Yayah diperkosa, lalu hamil.

Ibunya memukuli dan  mengusirnya dengan kemarahan tak terperi, tak mau mengerti dia diperkosa.

Orang-orang sekampungnya mencercanya,

“Cuih! Perempuan sundal! Bunting tanpa suami!”

Yayah jadi gila, tak tahan derita yang demikian berat.

Saat mati, Yayah  menjelma menjadi hantu yang gentayangan membalas satu persatu pelaku.

Ini sepenggal cerita film “Dikejar Dosa” produksi 1974. Cerita-cerita dalam film tersebut sepertinya masih relevan dengan kenyataan  hari ini.   

Korban pemerkosaan biasanya takut bercerita karena malu, lalu disalahkan oleh orang-orang, termasuk orang-orang terdekat, dan yang katanya penolong dan “penegak” hukum (Salah sendiri lewat situ malam-malam. Salah sendiri mau diajak ketemu teman medsos), dihakimi masyarakat, akhirnya menanggung depresi mental sendirian atau bunuh diri.

Mungkin juga korban harus “menjadi hantu” dulu untuk bisa mendapatkan keadilan, alias tak akan pernah mendapatkannya selama hidup.

“Lu pakai rok mini, hot pants, terus lu posting pose yoga nungging-nungging di medsos. Emang lu-nya sih yang ngundang pemerkosa,” begitu komentar yang saya baca di media sosial.   “Candaan” semacam itu (yang sama sekali tidak lucu) mewakili kecenderungan menghakimi bahwa wajar saja terjadi pemerkosaan karena salah perempuan-nya sendiri sih! 

Saya mengenal dekat seorang penyintas pemerkosaan. Trauma yang dideritanya amat sangat dalam. Saat kejadian itu terjadi, dia menderita semua pelecehan baik fisik (ditampari, dipukuli sampai hidungnya patah saat melawan), psikis (dipanggil pelacur ditambah embel-embel etnisnya), selain tentunya secara seksual. Pelakunya lebih dari satu orang.

Dia memutus semua hubungan pertemanan-nya, bahkan berhenti beribadah karena marah pada diri sendiri, orang lain, juga pada Tuhan (Di mana Tuhan saat itu terjadi?). Dia berkali-kali mencoba bunuh diri. Dia bertahun-tahun menutup diri terhadap dunia, terutama terhadap para lelaki.

Setelah beberapa tahun, dia akhirnya membuka diri terhadap seorang lelaki. Mereka kemudian menikah. Dia baru bisa bercerita bertahun kemudian, bahwa selama tahun-tahun pertama, perkawinannya nihil seks.

Mereka kerap mencoba, tapi dia bukan hanya tak punya rasa atau nafsu, tapi juga merasa amat jijik dengan ketelanjangan dirinya dan suaminya. Vaginanya tak pernah bisa memproduksi cukup cairan, bagaimanapun suaminya berusaha menstimulirnya. Lebih dari masalah fisik adalah trauma psikis yang dialaminya.

Dia membenci dirinya, merasa sangat kotor, serta benci dan trauma melihat ketelanjangan suaminya. Mereka  sangat tidak bahagia. Suaminya menyikapinya dengan cinta dan kesabaran, termasuk saat istrinya tak stabil, seringkali mengamuk dan memaki tanpa alasan tertentu.

Tahun-tahun berlalu. Pertemuan kami berikutnya, tanpa diduga, adalah saat dia tampil menjadi pendamping para perempuan korban pemerkosaan. Perempuan setengah gila yang sebelumnya begitu rapuh dan sangat ingin mati itu telah bangkit menjadi perempuan yang tangguh. Diapun sudah menjadi ibu dari dua anak cantik!

Ketika saya bertanya bagaimana dia bisa bertahan dan bangkit, dia menjawab dengan menyampaikan ajakan-ajakan untuk bertindak (yang terdengar sangat sederhana dan klise), yang merubah hidupnya (Menurutnya: Kiat dan nasihat saya ya cuma ini. Saya jalani dan sampaikan dengan hati, sebagai orang yang sudah pernah di posisi itu). Beberapa di antaranya:

  • Sebagai korban

  •  Anda tidak sendiri

  • Jangan bernah berpikir, dan jangan pernah membiarkan diri Anda sendirian. Beranikan diri cari pertolongan dari keluarga, teman, pendamping, psikolog, pemimpin spiritual. Percuma? Itu yang selalu dipikirkannya dulu, namun sekarang dia berani pastikan bahwa itu semua tidaklah percuma.

  • Banyak lembaga yang memberikan pendampingan. Mereka sudah menolong teman saya, dan BISA menolong Anda lebih dari yang Anda tahu. Mereka tahu apa yang harus dilakukan dan siapa yang harus dikontak: dokter, psikolog, pendamping spiritual, bantuan hukum, dan lain-lain.

  • Segera laporkan!

  • Segera membuat laporan ke petugas terdekat. Minta pendampingan jika tidak berani melapor sendiri. Untuk kasus pemerkosaan, secara resmi setiap korban harus melapor ke polisi. Polisi kemudian akan memberikan Surat Permintaan Visum et Repertum atau surat polisi yang meminta dokter memeriksa tubuh korban. Anda tidak akan dikenakan biaya untuk pemeriksaan ini.


Meskipun Anda merasa diri sangat kotor, jangan membersihkan diri dan jangan buang barang bukti: pakaian Anda, barang-barang pelaku. Semua itu adalah barang bukti yang akan sangat membantu proses penyidikan.

  • Sebagai pribadi

  • Cintailah dan maafkan diri. Pemerkosaan terjadi BUKAN karena salah Anda! Sadarilah, bagaimanapun, Anda berharga di mata Tuhan dan banyak orang. Teruslah beribadah.

Dan, ini yang paling sulit dan terasa amat mustahil, berdoalah dan berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk MENGAMPUNI para pelaku (Halah, ngomong gampang lu! Tapi inilah yang paling MEMERDEKAKAN teman saya).

Doa dan pengampunan adalah hal yang paling menolongnya bangkit melanjutkan hidupnya, dan kini dia sebagai penolong memberitahukan hal yang sama kepada korban-korban yang didampinginya. Anda harus bangkit supaya bisa tolong sesama korban bangkit!

  • Sebagai pendamping, penolong dan relawan

  • Anda laki-laki atau perempuan yang memilih pilihan ini, pilihan Anda sungguh mulia! Kemanusiaan sangat memerlukan orang-orang yang peduli seperti Anda. Jangan pernah menyalahkan korban, apalagi memojokkan dan menghakiminya.

  • Dampingi dia ke dokter, lembaga pendampingan, polisi, dan kemanapun dia memerlukan pertolongan. Dorong dia terus beribadah.  Juga dukung lembaga-lembaga pendamping sebagai donatur. Hal ini akan amat sangat menbantu teman-teman di lembaga pendampingan. Seperti teman saya, Anda bisa menolong banyak korban tanpa harus mengalami pemerkosaan dulu!


Teman saya adalah saksi hidup. Korban pemerkosaan tak harus menjadi hantu untuk bisa memerdekakan diri dari hantu trauma kekerasan pemerkosaan.

Tangerang,  Oktober 2021.