Sering kita dengar dan banyak orang yang salah sangka menganggap santri adalah orang udik/desa , mereka hanya mempelajari ilmu agama. Mereka kurang atau tidak belajar keterampilan kerja dan ilmu pengetahuan.

Bahasa yang dipakai bukan bahasa yang baik dan benar. Apakah pengetahuan agama dapat untuk bekerja? Apakah gunanya menghafal Al qur’an dan hadist? Dapatkah hafalan itu untuk modal kerja? Lebih baik anak-anak disekolahkan ke sekolah teknik, ekonomi, kedokteran, peternakan, pertanian.

Hem, mungkin banyak yang belum tau siapa itu santri dan hanya memandang santri dari sisi negatifnya saja. Padahal santri adalah tokoh sentral dan panutan umat di masa yang akan datang. Nah, ternyata penilaian buruk tentang santri itu tidak benar jika sudah mengetahui dan memperhatikan mereka lebih dalam.

Menurut K.H. Ma’ruf Amin saat menjabat sebagai Rais ‘Anam PBNU mengatakan, sebutan santri bukan hanya diperuntukan bagi orang yang berada di pondok pesantren dan bisa mengaji kitab. Namun santri adalah orang – orang yang meneladani para kyai.

Sedangkan menurut ulama’ dari Pandeglang, Banten, K.H. Abdullah Dimyathy, huruf sin merujuk pada satrul al ‘awroh atau “menutup aurat”; huruf nun berasal dari istilah na’ibul ulama’ yang berarti “wakil dari ulama”; huruf ta’ dari tarkul al ma’ashi atau “meninggalkan kemaksiatan”; serta huruf ro’ dari ra’isul ummah atau “pemimpin umat”.

Banyak yang mengira santri itu tidak bisa bekerja karena hanya berbekal modal ilmu pengetahuan agama saja. Padahal santri itu dapat menjadi orang yang paling beruntung di dunia dan akhirat. Mengapa demikian?

Pada dasarnya santri adalah orang yang akan mendakwahkan kebenaran. Apalah arti mengetahui dan memahami kebenaran jika hanya untuk dipendam seorang diri saja. Kebaikan yang kita peroleh tidak akan mengalami akselerasi atau percepatan.

Memahami sebuah kebenaran, kemudian mengamalkannya sebagai bentuk ibadah kepada Allah, disusul kemudian dengan menyampaikannya kepada orang lain supaya merekapun mengerti dan mengamalkan, Maka ketika itu kita sedang berinvestasi kebaikan yang buahnya akan kita petik baik sejak di dunia maupun kelak di akhirat.

Di pesantren memang setiap santrinya mempelajari ilmu agama, akan tetapi bukan berarti semua lulusan pesantren harus menjadi seorang ustadz maupun kyai.

Ilmu agama merupakan bekal yang diberikan sebagai penyetara dari ilmu-ilmu umum, agar kelak ketika lulusan-lulusan pesantren sudah berbaur dengan dunia luar, mereka tidak akan lupa akan kewajibannya sebagai seorang muslim.

Dengan bekal ilmu agamanya lah, diharapkan kesibukannya tidak akan membuatnya lupa akan jati diri seorang muslim. Karena yang terpenting, apapun profesinya, diharapkan dapat menjadi jalan dakwah bagi setiap santri.

Jangan pernah remehkan santri. Karena lulusan pesantren bisa dan boleh saja menjadi apapun. Santri tetaplah santri, apapun profesi yang ia tekuni, apapun bakat dan skill yang tumbuh dalam dirinya sejak dini. Santri bisa menjadi pribadi yang fleksibel dalam memilih aktifitas.

Mereka bisa memilih menjadi guru, polisi, tentara, pembisnis, hakim, mentri, bahkan presiden. Banyak kok lulusan-lulusan pesantren yang jadi orang-orang terkenal. Sebut saja Syakir Daulay, Wali band, Ahmad Fuadi, dan masih banyak lagi. bahkan mantan presiden ke 4 Indonesia yaitu K.H Abdurrahman Wahid.

Karena bagaimanapun para santri dibekali dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh para kyai. Berupa wawasan islam yang ramah dan wasathi. Adapun makna wasathi secara istilah adalah sebuah kondisi yang terpuji yang menjaga seseorang dari kecenderungan menuju dua sisi/sikap yang ekstrem, sikap berlebih-lebihan dan melalaikan.

Sikap wasathi atau moderat melingkupi segala hal. Sebagaimana yang dituliskan Prof. Quraisy Shihab dalam bukunya, “wasathiyah” beliau menerangkan sikap moderasi di dalam semua aspek kehidupan, seperti dalam beragama, berinteraksi dengan manusia, berumah tangga, hingga negara.

Apapun profesinya, ciri santri adalah tetap menjaga nilai-nilai perdamaian dan tidak pernah, bahkan malu untuk membuat suatu kekacauan dan ketidakseimbangan di tengah-tengah masyarakat.

Tetaplah tumbuhkan bakat kita semua, bangunlah impian dan cita-cita, dan berlatihlah, karena salah satu fungsi pesantren adalah Makan li al-Tamrin.

Hmm, sudah paham, kan? Siapa itu santri sebenarnya? Seseorang yang hebat juga multitalent. Selain itu, santri juga keren lho

Oke kita jelasin alasan mengapa jadi santri itu keren. Kalian cinta Indonesia, kan? Pastikan...apalagi santri, mereka bukan hanya sekedar cinta, tapi juga siap untuk mengamankan negara tercinta kita Republik Indonesia.

Santri adalah kelompok yang sangat mencintai Negaranya, menghormati gurunya, mendoakan dan selalu berbakti kepada orang tuanya. Banyak orang yang mengatakan bahwa santri tidak pernah ikut bejuang demi kemerdekaan Negara Indonesia. Tetapi sejarah mencatat bahwa Indonesia merdeka tidak lepas dari perjuangan para santri.

Dahulu ada santri tebu ireng namanya Asy’ari naik ke Hotel Orient sekarang Hotel Majapahit, menyobek bendera Belanda menggantikan bendera merah putih. Asy’ari ditembak oleh para penjajah tapi masih tetap selamat.

Maka dari itu, pada tanggal 10 November menjadi peringatan hari pahlawan karena darahnya kyai dan para santri.

PBNU pun menyatakan pada tanggal 22 Oktober menjadi peringatan hari santri nasional. Sesuai dengan fatwa dari sejumlah kyai yang mengeluarkan keputusannya bahwa membela tanah air hukumnya fardlu ‘ain setiap orang wajib membela tanah air seperti wajibnya shalat dan puasa.