56063_87213.jpg
www.google.com
Agama · 4 menit baca

Jangan Tuduh Lombok Terkena Azab
Berikan Kami Dukungan, Bukan Penghakiman

“Kami sedang berusaha keras membuang rasa trauma kami di tengah-tengah tenda pengungsian. Namun orang-orang, yang merasa ahli surga seolah-olah bertindak tak punya perasaan, datang menghampiri dan menghakimi ibadah kami sebagai penyebab terjadinya gempa ini. Raga kami terluka karena puing reruntuhan dan hati kami tersayat karena penghakiman mereka.”

Pulau Lombok pada Minggu 5 Agustus kemarin dilanda bencana gempa bumi yang luar biasa besar. Tujuh skala Richter telah lebih dari cukup untuk meleburkan seluruh harta benda dan mimpi-mimpi masa depan kami. Kami benar-benar berkabung, langit hitam menghiasi pagi hari kami.

Lombok Utara dan Lombok Timur adalah lokasi yang terkena dampak paling parah akibat kejadian tersebut. Data terakhir dari BNPB menyebutkan bahwa sudah sembilan puluhan warga meninggal dunia, ratusan terluka parah, dan ribuan warganya mengungsi di tenda-tenda darurat. Kami dalam keadaan genting, kami benar-benar takut.

Menurut perkiraan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, angka tersebut masih bersifat sementara. Angka-angka maut tersebut merangkak namun pasti menuju angka yang lebih besar lagi, karena ada beberapa korban yang masih belum ditemukan di lokasi terjadinya gempa bumi.

Sebagai warga Pulau Lombok yang secara langsung merasakan bencana tersebut, bencana ini tentunya telah memberikan pukulan telak bagi psikologis kami. Kami yang biasanya menonton televisi menyaksikan bencana alam di daerah sana, kini malah berbalik menjadi tontonan masyarakat Nusantara, bahkan mata-mata dunia sudah mulai menyaksikan kesedihan kami.

Rasanya seperti mimpi, ingin percaya tetapi teramat sulit. Karena ini pertama kalinya untuk kami harus menjadi tontonan orang lain. Pulau kami terkenal karena bencana alam, bukan karena prestasi seperti kejadian bulan lalu saat salah satu pemuda Lombok berhasil menjadi juara satu lomba lari tingkat dunia. Kami malu bercampur sedih.

Baca Juga: Mental Inlander

Televisi berlomba-lomba mempertontonkan bagian-bagian pulau kami yang sudah porak-poranda tertindas gempa bumi. Musik sedih dan kata-kata hiperbolis dimainkan untuk mendramatisasi keadaan kami saat ini. Kami yang ingin bangkit dari trauma justru semakin takut untuk bangkit, keadaan ini benar-benar parah. We even so scare to watch the television.

Gempa bumi terus menerjang pulau tercinta kami. Setiap gempa saling susul-menyusul seperti permainan formula one. Satu gempa selalu disusul dengan gempa lainnya, sehingga membuat kami benar-benar tak nyenyak untuk merebahkan badan kami pada empuknya seonggok kasur dan bantal.

Mata kami bahkan sudah tersemat rona hitam sebagai tanda jika kami benar-benar kurang tidur. Malam hari bahkan menjadi waktu yang paling kami takutkan. Karena Gempa bumi sedang mengintai nyawa kami sendiri. Sedikit terlelap, maka nyawa kami taruhannya. Keadaan kami semakin menyedihkan.

Listrik padam, segala kegiatan semakin mencekam. Listrik yang merupakan salah satu objek vital dalam kehidupan kami justru hilang. Kami semakin bingung untuk melakukan aktivitas kami sendiri. Saat malam, listrik padam itu bahkan sudah dijadikan kesempatan dan ladang baru oleh para pencuri untuk menggasak rumah-rumah yang sedang kami tinggalkan untuk mengungsi.

Di saat masing-masing di antara kami sedang sibuk-sibuk nya mengingat mati dan tuhan, mereka malah tanpa hati dan perasaan memanfaatkan kondisi ini untuk menjarah harta benda kami yang tak seberapa jumlahnya.

Kami semakin takut di area pengungsian. Hidup kami tidak hanya ditentukan di tangan tuhan, namun juga di ujung parang dan galah yang sedang dibawa oleh perampok-perampok tersebut. Mereka seolah-olah memegang hak veto akan nyawa kami sendiri.

Keadaan kami benar-benar luar biasa hectic. Satu bencana seolah tak cukup meneror kami. Kami juga dihantui oleh adanya Tsunami. Bencana menakutkan yang pernah kami saksikan beberapa tahun lalu di televisi. Lombok semakin mencekam dan menjerit dengan keadaan tersebut. Kami takut, rasanya ingin segera melenyapkan diri dari pulau ini.

Kami sedih dan juga ketakutan

Namun, di saat badan kami terluka oleh puing-puing reruntuhan gempa. Orang-orang sana yang merasa ahli surga itu menyakiti kami dengan cara yang berbeda. Mereka menuduh ibadah kami sebagai penyebab rentetan bencana alam ini. Kami benar-benar terluka, meski tak berdarah, namun sakitnya hingga ke dalam ulu hati kami yang terdalam.

Bagaimana mungkin bencana gempa bumi yang sedang melanda daerah kami dihubung-hubungkan dengan ibadah kami sendiri. Mereka menganggap bencana ini sebagai akibat dari tidak taatnya kami dalam menjalankan ibadah kepada tuhan. Mereka menuduh kami sebagai orang-orang yang tak taat beribadah, sehingga bencana ini adalah hukuman dari dosa-dosa yang telah kami perbuat. Psikologis kami benar-benar semakin tersayat.

Mereka menuduh kami tak taat untuk dalam beribadah ke masjid. Menuduh kami jarang ibadah ke gereja dan tempat ibadah kami masing-masing. Bencana ini semua terjadi karena kami jarang datang ke tempat ibadah kami masing-masing. Seolah-olah, kami ini adalah kaum yang sedang diazab tuhan.

Kami seolah-olah dijadikan sebagai contoh masyarakat tak taat kepada tuhan. Kami dijadikan sebagai pelajaran, yang apabila tidak taat beribadah akan mendapatkan bencana gempa bumi seperti yang sedang kami dapatkan saat ini.

Semua sibuk mempolitisasi keadaan kami. Duka yang sedang kami alami semakin diperkeruh dengan tuduhan mereka yang merasa dirinya paling benar dan paling pantas masuk surga.

Di saat kami sedang butuh bantuan makanan karena kelaparan, mereka malah sibuk menyiapkan pidato-pidato retorik untuk menasihati kami agar lebih rajin dalam menjalankan ibadah. Rajin ibadah, maka gempa ini tak akan mungkin terjadi.

Bencana alam ini dihubung-hubungkan dengan politik. Tuan Guru Bajang selaku gubernur kami juga dituduh sebagai penyebab terjadinya masalah ini. Tuhan telah menghukum pulau ini karena sang Gubernur telah mendukung pemerintah. Kejamnya politik semakin mendramatisasi keadaan kami yang sedang dirundung duka cinta.

Jika tak mampu memberikan kami bantuan material, setidaknya berikanlah kami semangat hidup agar kami tetap bisa tersenyum di tengah-tengah rasa trauma yang sedang melanda hati kami. Bukan malah memberikan ceramah agama yang justru semakin memperpanas telinga dan hati kami.

Bencana ini bukan azab untuk kami. Jika Anda ingin tahu apa penyebab gempa, maka luangkanlah waktu Anda sejenak untuk membuka buku SMP Geografi, agar sedikit tahu penyebab ilmiah terjadinya gempa bumi. Agar tidak terus-menerus menghakimi urusan amal perbuatan kami yang hanya merupakan urusan kami dengan tuhan kami sendiri.

Once again to clarify, there is totally no connection between this earthquake with the government, politic, or even with our own worship to the god. This is totally pure disaster, not even punishment from the god. Tolong jangan tuduh kami tertimpa Azab, itu terlalu menyakitkan.