Amatiran
4 bulan lalu · 757 view · 4 menit baca · Wisata 89856_51978.jpg

Jangan Takut ke Aceh

Wilayah paling ujung Pulau Sumatra yang berada di bagian utara adalah Aceh. Sebuah provinsi yang memiliki banyak potensi wisata dan sangat jarang diekspos. 

Sejak konflik antara GAM dan Pemerintah RI berakhir yang sebelumnya terisolasi dan kurang berhubungan dengan dunia luar, kini Aceh telah berbenah untuk terbuka kepada wisatawan. 

Masa kelam yang pernah terjadi memberikan dampak trauma bagi wisatawan terkhusus domestik untuk berkunjung. Padahal setiap jengkal daerah di Aceh memiliki objek wisata tersendiri, mulai dari Pulau Weh Sabang, Dataran Tinggi Gayo, sampai ke Pulau Banyak, Aceh Singkil. 

Keterbukaan Aceh dalam membuat daya tarik untuk meningkatkan jumlah wisatawan telah dibuktikan dengan berhasilnya Aceh menjadi World Halal Tourism Award 2016 dengan menyabet 2 kategori sekaligus, yaitu World's Best Halal Cultural Destination: Aceh dan World's Best Airport for Halal Travellers: Sultan Iskandar Muda International Airport. 

Sebuah kabar bagus tentunya bagi para wisatawan yang menginginkan suasana dan kebudayaan yang halal, berkunjung ke Aceh adalah hal yang tepat.


Banyak pertanyaan yang muncul dari benak dan pikiran mengenai Aceh. Apa yang menarik? Begitulah kira-kira. 

Secara umum, Pulau Weh atau Sabang dianggap sebagai satu-satunya tempat wisata menarik dan Masjid Raya Baiturrahman yang bertahan dari gempa bumi dan tsunami. Tentu hal tersebut tidaklah salah mengingat banyaknya kunjungan wisatawan di kedua objek wisata tersebut. 

Namun, perlu diperhatikan lebih lanjut mengenai kekayaan alam Aceh sebagai potensi wisata. Hampir seluruh di penjuru Aceh memiliki garis pantai yang membentang seperti Pantai Lampuuk, Aceh Besar yang sudah dikenal oleh masyarakat. 

Masih ada objek wisata pantai yang belum terjamah. Inilah potensi wisata tersebut dan menjadi pekerjaan rumah bagi para pihak yang terkait. 

Selain itu, bukan hanya pantai yang menjadi primadona bagi wisatawan Aceh terkhususnya, di bagian daratan termasuk bukit dan gunung masih terlihat alami dan asri terutama bagian kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). 

Sebagai contoh, wilayah Gunung Burni Telong, Bener Meriah menjadi tempat favorit pendakian bagi para pendaki untuk menguji adrenalin dan menaklukan ketinggian di gunung tersebut. Ketinggian Gunung Burni Telong yang mencapai 2617 mdpl dengan temperatur 17-30 derajat celcius menjadi tantangan untuk bisa ditaklukkan.

Objek wisata di Aceh bukanlah termasuk kelas rendahan, bahkan bisa populer setara dengan Bali. Keidentikan Bali terletak pada pantai dan ombak lautnya yang menjadi spot bagi para peselancar. 

Di Aceh, terdapat objek wisata luar biasa tersebut yang tidak kalah dengan Bali, yaitu Pulau Banyak, Aceh Singkil yang memiliki ketinggian ombak mencapai 6 meter. 

Semua objek wisata yang dititipkan dari Maha Kuasa, perlu dilakukan upaya untuk diperkenalkan dan menjadi pembelajaran untuk peduli terhadap lingkungan. Upaya-upaya yang dimaksud adalah kegiatan promosi objek wisata tersebut dengan mengadakan event-event berbasis edukasi wisata sehingga bisa menggaet lebih banyak para wisatawan.

Sail Sabang salah satunya merupakan agenda tahunan untuk memperkenalkan Sabang dengan segala objek wisata bahari. Adapun Pulau Banyak juga mengadakan kompetisi berselancar tingkat internasional, sehingga mampu menarik peselancar untuk menaklukkan ombak tersebut. 


Selanjutnya, perlombaan pacuan kuda di Takengon, Aceh Tengah yang menampilkan ciri khas kedaerahan dan untuk mengenal satu sama lain. 

Jika musim bulan puasa atau bulan Ramadan tiba merupakan momen yang sangat tepat. Ya, Aceh mengklaim sebagai wilayah yang bersyariat, tentu suasana yang dihadirkan akan bernuansa islami, baik dari penataan kota maupun kegiatan sosial masyarakatnya. 

Pada setiap malam di bulan Ramadan, banyak masjid mengadakan solat tarawih berjamaah dengan mengundang imam dari Timur Tengah seperti Palestina, Mesir, Arab Saudi, Yordania dan lain-lain. Hal tersebut sebagai upaya untuk menghadirkan suasana salat seperti di Masjidil Haram di Makkah atau Masjid Nabawi di Madinah. Momen yang dapat disebut wisata religi dan dilakukan sebulan penuh pada Ramadan. 

Seorang wisatawan dalam menapaki jalan tidak hanya fokus pada objek wisata saja. Akan tetapi, juga menjajaki kuliner yang menjadi kebiasaan untuk mencicipi dan tidak bisa dipisahkan bagi wisatawan. 

Jajanan kuliner di Aceh memiliki ragam cita rasa lezat, seperti Mie Aceh, Pliek U, Keumamah, Sate Matang, Kopi Gayo, Sanger, Pisang Sale dan masih banyak lagi. Tetapi, Mie Aceh tentu menjadi hal yang diburu bagi wisatawan untuk merasakan keaslian Mie Aceh langsung dari daerah asalnya. 

Keunikan Aceh sebagai daerah istimewa yang bersyariat Islam, dianggap menjadi kendala bagi para wisatawan untuk berkunjung. Tentu sah-sah saja atas pendapat tersebut. 

Akan tetapi, perlu diklarifikasi bahwa syariat Islam yang diberlakukan bukanlah tanpa aturan yang hanya langsung menghukum untuk semua orang. Banyak orang menganggap, kedatangan wisatawan di sana jika tidak mengikuti ketentuan akan dianggap melanggar. Perlu digarisbawahi, aturan syariat Islam khusus ditaati pada muslim saja, tidak kepada non-muslim. 

Tentu sebagai muslim mengikuti tata aturan yang sesuai syariat Islam seperti menutup aurat dalam berpakaian, tidak berdua-duaan yang belum menikah, judi, mabuk dan lain-lain. Bagaimana dengan non-muslim? Tidak akan dikenakan hukum syariat Islam tetapi kepada hukum pidana (bukan berpakaian dan berdua-duaan) yang berlaku di NKRI. 

Alangkah baiknya bagi para wisatawan non-muslim untuk menyesuaikan pakaian yang sopan dan tidak menarik perhatian orang lain. Juga diupayakan untuk menghormati kebudayaan lokal karena kental dengan Agama Islam. 


Bukan masalah, karena mengunjungi Aceh dan berwisata merupakan bagian dari meyakinkan diri untuk bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh-Nya. Aceh adalah bagian dari anugerah nikmat tersebut, umat manusia memiliki hak untuk datang serta berkeliling ke Aceh. Tetap saling menghormati dan menghargai antar sesama. 

Jadi, sebaiknya mulailah masukkan ke dalam buku perencanaan dan pastikan bahwa libur selanjutnya berwisata ke Aceh.

Artikel Terkait