Malam itu saya beserta dua teman berjalan cepat meneluri trek pendakian di komplek Gunung Arjuno-Welirang jalur Tretes Jawa Timur. Sedang penanggalan di jam tangan digital menunjuk angka 16 bulan Agustus. Artinya, besok pagi harus mencapai puncak Welirang sebelum pukul 10 pagi. 

Tentunya untuk memburu target detik-detik proklamasi upacara bendera dalam rangka peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia. Bagi kami yang masih lugu, itu adalah momen sakral yang harus direbut sekuat tenaga dengan mempertaruhkan kecepatan pendakian yang cukup menguras tenaga dan mental.

Durasi pendakian standar ke puncak yang 11-12 jam haruslah disunat jadi 7 jam agar tepat waktu. Keterbatasan kekuatan fisik dan semangat, entah itu untuk narsistik atau patriotik, menjadikan kami kesetanan mencapai target. 

Kami juga takut tidak bisa setor foto untuk diunggah ke media sosial. Sebab dipastikan akan menjadi trending topic untuk beberapa hari ke depannya.

Sudah lazim bahwa Flag raising ceremony yang merupakan kulminasi momentum perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang kerap dilakukan dengan beragam gaya dan cara. Dari yang protokoler hingga yang unik, termasuk upacara di tempat-tempat ekstrem yang kerap memacu adrenalin. 

Salah satu lokasi favorit untuk pelaksanaan upacara tersebut adalah puncak gunung yang luas nan eksotik.

Bagi pendaki gunung, pencinta alam, penempuh rimba serta eksponen kegiatan alam bebas lainnya, melaksanakan upacara bendera  HUT RI di puncak gunung adalah sebuah tradisi  yang dimulai sejak era 60-an.

Selain puncak, lembahan atau di titik koordinat lainnya yang favorit hampir dipastikan sudah laris manis  dibidik oleh panitia. Model selebrasi lainnya semisal pawai bendera terpanjang dan terbesar kerap mengiringi tradisi ini.

Bahkan bazar dan pasar malam juga mulai digelar di atas ketinggian. Seperti yang pernah digelar di area Kokopan komplek Gunung Arjuno-Welirang beberapa tahun lalu. Bahkan ada pameo yang  berbunyi: jangan ngaku pendaki jika belum pernah upacara Agustusan di puncak gunung.

Mereka akan berlomba-lomba memenuhi tanyatangan pameo tersebut. Jangan heran jika tiap Agustusan gunung menjadi ramai gegap gempita.

Kilas balik sejarah upacara dalam artian luas (ritual dinamisme ataupun animisme) itu sendiri sudah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu. Mereka kerap naik gunung atau bahkan ke puncak gunung untuk melakukan ritual (upacara). 

Misal yang signifikan adalah upacara Kasodo yang ada di Gunung Bromo. Upacara ini dipercaya sudah turun temurun dilakukan sejak era zaman Majapahit. Tradisi Upacara Kasodo sudah menjadi ritual wajib di Gunung Bromo.

Kegiatan Agustusan pegiat alam ini bolehlah dikatakan sebagai usaha dan upaya untuk melestarikan budaya pendahulu sebagai masyarakat gunung. Kekuatan moralupacara Agustusan bisa menimbulkan deterrrent effect atau efek gentar. 

Kerumunan massa yang melingkari sebuah bendera ataupun panji merupakan cara sakti dan efisien untuk sebuah propaganda.

Efek gentar juga termasuk dalam pola propaganda massal. Kekuatan moral upacara Agustusan di gunung bagi mereka adalah sebuah persembahan yang instan bagi semangat kebangsaan.

Beberapa gunung bisa digunakan sebagai destinasi pelaksanaan upacara 17 Agustus. Menurut data gunung yang telah dihimpun tahun lalu, Anda bisa melihat dan mengenali gunung apa saja yang favorit untuk Agustusan. 

Namun bisa saja data tersebut berubah karena beberapa di antaranya telah menutup jalur pendakiannya ataupun Anda terhalang kuota pendakian yang telah ditetapkan. Seperti kuota pendakian Gunung Semeru untuk acara Agustusan tahun 2018 lalu sebesar 2.000 pendaki.

Pendaki yang bijak adalah mereka yang mampu mengendalikan diri untuk tidak ikut-ikutan bergabung di kuota gemuk. Sebab bukan hanya puncak-puncak gunung saja yang bisa digunakan untuk menumpahkan rasa patriotisme Kemerdekaan Indonesia. 

Momentum Agustusan di gunung juga merupakan ladang penghasilan yang luar biasa besar bagi tiket masuk gunung-gunung yang terdestinasi. 

Sesekali pihak pengelolah memberikan tiket gratis masuk saat acara Agustusan sebagai apresiasi dunia pendakian yang menjadi salah penyumbang pemasukan kas daerah. Termasuk geliat perekonomian di wilayah kaki gunung akan mendapat limpahan pemasukan.

Dalam euforia yang campur aduk antara nasionalisme-narsisme-instanisme, jalur pendakian yang dituju akan ramai untuk beberapa jam sampai detik-detik proklamasi dibacakan. 

Gunung yang tertuju cenderung menjadi pusat pengumpulan massa yang berbanding sangat terbalik dengan fasilitas pendukungnya. Termasuk urusan MCK di area pos masuk yang akan membuat antrian panjang. Persentase pelanggaran etika juga cenderung meningkat.

Kumpulan massa dan tenda akan membuat tabir unik untuk bersembunyi diam-diam membuang sampah sembarangan. Petugas SAR juga akan banyak meminta bantuan para sukarelawan guna mengimbangi sebaran potensi evakuasi.

Agustusan di gunung pasti akan membawa pada kondisi yang disebut dengan Penmas (Pendakian massal). Ada beberapa hal yang terimbas saat terjadi kondisi massal ini, terutama dampaknya terhadap lingkungan.

Salah satunya adalah peningkatan paparan area injakan terhadap permukaan tumbuh kembang vegetasi makin tinggi. Ini sangat tidak dianjurkan terutama di wilayah yang sedang mengalami masa tumbuh habitat. Atau sedang melakukan masa pemulihan habitat.

Dengan melihat realitas di atas, saatnya untuk turut serta mengurangi peserta massal Agustusan di gunung. Pilihlah lanskap lainnya yang tak kalah menarik sebagai tempat upacara Agustusan.

Salam lestari!