Penikmat Diskusi
2 tahun lalu · 4791 view · 3 menit baca · Budaya akhi.jpg
http://www.thenational.ae

Jangan Panggil Aku Akhi!

Segelintir muslim di Indonesia seperti tengah mengalami antiklimaks dalam interaksinya di media sosial, mengapa? Karena yang aku sering lihat adalah penampilan cangkang-cangkang agama yang berlebihan seperti pakaian dan tata bahasa yang sangat ke-timur-tengahan. Memang bukanlah suatu perkara sebesar nine-eleven yang drastis mengubah citra Islam menjadi hitam, namun jangan anggap sepele fenomena kecil namun menjijikan ini.

Aku pengguna media sosial yang tidak pernah secara sengaja menambahkan (add) teman selain yang aku kenal dekat atau tokoh-tokoh yang aku hormati yang terkadang sudah tidak bisa menampung permohonan pertemanan lagi.

Namun aku juga hampir selalu menerima permohonan pertemanan dari orang-orang yang bahkan tak pernah aku kenal sama sekali. Sebagai konsekwensi, makin hari makin banyak aku saksikan orang “Timur Tengah Wanna Be” berwajah lokal di beranda media sosial ku melakukan aksi-aksi brutal anti etika.

Mereka menggunakan foto profil yang laki-laki dengan gamis, peci, lengkap dengan Mushaf Ustman yang sedang dibacanya (entah betulan atau pura-pura, yang pasti cover depannya memang tidak terbalik), sedang yang wanita dengan hijab yang menutupi sampai tak ada yang terlihat meski kadang cukup transparan yang mungkin disebabkan harga material yang berbeda-beda. Terlepas dari itu semua, aku menyatakan BAGUS dan tidak ada keberatan sedikitpun sampai situ.

NAMUN, sesuatu yang menjijikan mulai terlihat ketika salah seorang dari jenis (klan) ini membuat status yang mungkin ditujukan sebagai kritik terhadap suatu pihak, namun dengan kata-kata tuna-etika yang secara automatis menelanjangi baju-baju syariah yang mereka kenakan.

Kemudian hal ini semakin memburuk ketika diantara para likers statusnya, datang seseorang yang berbeda sikap. Kamu tahu apa yang aku saksikan? Lebih panas dari adegan film-film 17 plus meski bukan tentang mengumbar fisik, namun lebih buruk dari itu.

Mereka tidak segan-segan mem-bully seorang yang memiliki sikap berbeda itu dengan kata-kata yang iblis pun mungkin malu-malu mengucapkannya seperti “dasar tol*l”,  “makannya banyak ngaji supaya ente gak blo*n dan gagal faham”, ”perbanyak dzikir biar gak jadi anjing-anjing kafir”, ”pemikiran kaya gitu tuh sesat gobl*k!” dan banyak yang lainnya yang jangan sampai bila kamu punya anak, anak kamu pernah tahu bahwa ada manusia jenis ini di muka bumi atau lebih parah lagi bertemu langsung, itu kiamat Sugro buat kamu.

Yang saya heran adalah mengapa harus orang-orang macam ini yang berpenampilan alim dengan  gamis dan hijabnya, dengan ungkapan-ungkapan hipokrit seperti “ya akhi, jazakumullah....”, “ente tahu gak Presiden ente itu keturunan Cina komunis?”, “aduhhh ukh, syafaqilah yaahh..”.

Bagiku secara personal, ini jelas telah mereduksi nilai-nilai otentik Islam yang luhur dan jelas semakin jauh dan membangun generasi jenis penggibah syar’i yang sangat gelap.

Bila ada seorang dari jenis mereka dikritik secara mendalam dan rasional, mereka akan dengan mudah menyodorkan link-link website sebagai jawaban yang ke-shahihan-nya pun hanya di verifikasi dan di validasi oleh Ust. Googliyah atau Buya Al-Youtubi.

Dan mereka tidak akan mau kalah dengan memberikan kata-kata akhir yang biasanya menyatakan bahwa kritik yang disampaikan untuk mereka hanyalah fitnah kafir, dan mengajak kita untuk bertabayyun yang sama sekali jauh dari nilai tabayyun itu sendiri. Entah sampai kapan fenomena akhi – ukhti ini eksis sebagai trend yang cukup prematur dan kehilangan nilai fundamental kebenarannya.

Bagaimana kita tidak malu, melihat wanita berkerudung panjang-lebar namun setiap statusnya hanyalah berupa keluhan tentang masalahnya dengan tetangga atau teman-temannya, mengeluh pada keadaan yang membosankan, bagaimana tidak menjijikan pria dengan mushaf besar di tangannya namun dengan mudahnya mem-bully Presiden dengan kata-kata yang jauh dari etika intelektual. Haruskah Islam terus diwakili orang-orang tuna-ilmu dan tuna-etika?

Kyai Dahlan pernah mengatakan “Islam memang tidak akan terhapus dari muka bumi, namun bisa saja terhapus dari Indonesia”. Dengan melihat fenomena ini, peluang terhadap prediksi Kyai Dahlan bisa saja terjadi. Muslim kita buuaaaaaanyak, namun Islam itu sendiri hampir tidak ada spirit peradabannya. Seperti apa yang pernah dikatakan oleh Buya Syafii Maarif dalam salah satu ceramah pengajiannya, jumlah kuantitas tinggi tanpa dibarengi kualitas hanya akan menjadi beban sejarah.

Artikel Terkait