Arsiparis
2 tahun lalu · 176 view · 2 min baca menit baca · Cerpen 54250.jpg
Foto: https://pixabay.com/

Janji Penulis Muda

Tak tik tak tok. Tak tik tak tok. Nyaring terdengar bunyi mesin yang ditekan Gagah. Dalam kamarnya yang sempit ukuran dua kali tiga meter persegi, bunyi mesin ketik itu terdengar sangat berisik. Di sela-sela  ia menulis tersebut, kadang-kadang ia menghisap rokoknya dalam sekali sembari ia hembuskan  tanpa ada rasa menikmati sama sekali.

Semakin pengaplah udara di kamarnya malam itu. Ia cabut kertas yang baru ia tulisi separuh itu dari mesin ketiknya. Diremasnya kertas itu, setelah sebelumnya ia baca sebentar, kemudian ia buang begitu saja.

Gumpalan-gumpalan kertas berserakan di lantai kamarnya. Buku-buku pun demikian, berserakan tak beraturan. Gagah memungut salah satu buku, membacanya sebentar, dengan malas ia lemparkan kembali ke lantai kamarnya. Kepalanya ia pegang tepat di ubun-ubunnya dan dengan suntuk ia remas rambutnya.

“Yang terakhir ini harus lolos,” Ujarnya sambil meraih kertas baru dan diselipkannya di mesin ketiknya.

Dua bulan yang lalu ia melamar pacarnya, Gayatri, gadis tetangga desanya yang menggemari bacaan sastra. Pada awal perkenalannya dulu Gagah sering menunjukkan puisi maupun cerpen yang ia buat padanya. Bahkan waktu menyatakan cintanya pun Gagah menggunakan puisinya untuk menaklukkan hati Gayatri.

Yang jadi beban hatinya saat ini adalah puisi-puisi maupun cerpen yang pernah ia tunjukkan pada Gayatri belum ada satu pun yang sudah pernah dimuat di media massa. Dan malangnya, Gayatri sering minta bukti untuk melihat karya Gagah dipampang di halaman koran. Hingga saat ini, yang paling membuatnya risau adalah ketika Gayatri minta mas kawin berupa bingkaian karya Gagah yang di muat di koran.

“Pokoknya, kalau mas kawin yang aku minta tidak sanggup kamu penuhi, jangan berharap kamu bisa menjadi suamiku,” ujar Gayatri waktu itu.

Kata-kata tersebut terngiang terus di benak Gagah dari waktu ke waktu.

Entah sudah berapa kali surat penolakan dari redaksi surat kabar yang ia terima, puluhan bahkan sudah ratusan, sejak ia pertama kali mengirimkan karyanya. Ia hampir-hampir putus asa namun keinginan untuk menikah dengan Gayatri membakar terus semangatnya.

Di dalam kamarnya Gagah membaca satu per satu naskah-naskah yang pernah dikirimnya ke surat kabar mulai yang berupa puisi, cerpen dan gurit tak ada yang terlewatkan. Ia meneliti satu per satu. Dalam hatinya seolah ada protes mengapa naskahnya tak pernah dimuat.

Ia meraih buku kumpulan puisi ia bandingkan dengan miliknya, begitu pula cerpen-cerpennya ia bandingkan pula dengan buku kumpulan cerpen dari penulis-penulis ternama. Mulai tanda baca, pola kalimat dan tema ia telisik—dan menurutnya miliknya tak jauh berbeda.

“Memang sulit jadi penulis belum punya nama, tapi aku harus berjuang demi Gayatri,” Sumpahnya malam itu.

Gagah terjaga dari tidurnya dengan terkejut. Pagi itu adiknya, Ines, menggedor pintu kamarnya. Dengan malas ia membuka pintu.

“He, tau nggak, aku masih ngantuk,” jawabnya sambil membuka pintu.

“Mas, ini lho, ada tulisanmu yang dimuat di koran minggu ini,” balas Ines dari luar kamarnya.

“Kebetulan namanya sama, kali!”

“Bukan, Mas, namanya jelas tertulis oleh GAGAH ADITYA LITERA. Siapa lagi yang punya nama itu kalau bukan Mas Gagah,” adiknya meyakinkan.

Dengan serta merta Gagah membuka pintu, ia rebut koran yang dipegang oleh adiknya. Ia pandangi namanya di koran itu, jelas nama itu adalah namanya dan puisi itu adalah karyanya karena di bawah judulnya tertulis untuk GAYATRI KARTIKASARI.

Artikel Terkait