Saya percaya, salah satu golongan yang paling tangguh mentalnya di Indonesia adalah orang gendut. Mereka hampir selalu menjadi korban buli; tak jarang ada yang mengalaminya sejak Taman Kanak-kanak.

Mungkin karena secara fisik aib bernama gendut itu paling nampak, sehingga bocah usia enam tahun tidak perlu diajari untuk membuli. Mungkin karena proses identifikasinya mudah: baju tidak bisa menutupi gelembung di bagian perut, mata menyipit karena pipi yang mengembang dan mendesak, dan leher semakin menghilang. Bahu tebal juga semakin menambah lebar tubuh ke samping: cocok dijadikan tempat bersembunyi.

Kongklusi dari pengamatan semacam itu adalah sebuah teriakan penuh semangat tak berperasaan: “Gembrot!”

Tengkuk orang gendut selalu luas; ia memungkinkan keringat dan debu kawin lebih likat dan banyak. Kongklusinya bertambah: “Gembrot daki!”

Bayangkan saja seseorang berseru gembrot daki! sambil menarik kerah lehermu kuat-kuat, sampai kancing kemejamu yang paling pucuk putus. Saya pernah melihat kejadian seperti itu, dulu waktu SD, dan ujungnya adalah perkelahian. Tidak adilnya adalah: guru ikut menghukum si gembrot. Padahal si gembrot tidak salah. Padahal si guru juga gembrot.

Meledek orang gendut sepertinya merupakan dorongan alamiah, tidak dipengaruhi oleh tinggi rendahnya pendidikan seseorang. Saya yang gendut setelah menjadi mahasiswa sering merasakan penderitaan itu. Di warung kopi, di hadapan hadirin terhormat, di depan ciwi-ciwi cakep, seorang kawan menjawil perut saya yang tebal sambil berteriak: “Karung kurma, nih!”

Di asrama sebuah organisasi, saya pernah meminta kawan memijati pundak saya. Kebetulan saya sedang tidak enak badan. Nah, pijatan kawan saya itu sama sekali tidak terasa, padahal dia atlet silat berbadan kekar. Saya sindir sampai tiga kali, tapi masih tidak terasa. Akhirnya dengan putus asa dia beranjak pergi, tapi sambil berteriak. “Badak!”

Ya Allah. Diteriaki begitu sama tidaknya enaknya dengan frustasi karena sulit menemukan pakaian berukuran pas. Ada yang pas, jelek. Ada yang bagus, kekecilan. Saya pernah diketawai pegawai Toserba karena pakaian berukuran XXL masih tak muat di badan saya. Dia mencoba menghibur dengan bilang, tiap pabrik standar ukurannya beda-beda Mas. Ya, saya tahu itu, tapi bisakah anda tidak tertawa?

Untungnya, semakin dewasa, orang gendut semakin bisa memaklumi keadaan. Mereka mengerti gendut tidak selalu senada dengan buruk rupa. Sepanjang pandai menyiasati pakaian dan bisa merawat diri, orang gendut justru memancarkan pesonanya. Mereka jadi lebih percaya diri karena kalau dipikir-pikir, orang gendut memang punya senyum yang manis. Pembawaan mereka ceria dan menceriakan.

Mereka juga paham, berteriak gendut! tidaklah membutuhkan kecakapan berpikir, dan tidak serumit berteriak cina!, karena untuk yang terakhir itu seseorang harus punya pengalaman berpikir: mengapa menjadi Cina begitu salah? Membuli orang gendut masih beralasan, misalnya karena mereka makan tempat. Bulian cina!, apa alasan kongkretnya?

Ledekan rasis seperti itu tidak berfaedah sama sekali. Sayangnya, hal-hal yang tak berfaedah itulah sekarang yang sedang diminati. Kita punya pertanyaan penting: mengapa manusia punya kecenderungan kuat untuk membuli? Padahal gendut hanya perkara ukuran tubuh yang sedikit lebih besar dari biasanya, tapi kenapa harus dibuli?

Kalau kita abaikan konteks keakraban dalam bulian, yang tersisa adalah naluri manusia untuk menindak. Bulian tak ubahnya ekspresi manusia yang kecanduan menindak hal-hal di luar dirinya. Dalam proses menindak itu, manusia menentukan eksistensinya dengan cara mendorong jatuh eksistensi pihak lain.

Salah satu bentuk paling sederhana dari menindak mungkin gibah. Dalam gibah, kita bercerita tentang orang/pihak lain sekehendak hati, tanpa informasi akurat. Sepele kelihatannya, tapi informasi yang keliru akan berujung pada tindakan yang keliru. Bisa-bisa, menindak bukan lagi diekspresikan dengan kata-kata, tapi gerak-fisik.

Semua aksi persekusi, kasus kekerasan dan intoleransi, dan konflik-konflik antar umat beragama dan antar keyakinan selalu berawal dari nafsu menindak. Ada satu pihak yang merasa berhak menindak pihak lain. Biasanya itu mayoritas, atau minoritas yang merasa paling benar.

Jangankan orang gendut, alim ulama pun berani dimaki. Sekelas Prof. Quraish Shihab, yang untuk sekedar menanggapi semprotan dan fitnah dari netijen maha benar, beliau menulis buku. Kurang intelek apa? Pada orang terpelajar seperti itu, banyak yang berani memaki. Sangat tidak tahu diri dan tidak sadar goblok, ketika seseorang menimpali buku dengan ocehan.

Bulian gendut menjadi wajar bila kita ingat-ingat lagi, bahkan keamanan jiwa raga dan martabat manusia pun berani kita abaikan. Saya teringat berita tentang dua transpuan yang pada suatu malam diserang puluhan orang. Mereka dikejar, dipukuli, ditelanjangi, dan ditinggalkan setelahnya. Malam pengeroyokan itu bertepatan dengan malam peringatan Maulid Nabi Saw. dan malam peringatan Hari Transgender.

Andaikan sajalah motif pengeroyokan itu adalah “memurnikan manusia dari dosa”; sebuah motif yang begitu mulia. Tapi apakah Nabi Saw. mengajari manusia untuk menindak pendosa dengan cara biadab seperti itu? []