Mati memang sudah pasti akan kita temui, menjadi arwah gentayangan sudah hal biasa, tapi bagaimana jika arwahmu menjadi seonggok budak raja peminta tumbal. Tumbuh dalam alam berbeda, dirantai seperti anjing penjaga, melihat sanak saudara hanya dari kejauhan.

Edo, satpam rumah yang ternyata memendam cinta pada istriku, malam ini sedang merancang sesuatu. Ia merasa terhina setelah lusa kemarin, ditolak istri dan sekaligus harus kehilangan pekerjaan. Edo hanya berbekal ijazah SD, dulu istriku merasa kasihan dan memutuskannya menerima menjadi satpam rumah saja. Balasannya, aku yang harus mati di tangannya.

Malam di hari Sabtu, seperti biasa kami ingin beranjak keluar rumah untuk menghilangkan suntuk. Masih di tengah perjalanan, istriku mendapat kabar bahwa salah satu saudara sedang sakit. Kami memutuskan mengubah tujuan kami dan menggantinya dengan menjenguk saudara yang terletak di desa. 

Suasana semakin gelap, tak jauh dari rumah yang di desa, kami melewati jalan yang sangat menurun dan berbelok. Sesuai dengan yang Diharapkan  Edo, kami mengalami kecelakaan tapi untungnya istriku selamat.

“Yanto cari tumbal lagi, hati-hati pak,” kata salah satu warga sembari mengingatkan beberapa orang yang sedang mengangkat tubuh istriku.

Sedangkan tubuhku, belum ada yang berani menyentuhnya. Aku masih menatapnya, hanya ingin memastikan bahwa tubuhku akan selamat dari serangan Edo, karena ia menyamar di antara gerombolan orang-orang ini.

Saat keluarga masih diselimuti rasa duka, semua tetangga malah sibuk menyalahkan Yanto. Aku sudah terbiasa dengan nama itu, ia menjadi mitos warga bahwa dia menjadi raja tumbal orang yang mati tepat di bawah pohon, yang persis menjadi tempat kecelakaanku. Memang, aku tak begitu mengetahui asal usul itu, tapi semua orang selalu menyalahkannya.

Seperti halnya waktu dulu, ada seorang anak perempuan yang jatuh dari sepeda tepat di bawah pohon ini, dan ia pun memiliki nasib sama sepertiku. Menjadi omongan warga jika kami akan jadi budak raja tumbal, setelah tubuhnya benar-benar terkubur. 

Beberapa orang dengan pakaian anehnya dan perlengkapan sesajen menuju ke arah pohon ini. Kemudian salah satu dari mereka, yang terlihat paling tua, merapal sebuah doa dalam bahasa Jawa. Sepertinya dia juru kunci pohon ini. 

Andai saja mereka dapat melihatku, mungkin aku sudah habis di pukuli mereka. Karena aku tertawa terbahak-bahak mendengar beberapa doa yang diucapkan dalam bahasa Jawa, ada beberapa kata memang yang takku mengerti artinya, tapi otakku masih bisa menyambung untuk maksud dari doanya. 

Saat ini mereka menyebut namaku setelah beberapa baris nama yang lainnya, aku terpingkal-pingkal. Apalagi namaku disebut sampai tiga kali dengan suara keras seperti nama Yanto.

Aku berjalan turun meninggalkan gerombolan orang aneh itu, berjalan ke sana kemari. Ingin pulang menjenguk istri, tak tega karena ia masih terpukul, ditambah dengan gosip tetangga yang membuat istriku tak bisa berhenti memanggil namaku. 

Sanak saudara yang lain, ternyata juga masih ada yang dendam denganku, malah sibuk membuka aibku kepada tetangga. Adik satu satunya, marah-marah kepada beberapa tetangga yang masih saja merasa kasihan karena nantinya aku akan jadi budak. Suasana duka dengan iringan peperangan.

Terlihat olehku di bawah sana gerombolan orang, seakan menonton pertunjukan orang aneh di atasnya.

“Hadi, mau ke mana kau?”

“Siapa kau? Kamu bisa melihatku?”

Orang itu memperkenalkan diri, bahwa dia adalah Yanto. Ternyata ini sosok raja tumbal, dengan beberapa nyawa yang sudah jadi budaknya, batinku. Dia menyuruhku duduk, tapi aku menolak, membantah keras jika aku tak mau jadi budak tumbalnya. Mereka semua malah tertawa, salah satu dari mereka berbicara, “Jika kau tak ikut kami, kau tak akan bisa menemukan tempat yang nyaman.”

Yanto menghampiriku, kelihatannya dia tak seburuk yang diceritakan. Sebelum ia mengajakku kembali ke atas, Yanto mengenalkan satu persatu semua orang ini.

“Kalau itu namanya Ngadimen, dia meninggal jatuh dari pohon itu”

“Mungkin kau kenal dengan yang itu, anak perempuan itu...” ia melanjutkan bicaranya.

Aku melihat dengan detail anak itu, ternyata dia adalah anak yang jatuh dari sepeda dulu. Jika dia menjadi budak, kenapa ia terlihat bahagia. Bermain dengan air sungai, meski tak bisa merasakannya. Semuanya membuatku bingung.

Setelah semua sudah di kenalkan oleh Yanto, kami naik ke atas. Yanto kembali memperkenalkan beberapa orang tapi bukan arwah, melainkan gerombolan aneh yang aku maksud tadi. Yanto sangat hafal betul dengan mereka semua, menyebutkan nama dan juga tempat tinggal, bahkan kedudukannya.

Dia memanjat pohon itu, aku pun mengikutinya. Saat duduknya sudah di rasa nyaman, ia menghembuskan napas dan mulai bercerita. Yanto mengatakan jika dirinya adalah orang biasa, berprofesi sama umumnya dengan warga. Bercocok tanam, atau kadang menggembala kambing milik tuannya. Ia memiliki kebiasaan tersendiri, jika tubuhnya merasa lelah, ia akan beranjak pergi ke pohon ini. Pohonnya memang rindang dan tak terlalu tinggi jadi sangat mudah di panjat dan tentunya nyaman, menurut Yanto,

Hampir setiap hari, ia akan tidur di ranting pohon, kalau pun dia merasa suntuk atau lagi sumpek, kadang ia mengajak pohonnya berbicara. Seperti pernah ia ditolak oleh anak tuan pemilik kambing yang ia gembala, ia sangat mencintainya, tapi bagaimana lagi sudah nasibnya harus begini. Yanto pun menangis di pohon ini dan bercerita padanya.

“Jadi kau bunuh diri di sini, hanya karena di tolak?”

Yanto tertawa, kemudian ia melanjutkan bahwa dirinya memang senang di sini. Senang bercerita pada pohon, karena menurutnya pohon hanya akan menjadi pendengar setia dan tak akan pernah membalas dengan apa pun. Tak seperti aku katanya, yang belum selesai sudah menyimpulkan sendiri dan selalu berprasangka buruk.

Aku tersipu malu, ia mengutarakan jika dia tak sebodoh yang aku pikir. Dia tidak akan mengakhiri hidup untuk masalah perempuan saja. Raut wajahnya berubah, terlihat sedih. Waktu itu Yanto mendengarkan pembicaraan tuannya dengan orang itu, ia menunjuk orang tua yang merapal doa tadi. Yanto mendengar jika tuannya siap melakukan apa pun, untuk menjadi kaya, meski harus kehilangan anaknya.

“Kau ingat anak perempuan tadi?”

“Oh yang meninggal jatuh dari sepeda?”

“Benar, dia adalah anak ke empat yang menjadi tumbal”

Perempuan yang Yanto cintai, atau juga yang bisa di sebut kakak anak perempuan tadi, dia tak menjadi tumbal perbuatan ayahnya. Tapi ia sekarang sudah menjadi gila, karena semua anaknya juga menjadi tumbal. Ulah suaminya sendiri. Aku melihat wajahnya semakin sedih, mungkin karena perempuan yang di cintai tak bahagia.

Kemudian ia mencoba menyanggah air matanya, melanjutkan kembali ceritanya. Setelah kejadian tak sengaja itu, ia harus menjadi buronan anak buah orang ini, sekali lagi ia menunjuk orang tua yang merapal doa. Mereka mencari Yanto sampai ke ujung desa, sampai ada satu temannya yang menyebutkan tempat yang di sukai Yanto,

Tepat di pohon inilah, ia ditemukan. Kemudian dia di hajar sampai mati dan kepalanya dipenggal. Aku melihat luka di lehernya, jika orang dapat melihat, pasti akan muntah. Tulang tenggorokannya sudah putus , dari tadi ia sibuk menyanggah kepalanya agar tegak dengan tangannya. Namun kadang ia membiarkan bergelantungan.

Yanto menjelaskan bahwa gerombolan aneh ini sangat licik, ia menggantungkan tubuh Yanto pada pohon ini. Seakan terlihat bahwa ia bunuh diri, karena frustrasi. Hingga setelah kejadian itu, satu persatu tumbal yang disiapkan harus mati atau memang di buat seperti mati di tempat ini. Kemudian aku menyangkal karena aku bukan menjadi budaknya hanya saja, aku kebetulan mati di sini dengan rencana yang sudah di buat oleh Edo.

“Namun semua tetap menjadi salahku.”