahan untuk diperbincangkan. Aku hanya berdoa semoga Sofie segera masuk ruangan ini.

Doaku akhirnya terkabul, Sofie masuk ruangan.

"Dik, hapeku kamu taruh di mana?"

Sofie merogoh sesuatu dari tasnya. "Nih, Kak!" ujarnya sambil menyodorkan benda yang beberapa hari ini tak pernah kupegang.

"Jangan terlalu fokus ke gadget dulu, Kak. Kakak kena tifus. Harus banyak istirahat dulu."

"Iya, iya... adik sayang, cerewetmu itu lho, warisan mama banget ih."

Sofie tersipu. Aku membuka hape, sudah lebih dari seratus panggilan, belum termasuk pesan-pesan chat WA dari Randu. Persetan. Malas berhubungan dengan lelaki posesif itu. Memangnya dia siapa? Tanpa membacanya, segera kubersihkan pesan WA darinya. Habisin memory hape saja, pikirku. Aku pun segera memblokir nomornya.

"Aku pamit dulu," ucap Tian.

Kutaruh hapeku di atas nakas yang berada di samping ranjang pembaringanku. Baru kusadari, ternyata selain aneka buah-buahan di situ ada beberapa kuntum mawar merah yang masih segar. Aku baru menyadari aromanya setelah kulihat warnanya. Tanpa berpikir panjang lagi, aku berkesimpulan pasti itu dari Tian. Mawar memang bunga favoritku.

"Dik, bisa tolong ambilkan mawar itu?"

Sofie menurut. Ketika menyerahkan, dia berkata, "Cieee... dapat hadiah bunga kesukaan. Kalau aku suka tulip, kapan ya, aku bakal dapat tulip?"

Aku tertawa, lalu berkata, "Nanti bakal ada pangeran yang menghampirimu. Nggak hanya bawa tulip, tapi juga bawa kuda putih."

Aku mengamati lima kuntum mawar merah itu. Aku teringat sesuatu. Ya Tuhan, tanggal 5 Mei, itulah tanggal sakral antara aku dan Tian.

Kuambil sepucuk kertas yang terselip di antara kuntum-kuntum mawar itu.

Sekadar reminder. Hari ini kita pernah berjanji dalam satu ikatan suci. Lima hari kemudian, kita berjanji di tepian derasnya air. Aku ingin bernostalgia tentang hari yang indah itu. Di hari dan detik yang sama, aku tunggu kamu di sana.

Kedua sudut mataku meleleh. Sofie mendekatiku tanpa bertanya. Aku memeluknya dengan tangis yang tak mampu kutahan lagi. Memoriku kembali ke masa tiga tahun yang lalu, saat aku dan Tian berada di Air Terjun Pakuda.

*

Aku sudah tiba di sebuah talang air tertua di kawasan Desa Sadawangi. Sebuah talang air warisan penjajah Belanda yang sangat membantu warga desa dalam mengairi sawahnya. Aku duduk sejenak. Pakaian yang kukenakan persis seperti tiga tahun yang lalu, gaun muslimah biru tosca dan kerudung pashmina berwarna sama.

Dari talang air itu aku menyusuri jalan setapak di bawah sinar mentari pagi. Tak ada pemandangan lain yang kulewati kecuali hutan, hamparan pesawahan, dan petak-petak sawah yang tersusun berundak mirip pemandangan di Ubud, Bali. Rute yang kulalui terkadang datar, dan lebih banyak menanjak. Apalagi sebentar lagi tiba di lokasi yang kutuju, jalan makin menanjak. Supaya cepat sampai, inginnya naik kendaraan, namun tak ada jalur untuk kendaraan.

Akhirnya aku sampai di Air Terjun Pakuda. Suara airnya amat nyaring. Air sedang berlimpah. Air dari curug ini mengalir ke Sungai Citerus. Mitos setempat kerap menyebutkan Curug dan Sungai yang dihuni ular piton raksasa bergigi mustika. Dengan mitos itu, dahulu orang-orang desa enggan datang ke sini, karena takut ketemu ular raksasa. Namun mitos ini tak pernah terbukti. Kini air terjun ini menjadi objek wisata, baik lokal maupun mancangera. Kondisinya yang masih alami ini membuat air terjun ini dijuluki oleh salah satu media nasional sebagai air terjun yang masih perawan.

Akhirnya aku tiba. Suasananya sedikit berubah dari 3 tahun yang lalu. Tak jauh dari air terjun itu, kini ada sebuah bangunan berbahan bambu yang cocok digunakan sebagai tempat lesehan. Di sanalah kutemukan Tian. Dia pun mengenakan kemeja flanel paduan warna biru dan hitam dan celana jeans hitam seperti tiga tahun yang lalu. Saat aku menghampirinya, Tian langsung bangkit dan meraih tanganku. Langkahnya membimbingku menuju ke tepi genangan di bawah air terjun.

Di tepian derasnya air yang berjatuhan dari tingkatan air terjun pertama dan kedua, suara gemuruh dan uap air yang menggenapi panorama di sekitarnya, kami berdiri saling menatap.

"Dulu aku berjanji akan selalu menjagamu. Kini aku berjanji, cintaku selamanya mengalir hanya padamu," ucapnya lantang karena harus bertempur dengan gemuruh air.

"Aku berjanji, takkan berpaling ke lain hati. Aku akan tetap setia, menjadi istri terbaik kebangganmu di dunia, juga di surga," ucapku lantang dengan hati yang bergemuruh.

Keterangan: Masa idah: Masa menunggu, tidak diperkenankan menikah setelah bercerai.