Tidak seperti biasanya yang sepi. Pada malam itu WAG (WhatsApp Group) Literasi kami sangat ramai sekali yang nimbrung berkomentar.

Awalnya gara-gara ada salah seorang sahabat saya di tengah obrolan di WAG yang melontarkan pertanyaan begini, "Abang kapan menikah? Jangan kelamaan, bang, kasihan sama mbaknya."

Pertanyaan itu men-tag nama saya. Tentu pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan yang sangat menjengkelkan. Pertanyaan abad ke-21 yang paling sering muncul adalah pertanyaan-pertanyaan dangkal yang semacam itu.

Sangking jengkelnya, saya balas chat tersebut dengan nada yang sedikit arogan.

"Nikah bagi saya adalah masalah yang tidak sepele! Tidak hanya soal ibadah untuk membikin anak. Tidak cuma tentang ibadah sunnah yang dianjurkan bagi yang sudah mampu. Nikah bisa jadi merupakan tawaran 'penindasan' lelaki kepada calon istrinya."

Chat terkirim, setelah beberapa menit langsung rame yang berkomentar. Ada yang pro dan ada juga yang kontra.

Yang pro langsung berkomentar, "agar tak begitu, untuk calon Ibu peradaban, coba baca buku 'Istri Bukan Pembantu'," balas seorang kawan.

Tapi ada juga yang kontra, mengomentari begini, dengan nada yang sepertinya sedikit emosional, "kok! Bisa gitu ya?"

"Perempuan bukan 'budak', dan saya melihat pernikahan sekarang sudah sampai pada makna 'penjara' bagi kaum perempuan." Balas saya lagi untuk menyudahi pembicaraan yang membosankan itu.

Tentunya pembicaraan di dalam WAG tidak hanya sampai disitu, serang-menyerang lewat komentar semakin riyuh dan ricuh. Tapi saya sudahi untuk tidak terlalu menanggapi.

***

Saya bukan tidak tertarik membicarakan soal pernikahan, sebagai manusia normal itu tentu menikah adalah sesuatu yang wajar. Dan tentu sudah pernah dibahas ratusan kali oleh ustaz/ustazah di dalam pengajian yang sudah tidak asing kita dengar.

Saya hanya tidak mau kita terjebak menafsirkan kosa-kata 'pernikahan' dengan makna yang sangat dangkal dan tanpa dasar. Dan apalagi hanya didasari oleh nafsu sesat dan ikut-ikutan, karena terprovokasi tetangga yang sudah nikah duluan.

Bagi saya upacara pernikahan adalah sesuatu yang sakral, dalam pandangan Islam pernikahan adalah merupakan suatu ibadah yang terpanjang bagi umat manusia.

Bukan berarti pula saya menolak untuk menikah. Tidak! Saya hanya tidak mau perempuan terpenjara dalam jeruji pernikahan dan dibatasi perannya hanya menjadi seorang ibu, dikarenakan kurangnya pengetahuan sang suami. Padahal perempuan bukan hanya pembantu bagi suaminya, bukan pula pesuruh bagi anak-anaknya.

Saya jadi teringat dengan sebuah novel klasik "Saman" karya Ayu Utami, menceritakan budaya pernikahan yang diagung-agungkan oleh masyarakat pada umumnya, dan diakui legalitasnya oleh negara. Sindiran sarkastis yang dilontarkan oleh Ayu Utami masih melekat dalam ingatan saya. 

Yang sudah menikah pun tidak mendapatkan kebahagiaan dari sebuah pernikahan yang sah dari sebuah lembaga pernikahan dan malah berakhir dengan merusak rumah tangga orang lain, karena budaya patriarkal yang masih mengekang pikiran banyak orang dan kurangnya pengetahuan yang mendalam tentang makna pernikahan.

Hal tersebut bukanlah fiksi bagi saya, merupakan sebuah realita. Banyak teman kuliah dan orang-orang di kampung yang saya temui begitu adanya.

Orang tua sudah puluhan juta habis biaya, untuk membayarkan pendidikan bagi anak-anaknya. Tiba sebelum selesai kuliah langsung menikah.

Sang laki-laki, calon suaminya dengan gagah berani bilang ke orang tua sang perempuan, bahwa dia sanggup melanjutkan pendidikan anaknya.

Setelah beberapa bulan berjalan pernikahan, akhirnya sang perempuan kandas di tengah jalan. Kuliah pun tidak selesai. Uang orang tua yang sudah habis puluhan juta sirna begitu saja. Karena sang laki-laki sudah tidak sanggup lagi membiayai, belum lagi kuliah istri, dan ditambah lagi biaya untuk kehidupan sehari-hari.

Alhasil, sang perempuan terpenjara hidupnya hanya menjadi seorang ibu rumah tangga. Cita-cita orang tua kian sirna.

Saya tahu, menikah dan mengurusi keluarga juga merupakan ibadah. Dan menjadi ibu rumah tangga bukanlah sesuatu yang hina. Tapi sangat tidak adil rasanya, jika alasan itu kita lupa berapa banyak orang tua yang sudah habis uangnya, serta harapan yang kita lenyapkan begitu saja.

Yang paling menjengkelkan, pria yang menikahi perempuan tersebut sering berdalih pakai ayat kitab suci. Sudah capek-capek sang perempuan bergelut dalam setengah pendidikan, akhirnya hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Saya rasa sang perempuan pasti juga sakit hati dan kecewa, tapi di depan publik pura-pura bahagia dengan suaminya dan seolah-olah taat agama.

***

Hal-hal semacam itu sangat sering saya temui, baik yang menikah dalam kondisi belum selesai kuliah dan ada juga menikah baru saja selesai kuliah. Yang pada akhirnya tidak menjadikan apa-apa bagi kaum perempuan.

Hanya menjadi siklus; Kuliah-Nikah-Punya anak-Bahagia atau pura-pura bahagia-Mati. Hanya sesederhana itu hidup yang dilakoni, tanpa ada pencapaian-pencapaian besar yang mendobrak cara pandang hidup yang lebih dahsyat.

So, sebelum menikah, pikirkan dengan matang, pahami dan dalami pengetahuan tentang pernikahan. Mau menuju jalan kemajuan atau jalan kehancuran?

Menikah tidak cukup dengan hanya bermodalkan keberanian dan kecukupan materi saja, tetapi harus diikuti oleh pengetahuan. Karena akal tidak bisa membenarkan segala sesuatu, tapi ilmu pengetahuanlah yang menuntun kita kepada jalan kebenaran, terutama dalam meniti hubungan disebuah ikatan pernikahan.

Perempuan bukan hanya makhluk pelepas nafsu sesaat. Ia merupakan makhluk merdeka yang sama dengan laki-laki. Diharapkan  bukan hanya mampu membersamai suami, tapi juga mampu mencetak generasi emas dan berkualitas. 

Ya, generasi penerus agama dan bangsa, serta pemimpin dimasa depan. Dari rahimnyalah lahir generasi-generasi emas penakluk dunia. Itu semua tidak didapatkan, jika sang suami masih tertanam cara pandangnya dalam budaya patriarki.