Di era serba digital seperti ini, semua orang pasti memiliki media sosial. Banyak orang memiliki lebih dari tiga akun media sosial. Untuk satu platform saja, banyak orang yang mempunyai lebih dari dua akun. Jadi, tak heran jika media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. 

Maka dari itu, banyak dari kita yang selalu men-share ­segala aktivitas yang kita lakukan dan bahkan curhat. Misalnya, ketika kita sedang liburan ke suatu tempat. Sepertinya kurang afdal jika tidak mengunggah foto di tempat tersebut. Apalagi jika liburan tersebut dibersamai oleh kekasih hati.

Sebenarnya, sah-sah saja jika kita selalu mengunggah apa yang kita mau. Asalkan tidak menyinggung SARA dan tidak membuat tindakan kriminal, hal itu dapat kita terima. Namun, yang menjadi permasalahan adalah ketika kita selalu merasa insecure atau bahkan merasa ke-trigger dengan unggahan tersebut. 

Misalnya saja, ketika ada teman kita yang mengunggah ke-uwu-an mereka bersama sang kekasih hati di suatu tempat yang indah. Biasanya, para jomblo akan merasa iri dengan unggahan tersebut sambil bergumam “kapan ya?”.

Tak hanya unggahan orang pacaran yang membuat kita iri, unggahan jalan-jalan bersama teman-teman dan makan makanan enak pun kadang-kadang membuat kita iri. Rasa iri akan semakin bertambah jika kita melihat isi dompet dan tagihan yang harus kita lunasi. 

Lalu, bagaimana kita harus menyikapi unggahan tersebut? Hal utama yang harus kita pahami adalah bahwa unggahan tersebut hanyalah permainan framing. Jika di dalam pemberitaan, framing adalah bingkai berita yang disajikan kepada khalayak.

Metode seperti ini pastinya berusaha memahami dan menafsirkan arti dari sebuah teks atau tayangan dengan menggunakan jalan bagaimana media mengemas suatu isu. Hal inilah yang juga selalu diusahakan juga oleh para pembuat unggahan tersebut. 

Dalam framing yang diunggah, seharusnya kita tidak dengan mudah menelan mentah-mentah unggahan tersebut. Ya, memang di dalam unggahan tersebut mereka terlihat bahagia apalagi jika unggahan tersebut berisi ke-uwu-an bersama pasangan kekasih.

Namun, siapa sangka, jika ditelurusi lebih dalam unggahan tersebut bisa jadi tidak ada indah-indahnya atau tidak mengandung unsur ke-uwu-an. Hal ini saya perhatikan sendiri dari salah seorang teman saya. Singkat cerita, teman saya selalu mengunggah kemesraannya bersama kekasih hati. 

Ketika sedang liburan ke suatu tempat dan makan bereng di sebuah tempat mereka mengunggahnya di akun media sosial masing-masing. Tak ketinggalan, momen ketika mereka sedang menggelar acara pertunangan pun mereka unggah. Di dalam unggahan tersebut, mereka terlihat akur, mesra, dan rasanya dunia hanya milik mereka berdua.

Namun, di lain hari, teman saya, sebut saja Milea pernah mencurahkan isi hatinya dengan saya bahwa sebenarnya dirinya ingin memutuskan hubungan asmaranya. Alasannya adalah karena Milea merasa terlalu dikekang dan merasa kurang merdeka. 

Hanya untuk duduk bersama teman lawan jenis atau sekadar boncengan dengan abang ojek pun Milea tidak diizinkan oleh pacarnya. Tak hanya itu, Milea juga tidak diperbolehkan mengunggah foto cantiknya jika tidak bersama pasangannya. Sungguh, hubungan yang benar-benar tidak saya idam-idamkan.

Lain halnya dengan dengan salah satu kerabat saya yang mengunggah foto dan video keluarga barunya di media sosial. Mereka selalu mengunggah kebersamaan mereka di akun media sosial masing-masing. Kebersaman itu seperti menggambarkan bahwa mereka adalah keluarga yang ideal. 

Namun, siapa sangka jika sebenarnya keluarga mereka sedang tidak baik-baik saja. Seperti yang terjadi di banyak keluarga, sistem patriarki sangat mengakar di keluarga kerabat saya tersebut. 

Di mana pekerjaaan domestik full di-handle oleh sang istri. Suaminya hanya sibuk bekerja (saat ini sedang bekerja di rumah), bermain telepon pintar, dan menonton televisi. Sungguh bukan keluarga yang tidak ingin saya bina.

Dengan adanya kejadian-kejadian tersebut, sebenarnya kita tidak perlu iri-iri banget dengan unggahan yang terlihat sangat mesra. Jika melihat unggahan tersebut, kita cukup berpikir bahwa itu adalah framing

Dari kejadian tersebut, seharusnya kita (yang jomblo) tidak perlu iri. Bahkan, sebenarnya, di dalam kejombloan kita terdapat kemerdekaan yang lebih dibanding dengan orang yang sedang menjalin asmara. Misalnya, ketika kita sedang ingin pergi ngobrol atau bahkan travelling dengan lawan jenis. Kita tidak perlu mendapatkan persetujuan dari seseorang.

Justru dengan kesendirian ini, seharusnya kita bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin tanpa terkekang oleh siapapun terutama sang pacar. Misalnya ketika kita ingin mengejar studi kita keluar negeri, mengembangkan bisnis, atau mungkin mengurus sebuah organisasi yang baik untuk perkembangan kita maupun orang banyak.

Maka dari itu, kita tidak perlu merasa iri atau bahkan ke-trigger dengan unggahan semacam itu. Jika masih merasakan hal itu, kita bisa menggunakan fitur mute, unfollow, atau hapus kontak. Toh, dengan menggunakan fitur tersebut, bukan berarti kita membenci orang itu. Hanya saja, agar kita merasa lebih aman secara mental dari unggahan yang kita anggap parasit tersebut.