Pegiat Literasi
2 bulan lalu · 239 view · 4 min baca · Puisi 73358_32423.jpg

Jangkar Hati

Geliat waktu melesit cepat
Memanah rindu pada titik waktu
Di penghujung ramadan
Rasa tak terbendung
Melampaui logika
Hingga kutasbihkan do'a ditiap-tiap sujudku

Biji mata sayup mendayu
Lakuku kini bersimbah peluh
Tak jua kuhilangkan rindu
Sebab sketsamu telah hadir
Waktu tidak pernah salah
Masihkah kita sanggup memesrainya?

Tergerai syair-syair mentabirkan rona
Ada spasi menjadi penanda
Ada kekuatan dan kerelaan bertarung
Lantas masihkah kita membantahkannya
Saling menyalahkan rindu
Ataukah kita berpura-pura menutup hati
Hingga bersepakat untuk tidak saling bersitatap lagi.
Ahh bijaklah sayang

Semesta merangkul tanpa pernah mencela
Jalan-jalan sunyi menebarkan wangi
Kucoba memejamkan mata
Rindu semakin merembes
Hingga kupetik petuah sakral
Rindu tak pernah salah mengenal tuannya

Tengadah muhasabah diri
Ramadan akan segera pamit
Pada lafadz-lafadz suci
Berdendang tersemat teduh
Istiqamahlah!
Usapan lembut tepat jatuh di ubun-ubunku

Membatinlah hati
Membatinlah
Hingga kuleburkan Alif dan ba ditarikan nafasku
Tuhan aku adalah hamba
Hidupku dan matiku berada di tanganMU

Bening hati tersemai
Tafakkur dalam keakuan
Keakuan ini kadang melangit
Maafkan aku Tuhan
Aku masih saja meng-Aku

Aku adalah pejalan
Jangkar hati berpetualang
Memesrai lapisan-lapisan peradaban
Teguk sari-sari pengetahuan

Memungut rindu diantara kokohnya jiwa
Aku, dia dan mereka terbalut cinta
Aku, dia dan mereka adalah kita
Kita menyatu dalam bentukan kemanusiaan

Kuatkan hati untuk saling memanusiakan
Sebab jangkar hati  berlabuh menuju ketunggalan hakikih
Titik tumpu semesta alam
Berdamailah
Sebab agama sebagai azimat sakral dunia akhirat


Tarian alam menentramkan jiwa
Manusia berwirid tanpa putus
Demi meneguk wangi magfirah Ilahi
Titian tangga syariat menjadi penopang
Nawaitu tertuju hanya pada Ilahi semata

Pintu taubat telah terbuka
Menangislah diatas tumpukan dosa
Lepaskanlah segala daki-daki hilaf yang melekat ditubuh
Bulan suci ramadan bulan pengampunan
Tafakkurlah biarkanlah kornea mata pecah berbulir-bulir
Bersimbah isak tangis

Resapilah lika-liku realita
Mendidik jiwa bukan sekadar kepatuhan ibadah puasa dan sholat
Namun membumilah laku manusiawi
Teguklah ibadah-ibadah sosial
Sebab agama adalah rahmatan lil alamin

Jiwa agamis tak cukup hanya bersujud
Bertebaranlah
Sebab lambung-lambung kosong Saudara-saudara kita menjerit pilu
Ulurkan tangan penuh talks
Dekaplah dengan cinta
Maka diri akan layak disebut manusia

Beduk sholawat berdendang merdu
Cahaya Muhammad penerang hati
Luaskan jalan menyemai juang
Sebab jalan-jalan sunyi masih penuh ratapan
Hadirkanlah diri sebagai manusia
Sungguh teduh jiwa
Menyeka keluh kesah

Tafakkur di akhir ramadan
Tengadah ke langit
Kupijakkan kaki di tanah pertiwi
Ranting-ranting pohon bertasbih memuji Ilahi

Gemercik hujan membasahi jiwa-jiwa kering
Berlabuhlah tanpa ragu
Mukjizat para malaikat menjadi saksi
Kita bersepakat di atas sajadah
Agama adalah sumbu keselamatan

Masihkah ragu menyelimuti
Sempurnahkanlah istiqamah
Tunaikanlah sedekah
Luruskanlah niat bukan menyalakan api kebencian
Rapuhlah jiwa hidup dalam kebencian
Bahagialah jiwa hidup dalam kedamaian

Tunaikanlah do'a dalam sujud-sujud khusuk
Menghambalah hanya pada Maha Tunggal
Gunung-gunung menghamba
Lautan bertafakkur
Nyanyian makhluk-makhluk melata pun ikut menghamba

Masihkah manusia memelihara ego?
Sudahlah
Tebaslah ego
Tiada guna merawat benci
Tiada guna menyebar perpecahan

Kekayaan akan punah
Kekuasaan lenyap
Metamorfosis waktu bergulir
Hanya tinggal waktu jedah itu tiba
Jazad akan terpisah dengan roh
Menuju perjumpaan hakikih
Kembali kepangkuan Maha Pencipta

Diatas segala pernak pernik dunia
Amalan kebaikan adalah penyeimbang
Lalu tafakkurlah diri
Tafakkurlah jiwa
Tafakkurlah batin

Awal kehidupan akan berakhir
Akhir kehidupan menanti
Sebab perjumpaan akhir sekaligus awal alam baru akan dimulai
Satukan ruh mengecup Kemahatunggalan Sang Pencipta

Menangkup senja
Kuhempaskan cahayaku demi meneguk cahaya Ilahi
Senja masih setia menemani
Dalam ranum do'a
Kulafalkan tanpa nada
Sebab malaikat telah memberi isyarat nada


Oase kehidupan menyuguhkan mutiara
Indahnya tak terbahasakan
Mutiara-mutiara tergerai
Masihkah diri ini mengais dalam ratapan?

Aku belum mengenal diriku
Aku belum memaknai kehambaanku
Aku belum memahami nafasku
Aku belum memahami penglihatanku
Aku belum memahami pendengaranku
Lalu sampai kapan?

Kujedah sembari kubasuh wajah
Air wudhu menjernihkanku
Ayat suci membuka penglihatan dan pendengaranku
Tahajjudku menentramkan jiwa liarku
Dhuhaku mengobati risauku
Wiridku memperkaya batinku

Aku pejalan masih tertatih
Meniti buaian semesta
Menempa jiwa
Berderet huruf memantik energi
Warna alam begitu nampak indah
Namun semua akan sirna
Jika Maha Takdir berkehendak

Syair-syair merdu dibalik surau
Tapak-tapak kaki berbondong-bondong
Memburu berkah Ilahi Robbi
Sujudlah kepala
Sujudlah hati
Agar ego lenyap
Hati keras mencair berubah menjadi kelembutan

Sampaikapan diri tanpa arah
Sampaikapan diri terpenjara kaku
Sampaikapan diri mati dalam kehidupan
Sampaikapan kuasa bertahta hingga lupa bersujud

Lemahku mendayu
Enyahlah
Menjauhlah nafs jahatku
Tuhanku begitu baik
Maha baik
Maha segalanya

Aku bersimpuh mengetuk pintu Ilahi
Tangan-tangan lembut memapahku
Bukan lantas mencaci tanpa nurani
Syukurku pada Ilahi
Hadirkan jiwa-jiwa ikhlas
Menuntun langkahku yang kini masih merangkak
Mengendap diatas sajadah

Cahaya itu seketika merembes kesukma
Kuteguk tuntunan-tuntunan penuh kasih sayang
Dahagaku pelan-pelan terbasahi
Kekuatan do'a menyeruak tabir gelapku
Teranglah seketika
Cahaya pelan-pelan menyatu dalam tubuhku
Serpihan noda berjatuhan
Hingga dzikir menjadi obat

Ketika Alqur'an dalam genggaman
Menggema dayu lantunan ayat suci
Terbesit tanya dalam hati
Saat sajadah tergelar kaku
Alqur'an terlipat tidak terpakai
Ada adab yang tergerus oleh zaman
Akupun kembali jedah dan Bertanya

Hilang do'a tilawah
Kornea pecah seketika merembes
Perjuangan khalifah-khalifah mengumpulkan lembaran-lembaran potongan ayat
Hingga utuh menjadi satu Alqur'an

Ketika Alqur'an tersusun rapih di rak lemari
Ketika kujumpai Alqur'an berderet di laci meja
Kopiah tergantung lusuh berdebu
Sarungpun terganti dengan celana jingkrang
Apatah lagi hanya memakai celana pendek kaos oblong
Lalu dengan santai ngaji lewat aplikasi

Aplikasi bacaan Alqur'an di Hand phone lebih praktis
Ngajinya bisa sambil on line juga
Sholatpun bisa sambil on line
Ahhh candaku berlebih
Namun otak ini kadang tak bisa diam

Langkahku terhenti di daun pintu masjid
Saat mataku terfokus pada salah satu jamaah yang sedang rukuk.
Menekuk kedua tempurung lutut
Lantas memegang Hand phone
Seketika dagu kuusap
Hati ini bersuara pula
Zaman sekarang Alqur'an sudah dalam genggaman


Kala kurindu Ayah
Beliau santun memperlakukan Alqur'an
Mengajarkan adab memesrai kitab suci
Sebab Alqur'an adalah mantra suci yang wajib dikecup dengan sentuhan cinta

Bersuci, wudhu
Lalu memakai sarung dan kopiah bagi laki-laki
Sementara perempuan memakai kerudung
Di lembaran-lembaran ayat berselancar
tajwid.
Gema ayat satu persatu dipermanis
Sentuhan huruf-huruf hijaiyah mengademkan jiwa

Ritus peradaban telah memoles
Era Millenial katanya gaya ngajinya lewat hand phone saja
Ahh diriku tak jua ego memuntahkan kritikan
Sebab akan mudah dicaplok radikal lagi
Apalagi ilmu agamaku masih setipis ujung kuku kelingking
Masih kering dan haus pencerahan

Ahhh sudahlah
Mulutku sekadar berceloteh
Tanpa harus kupaksa gemuruh tepuk tangan
Celoteh kusemai di halaman masjid
Bukan pula kubid'ahkan ngaji pake hand phone
Sebab kita sama sepakat agama tidak untuk memberatkan
Namun otakku entah tiba-tiba liar

Aku hanya ingin memecahkan kerinduan
Saat orang-orang tetua dulu
Adab membaca Alqur'an begitu romantis
Tidak akan menyentuh Alqur'an
Sebelum membasahi wajah dengan air wudhu
Hingga wangi sakral terhirup tanpa sekat
Masih terngiang di daun telingaku
Pesan ayah "nak sudahkah dirimu berwudhu"?

Bundapun mempermanis kembali
"Nak sudahkah dirimu berwudhu?"
Sempurnakan sholat fardhumu
Gerakan hatimu
Ditahajud
dan dhuhamu Nak!"

Raihlah saudaramu
Yang papa
Dengan tangan kasihmu

Tuhanpun
Memelukmu
Dengan
Cinta kasihNya
Tuhanku jangkar hatiku masih butuh dituntun
Demi meneguk cinta Ilahi diatas segala cinta

Artikel Terkait