Jelang UAS merupakan saat bagi para dosen memberi tugas bertumpuk dengan deadline pengumpulan yang beriringan. Namun bukan pelajar Indonesia jika tidak menanggapinya secara santuy dan dikerjakan dengan pendekatan SKS (Sistem Kebut Semalam).

“Kami menganut nenek moyang kami Bandung Bondowoso yang dapat melaksanakan tugas dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”

Contoh di atas merupakan pola kemalasan modern saat banyak orang menggampangkan sesuatu di depannya. Mudahnya akses informasi menutup tabir antara hal yang penting dan kurang penting. Juga kurang bisa menempatkan diri apa yang seharusnya dilakukan.

Tantangan hidup di era globalisasi di mana eksistensi dunia maya lebih digandrungi, padahal dunia nyata merupakan tempat yang penuh akan perjuangan. Lihatlah mahasiswa. Pada hari saat dosen memberi tugas, sebagian besar mahasiswa menanggapinya dengan cuek di saat sebagian kecil mahasiswa sadar akan tanggung jawab hari-hari ke depannya.

Di saat sebagian kecil mahasiswa rajin mengelilingi perpustakaan mencari referensi tugas, sebagian besar mahasiswa menjadi kaum rebahan sambil scrolling beranda Instagram. Di saat sebagian kecil mahasiswa mengerjakan tugas dengan cermat, sebagian besar mahasiswa membuat story WhatsApp: Tugas numpuk, enakin rebahan.

Lalu di malam selang 12 jam dari pengumpulan tugas, barulah para kaum rebahan mengerjakan tugas di bawah bayang-bayang kasur empuk surga rebahan berlangsung. Semalaman utuh memforsir diri sendiri mengerjakan tugas hingga lupa makan, lupa istirahat, lupa ke kamar kecil. Padahal mahasiswa rajin telah menyelesaikan tugasnya dan beralih ke tugas lain.

Fenomena ini adalah akibat dari kemalasan yang akhir-akhir ini diilustrasikan dengan analogi rebahan. Teringat syair dalam kitab Ta’lim Muta’allim karya Syeikh Az-Zarnuji:

Oh diriku, hindarkan malas dan menunda-nunda. Kalau tidak, tetaplah kau dilembah hina. Tidak aku lihat pemalas mendapat bagian, kecuali sesal dan gagalnya harapan.

Menunda-nunda pekerjaan sebab malas menjadi hambatan tersendiri di era globalisasi ini. Banyak masyarakat terlena pada segala kemudahan yang ada. Gawai dan segala jenisnya menjadi penghalang nomor satu kontinuitas belajar para siswa.

Demikian dalam kitab Ta’lim Muta’alim mengajarkan agar seorang pelajar memiliki sifat kontinu. Langgengkan belajar, jangan mengambil jarak. Dengan belajar, ilmumu tegak dan menanjak.

Belajar yang berkelanjutan tidak berlaku sistem SKS di dalamnya. Ialah mengulangi pelajaran setelah habis pengajar memberikan materi. Dengan demikian, terbentuklah sikap rajin dan tidak menunda-nunda pekerjaan.

Abdi Suardin dalam videonya berjudul Pesan untuk Para Pemalas mengatakan, "Mempunyai impian besar dan memilih untuk menjadi pemalas adalah cara yang paling indah untuk menjadi gila. Hampir tidak mungkin rebahan malas-malasan dapat mengantarkan seseorang menggapai cita-cita luhur."

Bolehlah orang zaman sekarang bersikap santuy, namun jangan lupa untuk santun. Sebagaimana petuah berikut:

Sikap santun adalah pangkal segala hal, sebagaimana Nabi SAW: "Sadarlah, bahwa Islam ini agama yang kokoh, maka perlakukanlah dirimu dengan santun dan jangan kamu perbuat ibadah kepada Allah untuk menyengsarakan dirimu, karena orang yang munbit (loyo dan ditinggal kendaraan) itu tidak sanggup lagi menerjang bumi dan tiada pula kendaraannya."

Hadis di atas mengajarkan untuk berbuat santun kepada diri sendiri dengan tidak memforsir diri untuk beribadah kepada Allah. Senada memperhatikan kesehatan diri sendiri supaya dapat beribadah kepada Allah dengan baik dan benar. Lha wong memforsir diri sendiri buat beribadah saja tidak dianjurkan, apalagi untuk hal lain.

Sedangkan pada zaman sekarang, para mahasiswa memforsir diri sendiri dalam rangka mengerjakan tugas menggunakan sistem kebut semalam. Dikarenakan sebab-sebab kemalasan di hari sebelumnya, mahasiswa kehilangan kendali untuk mencapai deadline yang telah ditentukan.

Dari sisi kesehatan, ia menguras tenaganya dalam satu malam. Dari sisi tugas, kurang dicermati secara mendalam sebab mengejar deadline. Jarak waktu antara pemberian tugas dan pengumpulan tugas ia habiskan untuk rebahan dan scrolling media sosial.

Berapa banyak kesempatan terbuang karena rebahan malas-malasan? Menunda tugas, mengurangi nilai tugas, kurang mujurnya berpengaruh pada IPK dan pengambilan mata kuliah. Bagaimana jika menunda tugas sama dengan menunda kelulusan? Semoga Allah menghindarkan kita.

Oleh karena itu, marilah generasi penerus bangsa mulai bersungguh-sungguh dalam melakukan tugas yang seharusnya dilakukan. Mengesampingkan padatnya kurikulum dan kebijakan pemerintah, dalam mengerjakan tugas adalah soal pengaturan efisiensi waktu.

Tidak usah berpikir “untuk apa tugas ini, semacam formalitas”. Tidak perlu gelisah pada kurikulum yang dinilai kurang tepat. Niatkan belajar, mengerjakan tugas untuk mencari ilmu, niatkan mencari rida Allah. Tidak ada hal sia-sia yang dilakukan di muka bumi ini, semua akan dapat balasNya.

Seorang pelajar tentu memiliki cita-cita luhur yang hendak dicapai. Maka jalan yang saat ini ditempuh dalam rangka mencapainya harus dijalani secara sungguh-sungguh. Tidak baik berperilaku malas dan menunda-nunda pekerjaan. Apalagi demi rebahan memandangi gawai.

Bolehlah sesekali rebahan, perlu untuk istirahat. Agaknya kita harus dapat menempatkan diri. Rebahan adalah hal yang dilakukan untuk istirahat sejenak setelah mengerjakan kegiatan bermanfaat, jangan disalahartikan untuk bermalas-malasan ria.

Lakukan sepenuhnya yang bisa dilakukan. Belajar dan terus berkembang. Tidak ada kata berhenti dalam hidup. Sebab dalam surat Asy-Syarkh:

Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain(7). Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap(8).