Seseorang seringkali mengalami kesedihan, kesusahan, kegagalan dan lain-lain yang akhirnya membuat seseorang tersebut menjadi gampang putus asa.

Adakalanya dalam kehidupan kita sebagai manusia , ada saat-saat dimana kita begitu putus asa dan menjadi orang yang menjadi merasa bersedih. Terutama kalau ada kejadian yang berjalan tidak sesuai dengan keinginan kita.

Seorang teman akan sangat mempengaruhi terhadap corak pikir dan karakter pribadi yang terbentuk disetiap individu. Psikologi barat mengatakan 90% kepribadian yang kita miliki merupakan tiruan dari kepribadian oraang lain. Dengan demikian, jika kita ingin mengetahui kepribadian seseorang, kita perlu melihat orang yang ada di sekelilingnya.

Terdapat sebuah kisah antara dua orang yang bersahabat, setiap hari mereka selalu bersama bahkan sudah seperti saudara, mereka adalah dua orang yang berbeda dan kadang memiliki hal yang sama. Tetapi pada diri mereka ada hal yang cukup kuat yang tidak bisa dinegosiasi dalam keadaan apapun.

Salah satu dari mereka berkepribadian yang cukup baik, bahkan bisa disebut sang ahli ibadah. Sangat rajin dan berhati-hati jika melaksanakan shalat. Sedangkan sahabatnya adalah seorang yang biasa sebagaimana manusia umumnya, lebih sering mengakhirkan daripada mengerjakannya di awal waktu.

Suatu hari, mereka berdua berangkat ke suatu tempat dengan tujuan yang sama. Mereka memesan tiket bus bersama-sama agar bisa duduk saling berdampingan. Ketika  sudah tiba waktu pemberangkatan, sahabat yang ahli ibadah ini berkata” aku ingin shalat ashar sebelum berangkat.”

Sahabatnya menjawab,” sudahlah, tidak ada waktu lagi!!  sholatnya nanti saja bus kita sudah mau berangkat.” Akan tetapi  waktu yang sempit tidak menghalanginya untuk tetap beribadah kepada Allah, dan melaksanakan solat di awal waktu.

Beberapa saat kemudian, waktu pemberangkatan bus itu pun tiba. Karena merasa kesal dia meninggalkan sahabatnya yang sedang solat sendirian. Begitu selesai sholat, si ahli shalat ini mengetahui jika bus yang ingin ditumpanginya sudah berangkat dan tiketnya terbuang begitu saja.

Akhirnya, ia memutuskan untuk pulang ke rumah, dan sesekali ia merasa sia-sia dan sedih atas kerugian tiket yang ia beli karena setan selalu menghantui pikirannya. Sesampainya di rumah ia terlihat murung dan merasa bersalah, pada akhirnya waktu shalat maghrib pun tiba.

Dia segera menunaikan shalat sembari berdoa “Ya Allah, semua yang terjadi adalah kehendak Engkau, dan yang terbaik untuk hamba.” Seusai shalat ia beranjak ke ruang televisi dan sesekali memindah  channel yang berisikan berita-berita terbaru.

Dia terlihat kaget karena mendapati berita atas kemalangan bus yang terjun ke dalam jurang. Reporter menyampaikan bahwa titik pemberangkatan dan tujuan bus sama seperti tempat yang ingin ia kunjungi bersama sahabatnya. Diapun bergegas mengambil ponsel dan menelepon sahabatnya, tetapi nomor handphone sahabatnya sudah tidak aktif.

Sang ahli ibadah sangat bersyukur, atas apa yang Allah rencanakan. Bus yang terjungkur ke dalam jurang adalah bus yang seharusnya ia naiki. Tetapi bus dan sahabatnya telah meninggalkan ketika ia shalat ashar, dan ternyata Allah menghendaki dia selamat dari mara bahaya yang menimpa bus dan sahabatnya.

Kisah diatas merupakan salah satu contoh kenikmatan yang Allah berikan kepada hamba yang selalu taat dan berbadah kepada-Nya. 

Karena komitmen dan keteguhan seseorang untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan tidak akan pernah membawa kerugian bagi orang tersebut, bahkan akan mendapat manfaat dan keberuntungan yang sangat besar tanpa kita duga.

Allah SWT berfirman dalam Q.S AL-A’raf ayat 30 ;

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُون

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Prof Quraisy Syihab dalam tafsir Al–Misbah, “mengartikan kata rabb sebagai pendidik. Allah memosisikan dirinya tidak hanya sebagai Tuhan yang wajib disembah, tapi juga sebagai pendidik bagi setiap hamba untuk selalu berada pada jalan yang di ridhainya.” 

Ayat tersebut menjelaskan kondisi orang yang istiqamah menjalankan perintah Allah, akan dinaungi malaikat yang turun kepadanya.

Pada potongan ayat  أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا (khauf dan huzn) merupakan dua penyakit hati yang biasa dianggap melemahkan mental  dan membuat orang yang tidak berani untuk melangkah dan menyesali apa yang telah terjadi.

Para ahli tafsir menjelaskan, bahwa ayat “an la tahkofu wa la tahzanu” maksudnya adalah jangan takut pada balasan di akhirat dan jangan bersedih tentang balasan hidup didunia.

Dalam hal ini dijelaskan bahwa, pemberian apresiasi itu tidak hanya ketika kita selesai menjalani proses kehidupan dunia, dan menunggu pembalasan di akhirat, tetapi juga berlaku ketika kita masih berada dalam kehidupan dunia.

Tetapi dikatakan  وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ “bergembiralah dangan ‘memperoleh ’ surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. 

Maka sebaiknya kita membangkitkan ibadah dan semangat spiritual dalam diri kita sebagai rasa ketaqwaan kita kepada Allah. Jadikan hati sebagai sarana kita untuk mengingat Allah dan menjadikan Allah sebagai alasan satu-satunya kita hidup di dunia.