Akhir-akhir ini, ada kegiatan populer yang menjadi hobi baru sebagian besar kaum muda. Sebut saja 'rebahan'. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, 'rebahan' berarti tempat berbaring; pembaringan. Sedangkan kini rebahan diartikan sebagai sebuah kegiatan yang identik dengan malas-malasan.

Melansir cuitan @Handoko Tjung dalam akun Twitter-nya, "Agar tidak terdengar pemalas, jangan menyebutnya rebahan. Sebut saja 'Horizontal body battery-saving mode' alias mode hemat baterai tubuh horizontal (mendatar)". 

Bagaimana? Terdapat penetapan makna baru, bukan? Padahal rebahan tidak bisa langsung diartikan sebagai kegiatan bermalas-malasan. Makna tergantung pada latar belakang rebahan tersebut. Rebahan karena capek, rebahan karena lemas, rebahan karena sedang santai, atau rebahan karena tidak ada kerjaan?

Kenapa rebahan kali ini dimaknai sebagai kegiatan seorang pemalas? Jadi begini, ada istilah Mager (Malas Gerak). Anak muda sekarang sering melontarkan istilah tersebut.

Apa yang membuat malas gerak? Teknologi yang makin canggih dan menarik membuat segala hal menjadi lebih mudah. Apalagi sekarang sudah serba go; go-jek, go-ride, go-food (bercanda; tapi benar)Sehingga kita tidak perlu susah payah lagi ini dan itu.

Selain pengaruh dari teknologi, ada hal lain yang membuat malas gerak, di antaranya; banyak makan dan suasana hati yang buruk (galau). Berhubung zaman sekarang gawai sudah mengakar di tangan kita, jadi kita cenderung menghabiskan waktu dengan bermain gawai. Alhasil, ada generasi baru, yakni kaum rebahan.

Selayang pandang terhadap kaum rebahan. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda. Ada yang memandang kaum rebahan sebagai kaum apatis yang fokus dengan kegiatannya sendiri. Ada yang geram dan memandang negatif sampai mengeklaim kaum rebahan sebagai pemalas; tidak punya pekerjaan (pengangguran). Tapi ada juga yang memandang kaum rebahan adalah orang-orang merdeka yang menjalani hidup tanpa beban.

Mari kita gari bahawahi pandangan yang terakhir. Kaum rebahan adalah orang-orang merdeka. Jika penulis mengatakan "Rebahan adalah cita-cita bersama", kalian setuju atau tidak?

Terkhusus untuk kalian para mahasiswa dan para pekerja yang super sibuk. Pasti kalian lelah, dikejar deadline, bangun pagi tidur pagi, kerja non-stop, dan keseharian lain yang sangat melelahkan.

Sebagian dari kalian pasti ada yang geram melihat kaum rebahan yang supersantai; rebahan, main gawai, tidur, makan, main lalu rebahan lagi. Kesannya mereka memang terlihat santai setiap hari. Siapa tahu?

Tapi di balik geramnya kalian, pasti terbesit rasa ingin menjalani hidup santai seperti mereka.

"Duh males banget banyak tugas, kapan ujian ini berakhir Ya Allah, pengen cepet-cepet lulus. Setelah lulus pengen cepet-cepet kerja," setelah dapat pekerjaan "Kerja terus, gaji gak seberapa. Lelah Ya Allah, pengen rebahan aja". Sesungguhnya, sebagai manusia, tentu sangat manusiawi jika mengeluh.

Tapi ingatkah kalian, bukankah kalian menjalani hidup yang sudah kalian pilih? Kalian memilih menjadi mahasiswa, berarti kalian sudah siap menjalani konsekuensi sebagai mahasiswa. Begitu pun para pekerja, jika berani memilih, maka harus berani mengambil risiko.

Jika terus-terusan mengeluh; jangan paksakan diri, mending rebahan. Join saja bersama kaum rebahan, itu lebih baik dari pada menjalani hidup dengan penuh keluhan.

Rebahan adalah salah satu cara ampuh untuk mengistirahatkan diri dari lelahnya kehidupan. Tapi akan membosankan jika hari-hari kosong diisi dengan rebahan.

Pernahkah kalian menghabiskan waktu libur seharian di rumah, rebah-rebahan, dan lain sebagainya? Bagaimana? Saya yakin kalian jenuh, malah pusing yang ada kalau seharian rebahan terus.

Baik rebahan maupun banyak kerjaan, tidak selamanya kalian merasa nyaman dengan pekerjaan tersebut. Terkadang manusia kurang mensyukuri keadaan, rebahan terus; bosan, saat banyak kerjaan malah ingin rebahan.

Akan lebih baik jika kita dapat mengatur pola hidup dengan baik. Menempatkan pekerjaan pada waktunya dan beristirahat pula pada waktunya.

Mengulang judul; sekali lagi penulis mengatakan, 'jangan paksakan diri', tapi kata lanjutannya penulis ganti dengan 'jalani dan syukuri'. Sejatinya orang merdeka adalah mereka yang mensyukuri kehidupan tanpa merasa memiliki beban.

Dimensi Rebahan

Selain terpandang malas-malasan, rebahan memiliki dimensi yang jarang orang lain pikirkan. Penulis menyebutnya; Rebahan fii sabilillah (agak bercanda tapi serius).

Alasan penulis menyebutnya demikian, karena ada segelintir orang yang memanfaatkan waktu rebahan untuk menghindari hal-hal yang dianggap unfaedah. Ketika ditanya, "kenapa rebahan terus?", dijawabnya "mending rebahan daripada ghibah (membicarakan orang lain di belakang)".

Ada lagi, mending rebahan daripada belanja (menghabiskan uang). Mending rebahan daripada pacaran. Ya intinya, lebih mending rebahan daripada lelah mengurusi hal-hal yang kurang bermanfaat.

Benar-benar pemalas, tapi ada benarnya juga. Setidaknya ada poin tersendiri karena malasnya berfaedah. Saran penulis; akan lebih berfaedah lagi jika rebahannya sambil baca-baca buku. Setuju, tidak?

Pada intinya, 'rebahan' adalah suatu alternatif untuk mengistirahatkan tubuh dari lelahnya kehidupan. Siapa pun kalian dan apa pun profesi kalian, ingatlah satu hal; jangan memaksakan diri; jika kalian lelah, rehatlah sejenak.

Rebahan bukan sekadar rebahan jika diposisikan dengan baik.