September berlalu dan Oktober pun tiba, media di Indonesia kerap kali menyajikan isu atau peristiwa yang digelar tiap tahunnya atas tragedi berdarah Partai Komunis Indonesia terhadap beberapa jendral yang dibunuh. 

Ternyata tanpa diduga, hantu komunis yang kematiannya 55 tahun lalu masih menjadi perbincangan hangat tiap tahunnya. Namun saya sekarang akan menekankan bahwa idealnya kita tidak boleh sepenuhnya untuk membenci atau “kagetan” terhadap isu komunis.

Komunis dan Keagamaan

Hal yang sangat disayangkan sekali yaitu perbincangan tentang komunis di Indonesia tidak mengalami kemajuan. Stigma yang selalu dilontarkan ke mereka tidak jauh dari opini “golongan atheis”, “anti agama”, “haus darah dan anti ulama” dan mungkin istilah lainnya yang berkaitan dengan keagamaan. Sebab masyarakat Indonesia memiliki tipologi religius yang sangat kuat.

Tentu stigma ini muncul karena praktik komunis di Indonesia kecenderungan tersorot kepada golongan agamawan. Menyerang Pondok Pesantren Gontor dan menteror para ulama menjadi bukti kuat bahwa Komunis Indonesia sangat benci terhadap agamawan. Praktik ini bisa jadi seiring dengan semboyan Karl Marx yang dikenal sebagai dedengkot “komunis” yang mengatakan bahwa “agama adalah candu”.

Perlu kita ketahui sebab dan alasan mengapa Marx mengatakan ‘Religion is the opium of the people’ atau dalam bahasa Indonesia “agama adalah candu masyarakat”. 

Berbagai penelitian mengatakan bahwa Marx mengatakan hal tersebut karena pada zaman ia masih hidup, kalangan gereja sering kali menggunakan narasi keagamaan untuk kepentingan pribadi. Sehingga masyarakat merasa takut berdosa apabila tidak mengikuti saran gereja, dampaknya adalah orang yang beragama identik dengan kata menyerah tanpa mau berusaha. Berharap pada Tuhan tanpa ada usaha.

Sejatinya Marx bukan orang yang anti terhadap orang yang beragama, walaupun di akhir hidupnya ia tidak memiliki komitmen terhadap suatu agama. Ia berusaha mengkritik kepada kaum agamawan bahwa agama tidak cukup apabila dilihat dari segi pahala dan dosa, neraka dan surga. 

Agama juga memiliki misi kemanusiaan dan misi sosial yang lebih berdampak kepada kesejahteraan bersama. Bahkan dalam Islam pun ada spirit Al-Maun untuk memberdayakan kaum mustadhafin.

Marx berusaha untuk melawan praktik kapitalis yang menindas masyarakat dan menjadikan manusia sebagai tenaga kerja mereka yang mempunyai modal, parahnya gereja yang kala itu mempunyai kekuasaan terhadap sistem kehidupan justru mempengaruhi masyarakat awam agar selalu datang ke tempat ibadah berdoa saja tanpa berusaha. Kira-kira seperti itu.

Fenomena Indonesia terhadap Simbol Keagamaan

Dari pemaparan di atas, maka jangan heran apabila di Indonesia muncul umat yang “kagetan” terhadap isu yang berkenaan dengan agama apalagi terhadap isu komunis yang “katanya” muncul kembali dalam bentuk yang baru. Contohnya saja kasus mencorat-coret masjid yang terjadi belum lama ini.

Belum lama ini ada juga praktik beberapa oknum yang disinyalir bagian dari komunis melakukan penistaan terhadap Alquran dan masjid yang dicorat-coret. Tentu hal ini menyebabkan reaksi yang sangat besar dari agama agama yang bersangkutan. Saya pribadi setuju bahwa praktik ini disebut sebagai penistaan terhadap agama. Namun ada yang lebih menistakan agama daripada mencorat-coret Alquran itu sendiri.

Begini, memang kasus di atas adalah penistaan terhadap agama. Saya prediksi akan muncul aliansi dari berbagai ormas untuk menyerang orang yang melakukan praktik gegabah tersebut. Namun yang harus kita pikirkan, apakah pembelaan terhadap Alquran tersebut sudah sesuai nilainya? Apakah orang yang mati-matian memprotes kasus itu ia sendiri membaca Alquran? 

Saya menilai perjuangan mereka akan sia-sia, sebab diri sendiri saja masih menistakan agama dengan membiarkan Aluraqn berselimutkan debut di kamarnya. Astaga, mawas dirilah kita.

Saya berani mengatakan bahwa kita adalah “umat yang latah, kagetan, kampungan dan mudah kagum atau reaktif terhadap simbol keagamaan. Dan sering lupa pada pemaknaan”. Jangan sampai kita memperjuangkan sesuatu namun tidak mengetahui esensinya. 

Semoga kita semua mawas diri agar selalu membaca Alquran dan tidak hanya protes terus menerus terhadap orang yang menista Alquran, padahal kita yang lebih menistakannya karena tidak memenuhi perintah Tuhan untuk mempelajari Alquran.

Sama halnya dengan Hagia Sophia yang dijadikan masjid oleh Erdogan. Bagi seorang yang dahaga, kembalinya Hagia Sophia seperti air yang membatalkan kehausan. Tapi apakah memang demikian, apakah tanda dari kemenangan adalah penguasaan atas bangunan? Haghia Sophia dirayakan sebagai kemenangan, kejayaan, kebangkitan. Kejadian yang diartikulasikan dalam pekik semangat, atau jua tangis haru.

Tapi umat tidak boleh lupa, kejayaan tidak semata-mata penguasaan atas bangunan, tapi pendirian Islam dalam wujud pemikiran, pemanusiaan, dan pembebasan.

Apa sih Sebenarnya yang Diperjuangkan Komunis?

Saya memahami bahwa komunis itu adalah sebuah ideologi. Apa itu ideologi? Ideologi sangat penting dalam kehidupan, karena ia mempolakan, mengonsolidasikan dan menciptakan arti dalam menciptakan arti dalam tindakan masyarakat. 

Ideologi yang dianutlah yang pada akhirnya sangat menentukan bagaimana seseorang atau sekelompok orang memandang sebuah persoalan dan harus berbuat apa untuk mensikapi persoalan tersebut.

Kita sekarang merasakan kesulitan dalam biaya sekolah, kesulitan dalam ekonomi karena harga yang terlalu mahal dan berbagai bentuk pemecatan terhadap buruh tanpa alasan jelas. 

Ketahuilah bahwa itu semua praktik dari golongan kapitalis. Dan komunis memiliki perjuangan untuk menghilangkan tingkatan kelas di kalangan masyarakat. Mereka menginginkan bahwa segala pabrik dimiliki bersama oleh masyarakat melalui revolusi proletar yang diilihami oleh gagasan Marxisme. Singkat begitu.

Kaum komunis percaya bahwa kaum buruh di dunia harus bersatu dan membebaskan diri mereka masing-masing dari penindasan kaum kapitalis untuk menciptakan dunia yang dikendalikan oleh dan untuk kaum buruh.

Irisan Islam dan Komunis

Haji Misbach seorang cendekiawan agama Islam kelahiran Kauman Yogyakarta, mengatakan bahwa seorang muslim harus mengakui bahwa komunis yang menentang kapitalisme merupakan bagian dari ajaran Islam. Sebab Islam harus memberdayakan kaum tertindas agar memiliki hidup yang layak.

Sangat disayangkan fenomena aksi 212 yang mengatanasmakan untuk membela Alquran dan agama, bahkan mampu mengumpulkan 7 juta orang untuk berkumpul di Jakarta. Tetapi ketika melihat adanya ketertidasan yang terjadi di masyarakat, misal pembangunan bandara NYIA Yogyakarta yang menyebabkan petani kehilangan lahannya untuk hidup namun tidak mendapatkan pembelaan sebanyak 7 juta orang yang datang ke Jakarta. Padahal Islam juga merupakan agama sosial yang mengajarkan kepedulian terhadap mereka yang tertindas.

Saya di sini tidak menyalahkan aksi 212, namun yang saya tekankan bahwa kita sebagai muslim bukan hanya saja sebagai agama yang melangit, namun harus membumikan nilai Islam tersebut pada tataran sosial.