Aku Cina.

Walaupun aku lahir di Indonesia, tidak bisa bahasa Cina, dan tidak pernah menginjakkan kaki di daratan Cina; aku tetap Cina. Dari kecil di kampung, anak anak sebayaku panggil aku: Cino! walaupun mereka tahu namaku. Aku masih ingat ketika keluargaku masih miskin dulu, aku ke sekolah naik angkot, dan anak anak kampung berteriak: Lihat ada Cina miskin!

Sejak kecil aku marah dengan perlakuan anak anak sebayaku di kampung. Mamaku selalu berkata bahwa kita harus menerima perlakuan mereka yang tidak suka kepada kita, karena kita Cina. Saya protes, mengapa Cina dimusuhi? kalau ada Cina kaya, banyak yang iri; padahal orang orang lain juga banyak yang kaya. Kalau ada Cina yang miskin, dihina; walaupun ada banyak orang miskin di Indonesia yang tidak mereka hina.

Sakit yang mendalam di hati kami karena tidak diterima sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Lalu aku mencoba bijak, mungkin kalau aku berkelakuan baik dan nasionalis, mungkin teman-teman sebaya aku mau membuka diri kepadaku. Aku dididik oleh keluargaku untuk selalu jujur dan bekerja keras. Melihat ketidakjujuran dan perilaku korupsi di mana-mana, aku merasa memiliki Indonesia dan berusaha berjuang untuk menjaga diri untuk tidak korupsi. Itu tidaklah mudah. Aku beberapa kali disingkirkan dari pergaulan karena tidak mau menoleransi ketidakjujuran.

Tetapi sebagai orang Kristiani, aku dikuatkan bahwa kejujuran itu disayang Tuhan. Memang benar, Tuhan itu baik dan ajaib. Karena salah memasukan surat lamaran ke divisi sales, aku diberi rejeki banyak hasil dari penjualanku yang lancar. Sehingga, komisi sebagai tenaga sales selama setahun bisa membawaku ke Australia untuk melanjutkan kuliah. Aku senang sekali.

Selama di Australia, aku bertemu dengan mahasiswa dari berbagai negara, salah satunya dari Cina. Berbekal sakit hati disia-siakan oleh sesamaku di kampung, aku berharap banyak diterima sebagai bagian dari Cina. Tapi aku salah. Mereka bilang bahwa aku itu bukan Cina! Karena aku tidak bisa bahasa Cina. Aku itu orang Indonesia.

Sakit hatiku bertambah dalam karena tidak diterima sebagai bagian dari mereka, dua bangsa besar. Di Indonesia aku adalah Cina, sedangkan bagi kebayakan orang Cina daratan aku adalah Indonesia.

Jadi, siapakah sebenarnya aku?

Bertahun tahun aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri karena terlahir sebagai orang Cina. Aku sempat menyalahkan orang tuaku, kenapa nenek moyangku keluar dari daratan Cina dulu. Aku juga sempat benci sekali dengan orang Cina. Kebencianku memuncak sampai aku tidak mau mendengar nyanyian bahasa Cina.

Aku merasa dengan membenci Cina maka aku menjadi sama dengan orang pribumi di Indonesia, dan aku salah. Walaupun aku lebih nasionalis daripada kebanyakan orang pribumi, tetapi buat teman-teman pribumiku, aku tetaplah Cina.

Dalam pertemanan, mereka masih sering menggunakan Cina bahkan ketika ngobrol dengan aku. Ketika ada teman kantor yang berkelakukan tidak menyenangkan, mereka selalu menyatakan bahwa mereka berkelakukan tidak baik karena mereka Cina. Kalau ada teman yang berkelakukan menyenangkan, mereka tidak pernah bilang karena mereka Cina, walaupun mereka juga sama sama Cina.

Ya, nasib sebagai orang Cina yang lahir di Indonesia memang bukan nasib yang jauh dari sakit hati. Walaupun aku dan keluargaku juga tidak mengerti asal mula kebencian yang luar biasa yang sudah mengakar terhadap Cina di Indonesia.

Aku bukan Ahok yang bisa tegar bilang: Aku Cina, mau apa? Aku tidak bisa berkata selantang itu bahkan kepada teman-teman dekatku yang pribumi. Aku cuma berharap waktu bisa berualng kembali, dan aku hanya berharap bahwa aku dan keluargaku terlahir lagi sebagai orang Cina di daratan Cina; atau aku dan keluargaku terlahir lagi sebagai orang pribumi di Indonesia.

Tetapi itu tidak mungkin terjadi, bukan.

Melalui tulisan ini, aku sangat berharap, paling tidak teman-teman dekat aku yang pribumi membaca dan mengerti isi hatiku bahwa masih ada rasa sakit hati di dada ketika menyebut aku itu Cina. Apakah mungkin bahwa kita bisa berteman baik karena memang kita saling berbaik hati, serasa sepenanggungan, tanpa mengingat-ingat atau menyebut bahwa aku Cina. Karena ketika kalian menyebut aku Cina, atau mengeluarkan kata Cina; yang sampai di hatiku adalah kata yang mengandung banyak kebencian dan penghinaan.  

Aku sadar aku Cina dan tetap Cina yang tidak diakui di daratan Cina sebagai orang Cina dan tidak akan pernah diakui sebagai bagian dari orang Indonesia. Kenyataan ini sudah seperti duri dalam daging yang tidak akan pernah bisa lepas dari Aku. Itu sudah sangat menyakitkan, jadi tidak perlu diingatkan lagi bahwa aku Cina.

Kembali aku mempertanyakan, sebenarnya apa sih yang menyebabkan pribumi di Indonesia sangat membenci Cina? Ya, mungkin masalah chemistry tidak bisa dipaksakan, dan memang kita tidak mungkin menyukai semua orang yang kita temui juga. Akan tetapi, aku berharap supaya kita sama sama berusaha untuk mengerti dan menghargai satu sama lain, termasuk dengan Cina-Cina di Indonesia.

Rasanya kalau mencari penyebab awal kebencian yang sudah mengakar tersebut, mungkin tidak bakal ada yang bisa menjawab dengan benar. Mungkin yang membenci Cina juga sudah lupa alasan mengapa Cina dibenci di bumi Indonesia ini. Kita semua tau, orang Cina di Indonesia dibenci karena mereka kaya raya.

Aku dan keluargaku tidak kaya raya, juga sering dijadikan sasaran kebencian dengan lontaran kata Cina bahkan oleh orang yang tidak mengenal kami. Lalu, banyak bangsa-bangsa lain di Indonesia, termasuk pribumi yang kaya raya, bahkan lebih kaya raya dari Cina di Indonesia. Tetapi semua orang kaya raya di Indonesia tidak dibenci sebesar bencinya terhadap orang Cina.

Kata orang, karena Cina itu korupsi uang Indonesia, makanya menjadi musuh bersama. Aku tidak pernah korupsi, malah pernah dijadikan musuh bersama yang korupsi, walaupun di antara mereka ada yang Cina juga. Bahkan kasus korupsi yang ditangani KPK juga melibatkan berbagai macam bangsa, termasuk pribumi, akan tetapi mereka tidak dibenci, karena mereka bukan Cina.

Jadi, marilah membuka diri, paling tidak terhadap teman teman dekat, lihatlah mereka, apakah mereka manusia yang menyenangkan atau bukan. Kalau mereka bukan orang baik dan tidak menyenangkan untuk berteman, maka jangan berteman dengan mereka. Penilaiannya karena alasan personal, bukan generalisasi: tidak berteman karena dia Cina.

Saya menulis ini supaya teman-teman dekat saya dan pembaca, terutama yang pribumi memahami ini: tolong dimengerti bahwa kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan sebagai bangsa apa, di keluarga mana dan dilahirkan di negara mana. Jadi, menjadi Cina itu juga bukan pilihan aku.

Kalau aku bisa milih, aku juga mau terlahir sebagai orang British dengan mata uang Pondsterling yang paling kuat sedunia, dengan bahasa ibu - English - yang diakui sebagai bahasa dunia. Belum lagi di negara maju tetapi bebas polusi, punya akses free visa dan free working visa ke negara negara persemakmuran di seluruh dunia.

Belum lagi sangat dihormati di Indonesia sebagai orang bule. Belum lagi, kalau terlahir sebagai orang bule, aku pasti cantik, tinggi, dengan rambut yang indah, biji mata biru. Tapi sayangnya aku tidak bisa memilih mau dilahirkan sebagai bangsa apa di mana.

Jadi mau tidak mau, dan sampai kapan pun, aku adalah Cina untuk orang Indonesia (yang sangat aku pedulikan dan masih sakit hati dibilang Cina); dan aku adalah Indonesia untuk orang Cina (yang ini aku ga peduli karena memang tidak ada Cina di hatiku). Tetapi tolong, jangan panggil aku Cina!

The moral of the story: Jangan pernah berpikir untuk pindah kewarganegaraan, karena anak cucu kalian akan mengalami hal yang sama seperti aku: galau seumur hidup - karena akan selalu menjadi asing, walaupun di negara sendiri.