Sore itu saya mendapatkan kabar dari supervisor di rumah sakit, dokter spesialis paru ingin meminta waktu saya untuk berdiskusi. Saya pun menyanggupinya dan menyediakan waktu untuk menemuinya.

Selepas magrib, kita mulai berdiskusi di ruang poli. Dengan membuka data  di laptopnya mengalirlah cerita dari beliau.

Beliau adalah dokter konsultan paru kerja, satu satunya di propinsi. Beliau ahli tentang penyakit paru yang disebabkan oleh karena lingkungan di pekerjaan. Bertahun – tahun beliau sudah berkecimpung dalam penelitiannya, tapi ada kendala yang sulit diatasi dan menjadi beban dalam pekerjaannya.

Banyak penyakit paru yang sebenarnya adalah penyakit akibat kerja (PAK) namun salah didiagnosa sebagai penyakit TBC. PAK contohnya adalah silikosis (penyakit akibat terpapar silika bebas), bagassosis (akibat debu serat), asbestosis (karena debu asbes), pneumoconiosis (akibat debu batubara), dll.

Pasien dengan Penyakit paru kerja seringkali datang terlambat mendapatkan pengobatan, akhirnya semakin memburuk bahkan meninggal dunia.

Karena kebanyakan pasien adalah karyawan perusahaan yang menjadi peserta BPJSK dan BPJSTK, maka sisi penjaminan juga berbeda.

Bila pasien didiagnosa sebagai TBC penjaminnya adalah BPJS kesehatan (BPJSK) dengan tariff ina cbgs yang terbatas.

Sedangkan bila terbukti sebagai PAK, maka penjaminnya adalah BPJS Tenaga Kerja (BPJSTK) dengan klaim tak terbatas.

Propinsi tempat saya bertugas dan khususnya di kabupaten ini banyak sekali perusahaan – perusahaan industri besar mulai skala nasional hingga internasional mulai dari pabrik A hingga Z yang dapat memberikan resiko terjadinya PAK.

Bahkan ada salah satu perusahaan industri yang mengklaim sebagai perusahaan terbesar di dunia di kelasnya. Jumlah karyawan perusahaan yang bertebaran di kabupaten kami besarnya hingga menyentuh angka 40 ribuan orang karyawan.

Beliau sudah menyampaikan hal tersebut kepada IDI setempat hingga propinsi, ke dinas kesehatan, rumah sakit pemerintah hingga ke universitas negeri tempatnya mengabdi.

Namun tidak ada yang bisa menangkap penjelasannya, bahkan tidak pernah ada tindak lanjutnya. Beliau mencoba berikhtiar untuk menyampaikan ini kepada saya selaku direktur rumah sakit swasta dengan harapan agar dapat bekerja sama.

Beliau kemudian memperlihatkan bagan skema yang dibuatnya sendiri bagaimana kerjasama dengan beberapa pihak stake holder untuk menyelesaikan masalah ini lengkap dengan penjelasannya.

Melihat skema itu awalnya saya pun menganggapinya biasa saja, buat kami rumah sakit swasta tipe C juga tidak melihat adanya peluang kerjasama.

Hingga kemudian saya bertanya, mengapa dokter tetap ngotot memperjuangkannya.

“Saya kasihan sama pasiennya, pasien perusahaan PAK yang diidentifkasi sebagai penderita TBC seringkali dikucilkan, kemudian di PHK, tidak mendapatkan pesangon dan kemudian meninggal dunia karena tidak mendapatkan pengobatan yang layak. Ada beberapa pasien saya dengan kecurigaan bagassossis meninggal dunia di usia produktif, dalam keadaan terlambat terdiagnosa dan sudah tidak dipekerjakan.”

Entah mengapa jawaban tersebut kemudian membuka mata hati saya. Tanpa pikir panjang maka saya langsung menawarkan untuk mengadakan seminar sehari di rumah sakit dengan mengundang para stake holder dan juga perusahaan besar. Saya mengusulkan bahwa beliau adalah pembicara  utamanya, saya moderatornya. Tujuan utamanya sederhana saja yaitu sosialisasi masalah Penyakit paru kerja.

Hari H seminar dimulai, saya harap – harap cemas berdoa agar stake holder terkait bisa hadir. Alhamdulillah satu persatu undangan datang memenuhi aula. Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Disnaker, Kepala BPJSTK Kabupaten dan Propinsi, perwakilan IDI, HRD perusahaan – perusahaan besar sekitar 30an perusahaan industri.

Pertemuan berjalan dengan baik dan lancar, banyak pertanyaan dan banyak juga penjelasan. Kolaborasi yang diharapkan sepertinya dapat terjalin. Saya bersyukur para hadirin dan undangan nampak puas dengan acara yang diselenggarakan.

Tepatnya dua minggu setelah seminar, datang satu pasien usia laki laki 40 tahun yang dicurigai oleh dokter konsultan paru kerja sebagai pasien dengan PAK.

Pasien adalah seorang pekerja di industry X, seorang mandor yang mengawasi kerja karyawannya. Lingkungan tempat kerjanya banyak terpapar herbisida. Pasien sudah bekerja selama 10 tahun, yang 8 tahun sebagai pengawas kantor dan  dua tahun belakangan ini bekerja di lapangan

Pasien mengalami apa yang disebut sebagai Acute Respiratory Distress Syndrome, pasien mengeluh sesak napas dan saturasi oksigen di kisaran angka 75-80% (normalnya diatas 94%). Berdasarkan anamnesa pasiennya keluhan sakitnya akut bukan proses yang lama (hitungan minggu).

Gambaran Foto Rontgen dada memang menunjukkan kerusakan sistemik di seluruh lapangan paru kanan dan kiri. Mengalami kegawatan napas, pasien akhirnya masuk ICU dengan dibantu alat ventilator mode CPAP. Sebagai diagnosa pembanding dokter menuliskan TB milier

Hebohlah kita semua, selama 11 tahun rumah sakit ini beroperasional belum pernah ada diagnosa PAK. Selama bekerja sama dengan BPJSK dan BPJSTK belum pernah ada kami menangani kasus seperti ini. Mulailah konflik terjadi, baik dari rumah sakit, dokter, perusahaan, BPJSK dan BPJSTK. Siapakah yang menjadi penjaminnya?.

Awalnya perusahaan ngotot agar penjaminnya BPJSK karena tidak pakai ribet administrasinya, Dokter spesialis juga mulai goyah karena sudah berhari – hari tidak ada kejelasan penjaminnya, takut biaya membebani rumah sakit, dan BPJSTK belum juga memberikan kepastian dan perhatian.

Semuanya bingung, akhirnya datanglah supervisor menemui saya, menanyakan solusinya sedangkan billing pasien sudah puluhan juta rupiah.

”Teruskan saja pengobatannya, saya yakin dokter konsultan paru benar, bila beliau salah maka satu Indonesia salah semua, saya percaya beliau memang betul ahlinya.”

Saya putuskan kita tetap bertahan.

Hari berganti hari hingga hampir dua minggu belum ada kejelasan, sedangkan tagihan terus membengkak. Saya akhirnya juga ikut deg degan, tapi Alhamdulillah kondisi pasien memang berangsur – angsur membaik. Meskipun saturasi oksigen belum normal, pasien sudah bisa pindah ke ruangan.

Hingga hari ini kesabaran kami terjawab, saya mendapatkan kabar bila kejelasan penjaminnya menemui titik terang. BPJSTK akhirnya bersama disnaker bersedia datang melihat perusahaan tempat pasien bekerja.

Mereka pun telah datang ke rumah sakit untuk mengetahui perkembangan kondisi pasiennya. Dokter konsultan paru pun diminta membuat kronologi perjalanan sakit pasiennya. Selama diagnosanya tegak PAK, maka BPJSTK siap menjadi penjaminnya.

 Alhamdulillah saya mendapatkan WA dari dokternya yang menyampaikan hasil pemerikasaan CT paru terbaru disamping pemeriksaan penunjang lainnya, menegaskan diagnosa pasien sebagai Acute Respiratory Distress Syndrome karena pnuomonitis yang diakibatkan oleh inhalasi herbisida.

Saya pribadi bersyukur dan senang karena akhirnya dapat menolong satu kepala keluarga yang sudah mengabdi sekian tahun di perusahaan untuk tetap mendapatkan haknya sebagai karyawan perusahaan di saat ia sedang sakit.

Saya juga senang bila kasus ini bisa jadi pelajaran untuk semuanya, terutama untuk perusahaan yg bersangkutan dan karyawan agar lebih berhati – hati mengutamakan kesehatan dan keselamatan kerja supaya tidak terulang kembali.

Dan yang paling membuat saya senang adalah ketika saya bisa sedikit membantu dokter konsultan paru kerja untuk dapat berbuat optimal menolong pasiennya. Sesuatu yang sudah dari dulu sangat beliau rindukan.

Tulisan ini hanya bagian dari ikhtiar saya agar ada lagi kelanjutan dari cerita ini, kolaborasi yang lebih baik dari semua stake holder, untuk dapat lebih banyak menolong pekerja industri di Indonesia.

Terima kasih.