Ketika saya duduk di teras musala selepas menunaikan salat isya’ berjama’ah. Saya melihat teman sedang duduk di pojokan teras musala. Saya memanggil namanya namun dia hanya terdiam sambil tertunduk. Saya sapa namanya sampai tiga kali masih juga terdiam. Lalu saya hampiri, niat hati ingin bertanya apa yang terjadi dengan dirinya.

Saya tepuk pundaknya pelan sambil berkata “kamu kenapa?”  Dia terkejut, matanya melihat ke arahku sambil berkata “berat hidup ini ya bang” Jawabnya. Terlihat matanya merah berkaca – kaca. Pandangannya fokus ke bawah lantai sambil tangan kanannya menggosok – gosok keningnya. Dan sekilas saya bisa menyimpulkan bahwa dia lagi ada masalah yang berat. “lagi ada masalah apa?” aku bertanya.

Dia bercerita bahwa tidak punya biaya untuk melanjutkan kuliah. Dia harus membayar puluhan juta untuk bisa meneruskan kuliahnya. Dan dia sangat bingung kalau kuliahnya tidak bisa dilanjutkan, maka cita – cita selama ini yang dia bangun akan hancur.

Teman saya ini adalah seorang marboot di musala di mana tempat saya tinggal. Umurnya jauh di bawah saya sekitar sepuluh tahunan. Saya tahu bagaimana kondisi dia dan keluarganya. Bisa dibilang dia salah satu korban dari “broken home”. Dia pernah bercerita tujuan tinggal di musala adalah untuk menenangkan diri supaya bisa fokus untuk mengejar mimpinya. Dia menghidupi dirinya sendiri bekerja sampingan. Sambil sehari – harinya membersihkan musala.

Pernah saya lihat pagi - pagi dia berjalan kaki dari musala ke kampusnya yang berjarak sepuluh kilometer,  datang paling awal untuk mengikuti pelajaran. Dia mempunyai prinsip kalau dia harus benar – benar menjadi seseorang yang sukses. Supaya bisa dicontoh oleh adik – adiknya. Karena dia merasa ekonomilah alasan mendasar dari perpecahan rumah tangga orang tuanya. Sehingga ayahnya meninggalkan ibunya beserta adik – adiknya di desa. Dan dia ingin sekali membahagiakan ibunya beserta adik – adiknya kelak ketika dia mendapatkan pekerjaan yang mapan.

Awan mendung gerimis pun turun. Kami masih duduk berdua di teras musala. Ketika saya mendengar jawabannya tentang biaya kuliah, saya teringat bagaimana saya dahulu menyelesaikan kuliah. Bagi saya menyelesaikan kuliah tidaklah mudah ketika ada masalah yang benar – benar sulit untuk diselesaikan. Ketika saya bersungguh – sungguh untuk menyelesaikannya. Kuliah pun terselesaikan. Memang apa yang menjadi bebannya tidaklah mudah untuk dilalui. Tetapi sebagai teman dan saya juga pernah merasakan hari berat tersebut, maka saya hanya bisa memberi dukungan. Nasihat – nasihat klise itulah yang bisa saya berikan.

Saya bercerita sedikit pengalaman hidup saya.  Sesekali mata saya melihat langit – langit musala. Seakan pikiran saya mundur lagi kebelakang. Saya bercerita dengan perlahan dengan tidak ada niatan membandingkan pengalaman saya dan juga apa yang teman saya hadapi.

Dulu sekali saya pernah berada di titik hidup yang paling bawah. Saya merasa Tuhan tidak pernah berpihak kepada saya. Ketika saya mempunyai mimpi – mimpi yang besar, sama sekali mimpi itu tidak pernah saya genggam. Di suatu hari saya memiliki keyakinan penuh bahwa setiap orang diberi hal berat oleh Tuhan dengan segala macam solusinya. Saya terus mencoba banyak sekali kegagalan yang pernah saya rasakan.

Bahkan saya hampir menyerah dan kalah dengan hidup. Lalu di suatu titik saya menyadari. Bahwa ternyata ada yang salah dengan diri saya yaitu kaitannya dengan daya juang dan sistem yang memang harus saya perbaiki. Apakah selama ini langkah saya dalam menggapai mimpi itu kurang ikhlas? Apakah jalan saya menuju menggapai mimpi itu ada yang salah? Oleh karena itu saya mengevaluasi diri bahwasanya memang ada sesuatu hal yang harus saya ubah.

Dan saya mendapatkan kesimpulan dari apa yang saya alami. Bahwasanya untuk mencapai keberhasilan adalah dengan menetapkan impian dan tujuan. Lalu berfokus pada sistem bagaimana cara menggapainya.

Ketika dia mendengar cerita saya dia hanya mengangguk – agukan kepala sampai berulang- ulang. Dia sedikit termenung seperti ada yang dipikirkannya. Tanpa ada sepatah kata darinya.  Terdiam sejenak, saya lihat dari raut wajahnya seperti kelelahan mungkin sudah terlalu malam kami berada di musala.

Gerimis pun mulai mereda saya berpamitan pulang. Beberapa langkah dari musalah saya menoleh kebelakang untuk melihatnya. Dia masih duduk diposisinya sambil menangguk – angguk kepala.

Keesokan harinya ketika saya ke musala saya melihat dia tidak ada di musala. Tanpa ada kabar dia tiba-tiba menghilang.  Saya berpikir apakah ada yang salah, dengan apa yang saya katakan. Saya coba menghubunginya tidak bisa. Saya tanya sama warga setempat mereka juga tidak tahu. Berhari – hari, berminggu – minggu, berbulan – bulan dia tidak ada kabar.

Sudah enam bulan berlalu dari kami duduk di musala berdua, tiba – tiba ada pesan masuk whatsapp di ponsel saya. Ternyata teman saya mengirimkan sebuah foto dia telah lulus sidang. Dan dia memberi kabar bahwasanya dia sebentar lagi wisuda. Saya membalasnya dengan ucapan syukur. Lalu dia membalas “terima kasih ya bang, berkat dari masukkan abang aku bisa wisuda. Benar yang abang bilang, semenjak abang bilang itu, aku jadi punya jalan keluar untuk wisuda. Sekali lagi terima kasih bang.

Keesokan harinya kami berjumpa. Dia bercerita bagaimana dia bisa melalui masalah biaya wisuda yang sempat membuatnya bingung. Ketika perjumpaan kami di musala dia teringat dengan seorang dosen yang pernah menawarkannya untuk tinggal di suatu daerah yang ada Taman Kanak – Kanaknya (TK).  TK tersebut adalah punya sang dosen tetapi tidak ada yang mengelola dengan baik padahal fasilitas di situ lengkap, dari tempat tinggal maupun kendaraan sampai makanan di jamin dan diberi gaji.  Lalu dia menawarkan diri untuk tinggal disana dengan tujuan supaya ada biaya tambahan.

Karena teman saya dalam beberapa bulan menunjukkan hasil yang baik dalam pengelolaan TK. Dosen tersebut sebelumnya, memang sudah kenal lama dengan teman saya. Dan dia mengakui bahwa teman saya adalah seorang yang baik dan bersungguh – sungguh. Maka dosen tersebut membantu teman saya untuk wisuda langsung melalui rektor. Dan seluruh biaya ditanggung oleh dosen tersebut.

 

Terkadang kesulitan – kesulitan dalam hidup membuat kita tertantang, untuk bisa melaluinya. Baik itu menggapai cita – cita meraih mimpi dan menuju kepada keberhasilan. Selama kita sungguh – sungguh dan terus berjuang menjalaninya maka di situlah Tuhan hadir untuk menolong hamba-Nya dan memberikan jalan keluar.