Akhir-akhir ini isu tentang agama begitu banyak diperbincangkan. Berbagai argumen mulai disampaikan melalui berbagai media, khususnya media online. Hangatnya perbicanagan tentang agama di masayarakat tidak lepas dari kasus Gubenur non-aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Kasus Ahok kian menghangat, ketika ada dua kubu yang saling berbeda pendapat.

Satu sisi menyatakan bahwa Ahok bersalah, di sisi lain menyatakan Ahok tidak bersalah. Polemik yang ditimbulkan ini tidak lepas dari nilai-nilai religiusitas yang dijunjung masyarakat. Sedikit saja menyinggung, maka reaksi akan timbul. Hal ini terbukti dari berlangsungnya demo besar-besaran pada tanggal, 4 November 2016.

Saya mengerti betul dengan rasa tersinggung yang sudah dialami sebagian orang akibat perkataan Ahok. Saya sendiri merasa tidak spenuhnya menyalahkan dan tidak sepenuhnya membenarkan perkataan Ahok, semua saling berdampingan, ibarat dua sisi koin.

Kesalahan Ahok terletak dari cara penyampaianya yang terlalu ceplas-ceplos. Andaikan pada waktu itu, beliau bisa mengungkapkan kekecewaanya terhadap oknum-oknum yang menggunakan agama untuk menjatuhkan dirinya dengan nada halus dan pendekatan yang lebih adem maka persoalanya tidak menjadi se-ruwet sekarang.

Ahok bisa meniru gaya bicara Aa Gym untuk berdialog dengan masyarakat. Dengan intonasi suara Aa Gym, Ahok bisa mengungkapkan kekecewanaya seperti ini : “Ya saudara-saudaraku sekalian, jangan mudah percaya ya dengan berita-berita yang ingin menjatuhkan saya.

Kita sesama umat beragama jangan mau dipecah belah oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Betul? Sekali lagi saya mohon maaf sebsesar-besarnya ya, jika saya ada salah-salah kata.” Dengan penyamampaian seperti ini, saya yakin tidak akan terjadi kasus ini.

Selanjutnya soal kebenaran dari ucapan Beliau. Ucapan Ahok terlontar sebagai bentuk kekecewaanya yang sudah tertumpuk sekian lama. Mengungkapkan kekecewaan tidak masalah kan? (sebelum adanya UU Informasi dan Transaksi Elektronik). Aho kbegitu kecewa dengan oknum-oknum yang menggunakan agama untuk kepentingan politik.

Menurut pendapat saya, tidak menjadi masalah, ketika agama turut serta dalam kegiatan politik. Saya ambil contoh Haji Misbach. Sosok yang dikenal sebagai seorang penganut ajaran Islam yang taat ini pernah berujar “Siapa yang menolak paham sosialisme, berarti Islamnya perlu dipertanyakan.”

Ungkapan Haji Misbach ini bersifat politis. Haji Misbach menggunakan politik bukan untuk mendapatkan kekuasaan seperti yang didambakan politikus saat ini, tapi tujuan Haji Misbach mengelaborasikan agama dan politik untuk pembebasan rakyat yang tertindas. Jadi jika agama mulai masuk dalam ranah politik tidak menjadi masalah (menurut saya).

 “Kalau Agama masuk dalam ranah politik, berarti agama bisa menjadi sangat tendesius dong?” pertanyaan itu mungkin akan timbul dalam benak kita. Jawaban yang bisa penulis berikan “kita ini manusia, bukan robot jadi wajar jika selalu ada vested interest  atau kepentingan dalam setiap tindakan.” Menyitir pendapat para tokoh Mazhab Frakfurt –Herbert Maruse dan Hockheimer- setiap manusia selalu memiliki tujuan dan kepentinganya dalam bertindak, dan alangkah baiknya jika pertimbangan itu digunakan untuk membela kaum tertindas.

Jadi kesimpulaya bukan terletak ada atau tidak adanya kepentingan, melainkan baik atau buruknya kepentingan. Jika untuk kebaikan, kenapa tidak? Why so serious? (Contoh lain bahwa agama bisa sangat berperan dalam ranah politik bisa dilihat dalam karya Michael Lowy yang berjudul Teologi Pembebasan).

Kembali soal perdebatan soal Ahok. Akhir-akhir ini di beranda akun Facebook saya ramai dengan artikel yang menyebut bahwa agama sudah tidak menyejukan. Para tokoh agama dianggap mulai ngompori umatnya. Salah satu cara untuk ngompori umat yaitu melalui ceramah sholat jum’at. Saya juga pernah mendapat pengalaman yang sama, hal itu terjadi beberapa minggu lalu. Seingat saya waktu itu Khatib sholat jum’at menyampaikan ceramah tentang “Sikap Umat Muslim terhadap Umat Lain.”

Dengan nada suara berat dan serak yang mirip (dimiripkan) Almarhum KH Zainnudi MZ, khatib menyampaikan: “Kita sebagai umat muslim harus tegas terhadap umat lain(kafir).” Tercengang saya mendengarkanya. Dalam hati kecil saya berujar “Semoga saudara-saudara kita yang berbeda agama tidak tersenggung mendegar ini.” 

Ucapan kekhawatiran yang terlontar dalam hati itu, karena masjid tempat saya menunaikan sholat Jum’at itu terletak ditengah pemukiman warga. Tapi yang namanya ucapan sudah terlontar dan tidak bisa ditahan, saya sebagai pendengarnya hanya bisa tersenyum kecut. Andai saja ceramah bisa diinterupsi, maka saya pasti akan…… tetap diam (pemahaman agama saya masih cetek).

Terlepas dari segala tuduhan buruk yang dialamatkan kepada kalangan agamawan, alangkah baiknya jika kita tidak laungsung mengambil kesimpulan bahwa agamawan sudah tidak mampu menyebarkan kesejukan lagi kepada umatnya. Jika kita bisa menerepkan berbagai tafsir atas peryataan Ahok yang kontroversial itu, kenapa kita tidak bisa menerapkan hal yang sama ketika mendengar khotbah yang kita tuduh sebagai penyebar kebencian? Betapa tidak adilnya sikap kita?

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin menghimbau, mari kita dinginkan suasana Negara kita yang sedang panas ini. Tulislah apapun yang menjadi keresahan anda, tapi dengan sudut pandang yang luas. Menulis yang hanya menggunakan satu sudut pandang dan menyudutkan pihak lain, justru membuat kita tidak lebih baik dari yang kita cela. Sedikit tambahan, usahakan jangan meninggalkan masjid ketika ceramah berlangsung, jika ceramah yang disampaikan memang tidak berkenan di telinga dan hati, tolong gunakan segala pengetahuan anda dan tafsirkan.

Saya yakin ada pembaca yang akan menyanggah argumen saya dengan pernyataan ini: “Permasalahanya yang mendengar bukan saya saja.”

Saya yakin pendengar khotbah lainya juga memiliki kemampuan untuk menafsirkan khotbah semacam itu, jangan anggap bahwa kita lebih mampu memahami khotbah ketimbang orang lain. Saya optimis bahwa masyarakat kita sudah semakin dewasa. Jadi jangan terburu-buru meninggalkan masjid.