Mengenalmu secara intens lewat dunia maya, telah menyatukan niat untuk bertemu di suatu ketika dan di suatu tempat. Entah kapan dan di mana, belum sempat dipastikan.

Malam itu, malam penutupan tahun, sebuah momen yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, berdua kini sudah berada di tepian Pantai Asam Satu, memandang gulungan ombak yang menukik menghempas hamparan pasir putih yang terbentang indah.  Ujung gelombang pun silih berganti datang menyentuh jemari kaki kita. Ternyata kita telah terbuai menyongsong pagi di tepi pantai itu, dalam deru ombak yang bersahutan menuai angin semilir, menyapu kelopak mata hingga sayup.

"Devi, memandangmu dalam jarak yang sedemikian dekat ini, aku hanya sanggup berucap aku cinta kamu," bisikku lembut.

"Kamu tulus, Eros?" Kamu kembali bertanya.

"Aku tulus, Devi."

"Eros, kamu tahu tidak, apa yang membebani pikiranku saat ini?"

"Aku tau, Devi."

"Apa itu, Eros?"

"Kamu ingin mandi tapi tidak bisa berenang, kan?" selorohku sambil tertawa dan kamu pun tertawa.

Kita akhirnya berkejar-kejaran di tepian pantai itu dalam canda dan tawa, memecah kesunyian malam sampai akhirnya berlabuh di bawah pohon asam yang rindang agak jauh dari batas sentuhan gelombang laut.

"Eros, aku serius kok," jawabmu sambil tangan mengibas pasir pantai yang menempel di betismu, "kamu tau ga sih, apa yg sedang membebaniku?" sambungmu lirih.

Suaramu semakin datar agak serak terdengar ketika mengulangi pertanyaan tadi. Rupanya apa yang sedang kamu alami begitu serius sehingga tak kusangka butiran bening telah menetes di pipimu.

"Sayang, kamu menangis?" tanyaku sambil membelai rambutmu yang diwarnai kemarin sebelum Natal, tetapi kamu hanya bisa menunduk.

"Sebenarnya, apa yang sedang membuatmu sedemikian sedih, Sayang?" Sejenak kamu menghela nafas.

"Eros, sebenarnya bukan kamu yang menemaniku malam ini ..." Kamu terdiam.

"Maksudnya?" tanyaku penasaran.

"Aku ingat tragedi yang menimpa kekasihku tepat dua tahun yang lalu ... hidup Chandra harus berakhir ketika berkonvoi ugal-ugalan di jalanan menunggu saat-saat pergantian tahun seperti ini ...."

"Sudahlah, Sayang ... aku bukan Chandra, kan? Doakan saja semoga ia tenang di sisi-Nya," aku melempar batu kecil ke permukaan laut, "aku ingin agar kamu bisa melupakan Chandra dan semua kenangan sedihmu. Ijinkan kehadiranku untuk meghapus dukamu," sambungku.

"Iya, Eros, aku hanya mengenang peristiwa itu, supaya kamu bisa berjaga-jaga untuk tidak mengulangi peristiwa serupa."

"Devi, syukur atas nikmat yang diterima sepanjang tahun ini, tidak salah juga diwujudkan dengan kegembiraan semacam itu, kan?"

"Tidak Eros, itu tergantung pribadi orang dalam memaknai momen itu. Bagiku, mensyukuri pergantian tahun adalah sebuah ruang untuk mengitrospeksi diri tentang kemurahan Tuhan yang kita nikmati sepanjang tahun ini."

Aku terdiam mendengar jawabanmu itu. Kita pun terhanyut dalam buaian angin pantai nan sejuk, hingga berlarut dalam kemasan temu kangen ala kita berdua. Kamu sadar bahwa kini kekasihmu bukan lagi dia yang tergelincir di malam tutup tahun dua tahun yang lalu, tetapi aku yang kini merangkulmu dalam sendu dan sedang menyatakan tekat untuk tetap setia.

Sementara di jalan raya sana yang berjarak kurang lebih tiga puluhan meter dari tempat kita duduk, sudah terdengar gemuruh sepeda motor berkonvoi diiringi bunyi-bunyian petasan dan kembang api sebagai tanda tahun 2019 telah berganti menjadi tahun 2020, namun tidak sedikit pun aku merasa tertarik untuk masuk dalam rombongan itu oleh hadirmu malam ini di sisiku.

"Eros, kalau aku tidak bersamamu malam ini, kamu ikut dalam rombongan itu kan?"

"Mungkin saja, Devi."

"Jujur dong, Sayang."

"Devi, hadirmu malam ini, telah membuatku lolos dari jebakan ini," kataku sambil berdiri memandang parade sepeda motor yang melintasi jalan di sekitar kita,

"Eros, ternyata ekspresi pada momen-momen seperti ini hanyalah murni hura-hura tanpa makna. Toh, tahun tetap berganti tanpa konvoi," katamu menimpali.

Aku tertunduk, mencoba untuk mengingat apa yang kamu khawatirkan tadi padaku.

"Kamu benar Devi, hura-hura ini hanya mengundang petaka."

"Kini kamu sadarkan?"

Aku hanya menggerakan kelopak mataku sebagai tanda setuju.

"Devi, kita pulang yuk, besok kita sambung ke Danau Asmara," ajakku sambil menarik tanganmu untuk bangkit.

Di jalan raya tampak sudah mulai sepi, tak ada lagi keramaian yang bisa saja menghalangi perjalanan pulang kita, sehingga kita aman sampai di tempat tujuan.

***

Keesokan harinya, di bawah guyuran hujan, kita masih di pinggiran danau Asmara, menikmati keindahannya.

"Devi, kamu belum ingin kembali, ya?"

"Sebentar lagi, Eros."

"Mengapa kamu begitu menikmati tempat ini, Sayang?"

"Eros, menikmati alam adalah kesukaanku sejak dulu."

"Tidak ada keindahan seperti ini di tempatmu, Devi?"

"Jarang kudapati alam seindah ini, Eros," jawabmu santai sambil mengabadikan danau itu dengan kamera ponsel Vivo milikmu, "Eros, mari dekat di sisiku, biar nikmat cinta kita berbalut pesona alam ini," sambungmu renyah.

"Devi, sebelum kita kembali, ingin kukatakan sesuatu padamu."

"Katakanlah, Eros."

"Devi, aku ingin kamu bersamaku di sini, tanpa harus pulang ke tempatmu lagi."

"Ah, Eros, itu diluar rencana kita dong," jawabmu sambil bangkit dari dudukmu "aku harus pulang besok dan akan datang lagi setelah ada kesepakatan final kita ke pelaminan," katamu lagi tanpa beban.

Hujan mulai reda, kita pun kembali dalam suasana batin yang teduh, seteduh alam yang dinaungi awan mengandung hujan. Gerimis datang lagi, kamu memeluk erat pinggangku sepanjang jalan itu, terasa ada getaran yang sulit diartikan dengan lisan tentang keketulusan ini.

***

Pagi itu, hujan angin bersahutan mengkhawatirkan. Aku tampak gelisah dengan keadaan ini, jika kamu harus berlayar pagi ini. Tetapi tidak bagimu, santai saja menyiapkan diri untuk berangkat.

"Eros, aku harus berangkat hari ini."

"Iya sih, cuma aku kuatir dengan cuaca yang tidak bersahabat pagi ini, Sayang?"

"Sebentar lagi sudah membaik, percayalah, Eros."

Sesaat setelah mereda, kupacu sepeda motorku dengan kecepatan pas-pasan berharap lolos dari jebakan hujan, dan ternyata Tuhan dengar doamu. Kita tiba dengan selamat di dermaga.

"Sampai jumpa, Sayang," kalimat itu meluncur indah dari bibir manismu, setelah kecupan mesraku di keningmu.

Jujur, hati ini sebenarnya ingin kamu tinggal di sini saat ini juga. Rasanya aku tak ingin lagi melepasmu. Namun, sebagai seorang lelaki sejati, aku harus menghargai keputusanmu.

Hari ini, kulepas kepergianmu, Sayangku. Bersama harapan akan hadirnya kebahagiaan kita di suatu waktu yang tepat nanti. Aku berjuang untuk itu, karena kamu tahu sedalam apa rasa ini padamu.

Kapal yang kau tumpangi mulai bergerak, menjauh dari dermaga. Kita saling berbalas lambaian tangan.

Kuambil ponsel, lalu kuketik sesuatu di sana ...

[Aku sayang kamu, Devi ...]

Notif berbunyi, pesan masuk darimu,

[Setialah menantiku, Sayang...]


END.