Pilihan menikah ada di tangan pribadi. Tidak ada kewenangan orang lain menentukannya. Mau menikah, silakan. Tidak, ya monggo.

Sekarang, banyak yang menghakimi status lajang seseorang dengan sudut pandang pribadinya tentang 'menikah itu wajib'. Alasannya, menyempurnakan setengah agama; orang tua makin berusia senja; dan tuntutan lainnya.

Pendapat satu arah memang selalu menyakitkan, tanpa tahu kondisi seseorang langsung "tembak" menghakimi begitu saja. Sehingga aku merasakan menjadi 'bukan manusia' ketika memasuki ranah pembicaraan tentang 'menikah itu harus!"

Keyakinanku terpaksa menciut dan aku memilih diam atau pergi tanpa kata-kata. Karena bagi mereka, tidak menikah seperti dosa besar bak kriminal pembunuh orang. Lha, kok bisa?

Iya, benar. Seorang kriminal akan tetap dicap kriminal meskipun dia telah berubah dan menyadari kesalahannya. Seperti apa pun dia berbuat kebaikan, seorang kriminal akan memiliki stigma sebagai 'orang jahat'. Begitu pula aku yang masih melajang, tetap dianggap salah sebelum berganti status menjadi 'sudah menikah'. Apa pun penjelasan dari mulutku seolah tiada artinya. Single tetaplah single!

Ya sudah, mengalah saja. Mengalah bukan berarti kalah. Bukan juga lantas buru-buru menikah apa pun caranya untuk diakui. Bukan! Biarkanlah orang lain berpemikiran seperti apa. Toh yang menjalani hidup adalah kita sendiri. Bukankah begitu? Seharusnya memang begitu.

Siapa yang tidak ingin menikah? Semua orang tentu ingin berbagi suka-duka dengan seseorang (pasangan) dalam suatu ikatan sah (menikah). Tapi, kalau belum ketemu, mau apa? Jodoh orang berbeda-beda. Ada yang dekat, ada pula yang jauh.

Gemas sekali mendengar komentar orang lain tiap-tiap ke acara, "Eh, sendirian aja. Pasangannya mana?" Refleks tarik napas dalam-dalam, deh. Apakah orang-orang single tidak berhak hidup di bumi ini? Astaga, sadis sekali!

Jangan menikah! Jangan menyenangkan orang lain dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan hati, apalagi mengejar "status". Jangan menyerahkan sisa hidup dengan sembarang orang!

Menikah bukan satu-satunya puncak kebahagiaan. Banyak kebahagiaan lain yang bisa didapatkan dari sekadar berpasangan. Hidup sendiri bukanlah kesalahan fatal.

Bahkan, aku lebih menyukai sendiri. Terasa tidak ada beban memikirkan perasaan orang lain. Tidak ada keterikatan yang mengekang langkah kakiku berjalan sejauh mungkin. Tapi, bukan berarti aku tidak ingin menikah.

Aku sangat ingin menikah. Hanya saja, bukan prioritas utamaku sampai tiap saat kupikirkan 'kapan menikah'. Jika memang aku bertemu dengan seseorang yang meyakinkan hati, aku pasti ingin mengikat janji suci dengannya. Aku tidak memaksa apalagi ingin dipaksa 'menikah' oleh siapa pun jika memang tidak ada orang yang kucari.

Jangan menikah! Jika dengan sendiri sudah bahagia, lalu bertemu orang baru dan hidup malah terasa sengsara. Seharusnya pernikahan itu membahagiakan, bukan menyengsarakan. Sedih rasanya melihat orang-orang yang malah menyedihkan kehidupannya pascamenikah. Beban pernikahan pasti bertambah. Jadi, jangan dikira menikah itu "enak". Enakan juga sendiri, bertanggung jawab atas diri sendiri saja. Itu kalau bicara tentang oposisi enak-tidaknya.

Kalau misalnya menikah ingin ada yang menanggung secara finansial, coba pikir-pikir dulu. Rezeki manusia sudah ditanggung Pencipta selama dia masih bernapas. Untuk apa takut tidak bisa makan?

Perihal ingin menyempurnakan separuh agama, bagiku, agama adalah urusan pribadi kepada Tuhan. Orang lain tidak ada kewenangan ikut campur dan menganggap orang yang belum menikah 'tidak sempurna agamanya'. Agama murni keyakinan pribadi. Seharusnya tidak membawa-bawa agama untuk kepentingan lain.

Membicarakan pernikahan itu sensitif dan sangat menyinggung perasaan orang lain. Aku berasumsi, tidak ada siapa pun yang boleh menentukan dengan siapa orang itu akan menikah selain dirinya sendiri. Pun aku tidak akan menikah kecuali atas keyakinanku sendiri.

Apalagi untuk mencari pasangan yang berstatus sosial terpandang, berpenghasilan 'wah', dan segala kebendaan duniawi. Tidak! Aku tidak akan menikah dengan hanya mementingkan hal seperti itu. Semua kebendaan duniawi adalah miliknya. Tidak ada gunanya aku menikah hanya untuk membanggakan semua itu.

Akan lebih membanggakan jika keberhasilan itu milik sendiri, bukan milik orang lain. Meskipun itu pasangan kita. Kenapa? Jika suatu saat terjadi apa-apa (perceraian misalnya), semua itu juga hilang dari kita. Jadi, untuk apa dibanggakan? Tidak ada gunanya.

Yang menikah adalah keyakinan dan prinsip-prinsip dalam hidup. Segala kebendaan duniawi hanyalah "baju" yang melengkapi, bisa dipakai dan dilepas begitu saja. Sedangkan keyakinan dan prinsip-prinsip selalu melekat dalam diri hingga mati.

Menikahlah atas keyakinan diri sendiri. Keyakinan diri dan kata hati tidak mungkin menjerumuskan diri sendiri. Atau, kondisi paling buruk, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, paling tidak kita tidak menyalahkan orang lain.

Jika belum ketemu dengan orang yang pas di hati, ya santuy saja dulu. Mending cari kebahagiaan dengan menambah wawasan, bekerja, dan melakukan hobi-hobi yang menyenangkan.

Kesimpulannya, menikah atau tidak (belum) itu sah-sah saja. Kita tetap 'menjadi manusia', kok.