Bagi kebanyakan orang, menjomblo adalah sebuah keniscayaan yang sangat ditakuti. Dan bahkan beberapa orang ada yang sangat fobia terhadap kejombloan. 

Bukan hanya itu, banyak sekali di luar sana orang-orang yang hari ini begitu puas menertawakan kerabat atau orang-orang terdekatnya yang sampai detik ini masih harus menikmati masa-masa lajangnya, tanpa berpikir panjang mengenai hal itu.

Kemudian banyak orang-orang yang menganggap bahwa malam Minggu adalah hari rayanya mereka untuk menikmati waktu bersama pasangannya tega merendahkan kaum-kaum jomblo begitu saja. Mereka sengaja mengabadikan momen kemesraan itu dan memamerkannya kepada para jomblowan dan jomblowati seraya menunjukkan bahwa mereka lebih baik ketimbang orang-orang dengan status “kesepian” di hatinya.

Memang tidak ada yang salah dengan mengupload momen-momen kemesraan dengan pasangannya. Karena setiap orang berhak menikmati kebebasan dalam bentuk apapun dan bagaimanapun. Dan mungkin saja beberapa orang melakukan hal demikian agar memotivasi kerabat-kerabatnya yang hari ini masih berkutat dengan kejombloan mampu merasakan yang mereka rasakan juga.

Akan tetapi, memotivasi bukan berarti menghina dan menyemangati bukan berarti merendahkan. Ada beberapa hal yang harusnya anda perhatikan dalam mengambil sebuah keputusan. Karena setiap tindakan yang anda kerjakan dan perkataan yang anda ucapkan itu bisa saja membuat beberapa orang tersinggung. Apalagi beberapa diantaranya berkaitan dengan status yang diemban oleh kaum-kaum jomblo,

Harus kita sadari dan cermati bersama, mereka-mereka yang hari ini istiqomah menjomblo bisa jadi merupakan sebuah keputusan yang mereka pilih untuk kelangsungan hidupnya. Karena kalau kita membaca kembali lembaran sejarah peradaban manusia, beberapa tokoh-tokoh besar saja banyak yang mengabdikan dirinya pada perkembangan peradaban manusia walaupun harus menjomblo seumur hidupnya.

Sebut saja Isaac Newton dan Leonardo Da Vinci yang hari ini karya-karyanya bisa kita nikmati rela mengabdikan hidupnya demi perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban walaupun membujang sepanjang hidupnya. Kemudian seorang ulama besar Imam Nawawi pun demikian, dan bahkan Tan Malaka yang hari ini kita kenal sebagai bapak bangsa tetap menyandang status jomblo sampai akhir hayatnya.

Hal tersebut membuktikan bahwa sangat tidak pantas apabila moral dan harga diri kaum jomblo direndahkan begitu saja. Karena bagi sebagian orang, menjomblo adalah sebuah revolusi dan berpasangan adalah sebuah ketertindasan. Tentu saja bagi kebanyakan orang argument itu tidak patut disepakati dan harus dikritisi. Tetapi bagi mereka yang memilih jalan itu, kebebasan berpendapatnya harus kita hargai.

Apalagi kalau mereka yang masih berusaha melepas status bujangannya namun hinaan dan cacian datang menghampiri mereka silih berganti tak terhenti. Bagi sebagian orang, hal tersebut mungkin adalah candaan atau guyonan yang layak untuk ditertawakan, namun bagi sebagian yang lain pasti akan berfikir bagaimana jika anda-anda sekalian yang menghina mereka berada dalam situasi yang mereka rasakan, mungkin saja tak setangguh perasaan yang mereka miliki.

Maka dari itu alangkah baiknya apabila kita sekalian merubah pandangan atau mainseat terhadap kaum jomblo dan juga kejombloan itu sendiri. Yang harus kita pahami bersama adalah segala sesuatu termasuk jomblo dalam hal ini pasti memiliki hal-hal yang negatif dan positifnya masing-masing, apapun itu. Karena itu merupakan sebuah keniscayaan yang tak bisa kita toleril.

Bagi mereka yang menjomblo mungkin sering atau pasti akan merasakan bagaimana rasanya kesepian dan penderitaan hidup sendirian tanpa pasangan. Ketika melihat orang-orang lain bahagia dengan pasangannya, yang bisa mereka lakukan hanyalah membayangkan seraya berharap seandainya, misalnya, coba saja ataupun jika. Namun lagi-lagi ironisnya, semua itu hanyalah mimpi dan khayalan semata.

Namun sadarilah, ada nilai positif yang bisa diambil dari keadaan tersebut. Disadari ataupun tidak, inspirasi dan imajinasi yang mereka utarakan bisa menjadi sebuah ide brilian yang kalau bisa digunakan semaksimal mungkin, itu bisa jadi sesuatu yang bernilai tinggi. Karena jika kita kaji kembali, semakin seorang jomblo itu berfikir, berimajinasi bersamaan dengan semakin tertekannya perasaan mereka, semakin deras pula inspirasi-inspirasi keluar dari pemikiran mereka.

Bahkan mungkin saja apa kedepannya nanti akan lahir Isaac Newton ataupun Tan Malaka baru yang akan mengubah perspektif orang-orang yang selama ini merendahkan kaum jomblo. Apalagi dengan keadaan kita sekarang yang masih menghadapi pandemi Covid-19, anjuran dari pemerintah untuk mengurangi kegiatan di luar rumah menyebabkan mereka-mereka yang harus rela terpisah dengan pasangannya begitu menderita karena tidak kuat menahan rindu bukan?

Kalau sudah berbicara tentang urusan menahan rindu apalagi melawan kesepian, jomblo lah pakarnya. Karena dengan segala macam penderitaan yang mereka alami ditambah lagi cercaan dan hinaan yang mereka terima menciptakan imunitas yang kuat dalam diri mereka untuk melawan pandemi virus kesepian dan kerinduan. Maka sudah sepantasnya bagi kaum jomblo untuk mendapatkan kehormatan yang layak diantara kita semua.

Sulit membayangkan apabila para jomblo-jomblo yang sehari-harinya harus berjuang melewati masa-masa sulit dalam kesendiriannya, apalagi dengan cobaan yang silih berganti bersatu dan melawan segala macam bentuk ketidakadilan yang selama ini mereka rasakan. Saya rasa  kalau DPR merancang RUU Penghapusan Kekerasan Bujangan pun tak bisa meredam kekacauan yang akan terjadi.

Terlepas dari apapun itu, yang lebih penting dan harus kita tekankan bersama adalah bagaimana terciptanya rasa toleransi yang tinggi, baik dari kaum-kaum berpasangan, ataupun kaum-kaum jomblo. Karena siapapun dia dan bagaimanapun dia, kaum-kaum jomblo juga merupakan makhluk Tuhan yang mungkin saja kemuliaannya melebihi siapapun.

Maka dari itu, saya tekankan kembali agar siapapun mereka, jangan sekali-kali merendahkan kaum jomblo. Ingatlah selalu sila kelima dari Pancasila yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” dan “Bhinneka Tunggal Ika” yang selama ini kita bangga-banggakan. Karena yang paling penting adalah bagaimana seharusnya kita mengamalkan nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila yang merupakan pedoman bagaimana kita berbangsa dan bernegara.