Menjadi sebuah harapan atau sebuah pilihan tidak selalu menyenangkan. Semisal menjadi anak tunggal dalam sebuah keluarga, menjadi anak yang dianggap baik di antara saudara yang lain, menjadi siswa teladan, menjadi karyawan berprestasi, dan menjadi harapan-harapan lain yang berkaitan dengan citra.

Sebenarnya bukan sekadar menjadi harapan atau pilihan terakhir; menjadi seorang yang biasa saja juga menanggung banyak harapan orang lain. Terutama yang berkaitan dengan citra. Seperti halnya siswa harus memiliki etika siswa yang baik, seorang mahasiswa harus berperilaku sesuai etika akademik, hingga bagaimana seorang anak dalam keluarga harus berperilaku, dan lain-lain.

Hal ini berkaitan dengan status dan peran yang disandang oleh seseorang berlandaskan konstruksi sosial yang ada. Lantas, bagaimana ketiganya saling berkaitan?

Status dan Peran

Status menjadi tempat atau posisi seseorang dalam sebuah masyarakat yang disebut kelompok sosial (Soekanto, 2012, hal. 210), sehingga menjadikan seseorang tersebut dinilai perlu berperilaku sebagaimana status yag dimiliki. Hal ini yang dimaksud peran, meliputi norma atau aturan dan konsep yang diadopsi dalam sebuah kelompok sosial tertentu.

Status sendiri dibagi menjadi 2, yaitu ascribed status dan achieved status. Ascribed status adalah status yang didapatkan secara otomatis. Seperti bawaan sejak lahir, semisal anak bangsawan, anak raja, anak pemuka, dan sejenisnya. Sedangkan achieved status adalah status yang didapatkan melalui proses-proses tertentu atau kerja keras, seperti dokter, guru, dan sebagainya.

Seorang dokter berperan mengobati pasien, guru berperan mengajari murid, polisi berperan menegakkan keamanan, dan lain sebagainya. Hal ini menjadi sebuah ketidakselarasan ketika status dan peran tersebut tidak berjalan beriringan. Seperti ketika polisi tidak menegakkan keamanan atau justru mengambil peran lain, misalnya justru mengobati pasien.

Cukup logis mengatakannya tidak selaras. Namun, ada generalisasi status dan peran yang berlebihan. Hal ini sering terjadi pada ascribed status, ada nilai tertentu yang harus mereka jaga karena terlahir seperti itu. Bahkan untuk melakukan mobilisasi sosial terbilang cukup sulit, bertolak belakang dengan achieved status.

Ascribed status yang disandang seseorang memberikan aturan tidak tertulis yang justru lebih kompleks bagi para penyandangnya. Tidak ada batasan pasti atau prosedur yang jelas, semua bergantung pada norma dalam masyarakat, baik berupa cara, kebiasaan, tata kelakuan, hingga adat istiadat tertentu. Hal ini sangat berkaitan dengan konstruksi sosial dalam masyarakat.

Konstruksi Sosial

Ragam norma yang berlaku dalam sebuah masyarakat bergantung pada konstruk sosial yang berlaku. Sebagaimana realitas lahir dari konstruksi sosial yang diciptakan oleh manusia sendiri. Mengingat bahwa para manusia hidup dalam dimensi dan realitas objektif yang dibentuk melalui momen eksternalisasi. Sedangkan objektivitas tersebut didapat dari momen internalisasi (Berger & Luckman, 1991).

Hal tersebut menjadi problematika dilematis dalam masyarakat. Ketiadaan batasan dan arsip tertulis menjadikan masing-masing anggota masyarakat dapat dengan bebas menciptakan norma. Hanya perlu sebuah seruan, dukungan, dan pemahaman bersama telah menjadikannya pelan, tapi pasti berlaku dan diyakini begitu saja.

Terutama dalam masyarakat perdesaan yang kental akan asas kekeluargaan. Hubungan antarwarganya begitu erat, bahkan kerekatan hubungan tersebut menimbulkan intervensi berlebihan antarsesama. Tanpa sungkan atau ragu, antarwarga saling ikut campur dalam urusan pribadi yang seharusnya tidak orang lain ketahui.

Tentu menjadi beban tambahan bagi para penyandang ascribed status yang hidup di lingkungan masyarakat perdesaan. Lagi-lagi ada batasan baru yang perlu mereka terapkan dalam menjalani kehidupannya di tengah komunitas yang siap kapan pun menjadi komentator atas perilakunya. Label anak “baik” seakan menjadi pagar yang membatasi kehidupan keseharian mereka.

Merdeka yang Palsu

Sebut saja “Merdeka yang Palsu”, hidup dalam pengawasan masyarakat dengan pola pikir yang beragam dan mudah tersulut oleh berbagai isu. Variasi standar yang ditetapkan masyarakat menjadi patokan yang bersifat dinamis, mengingat modernisasi kerap membawa pertentangan antara golongan muda dan golongan tua.

Analogi ini mengibaratkan golongan muda adalah mereka yang mulai melek pembaruan, termasuk pola pikir dan teknologi. Sedangkan golongan tua adalah mereka yang masuk dalam jajaran “kolot” terhadap perubahan. Masih sering kali terjebak dalam pemahaman masa lalu yang nyatanya tidak lagi relevan untuk diterapkan hari ini.

Pertentangan antarkeduanya menimbulkan dinamika persoalan baru yang cukup rumit. Jangan diibaratkan peristiwa Rengasdengklok, nyatanya berhadapan dengan golongan tua jauh lebih sulit dan bertindak frontal tidak selamanya berhasil. Golongan muda sering terjebak dalam posisi serbasalah dalam kegagalan golongan tua untuk berpikir maju.

Terlebih bagi mereka yang dilihat lebih terpandang, seperti menjadi artis di lingkungan sendiri. Selalu ada kasak-kusuk tiada henti yang melingkupi kehidupan sehari-hari. Gajah di kelopak mata tak tampak, sedang semut di seberang lautan tampak, peribahasa yang cukup dekat untuk menggambarkan kondisi ini.

Prinsip kehati-hatian ekstra perlu diterapkan dalam menghadapinya. Tetapi, apakah semua yang orang lain katakan menjadi perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari prinsip kehati-hatian itu sendiri? Sepertinya tidak perlu.

Kebenaran Semu

Nyatanya dalam realitas konstruksi sosial, kebenaran menjadi semu. Relatif, bergantung pada lensa apa yang digunakan untuk melihat. Hal ini kemudian membutuhkan adanya filter dalam menghadapi kompleksitas dalam masyarakat, yaitu prinsip. Karena terus menanggapi orang lain tidak akan menemukan titik henti, kecuali mati.

Berbekal akal sehat, kejernihan logika, rasa kemanusiaan, dan kemantapan kepercayaan sekiranya cukup menjadi prinsip dalam menyaring masukan-masukan yang datang dari luar. Ada hal-hal yang memang perlu diambil dan yang tidak, karena manusia paling baik pun tidak lepas dari kata tidak sempurna.

Hal tersebut bukan menuntut kita sebagaimana manusia untuk membatasi pergaulan. Tegas berprinsip, “luwes” bergaul. Bergaul dengan siapa pun itu perlu, yang penting tidak menanggalkan prinsip yang kita junjung selagi prinsip itu relevan untuk terus diterapkan.

Refrensi:

  • Berger, P. L., & Luckman, T. (1991). Tafsir Sosial atas Kenyataan: Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan. jakarta: LP3ES.
  • Soekanto, S. (2012). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.