Sejak akhir 2019 lalu, virus yang dikenal luas sebagai Novel Coronavirus (Covid-19) telah menjangkiti penduduk Wuhan, China. Memasuki tahun 2020, virus ini makin meluas ke belbagai negara.

Kasus terus meningkat hingga mencapai angka ribuan orang yang telah terinfeksi virus tersebut, bahkan tidak sedikit yang sudah meninggal. Dikutip dari CNN Indonesia, tercatat ada 381.739 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 16.558 kasus di seluruh dunia pada senin, 24 Maret 2020.

Penyebaran Covid-19 yang sangat cepat dan meluas ke seluruh dunia kemudian ditetapkan oleh WHO sebagai pandemi global. WHO (World Health Organization) telah mengumumkan wabah ini dengan status Global Health Emergency. Imbauan untuk tetap tenang dan waspada terus digaungkan.

Ironisnya, masyarakat dunia justru banyak yang menanggapi kasus pandemi ini dengan kepanikan. Berbagai upaya juga dilakukan pemerintah mulai dari rapid test hingga lockdown.

Upaya pemerintah lainnya untuk mengatasi wabah ini yaitu dengan memberlakukan kebijakan social distancing yaitu menjaga jarak sosial antar satu orang dengan orang lainnya. 

Tidak berhenti di sana, pemerintah dan medis juga terus berusaha melindungi warga masyarakat guna menghambat penyebaran virus dengan melakukan imbauan-imbauan seperti memakai masker, hand sanitizer, rajin mencuci tangan dengan sabun, sampai melakukan isolasi mandiri.

Respos masyarakat terhadap imbauan ini pun bermacam-macam. Ada yang dengan sigap mematuhi aturan tersebut dan ada yang sebaliknya.

Respons yang kontraproduktif di tengah masyarakat adalah imbauan untuk melakukan pembatasan sosial. Negara berkembang seperti Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa yang tersebar di seluruh nusantara yang notabene adalah wilayah kepulauan tentunya cukup sulit untuk memantau hal ini. 

Masih banyak masyarakat yang bebas berinteraksi di luar rumah. Sekalipun setiap hari jumlah kasus terinfeksi Covid-19 meningkat, masyarakat masih belum semua menyadari bahaya virus ini.

Virus adalah mikroorganisme yang bersifat patogen. Mikroorganisme ini tergolong parasit intraseluler obligat (obligatory intrascellular parasite) atau parasit yang membutuhkan sel inang untuk melakukan multiplikasi (memperbanyak diri). 

Manusia dengan immunocompromise yang rendah akan mudah terinfeksi virus. Virus dapat menular dengan cara kontak antar satu individu dengan individu yang lain. Virus seperti Covid-19 bahkan sangat mudah menular melalui sentuhan. Untuk itu pembatasan untuk berinteraksi adalah upaya paling mudah yang bisa dilakukan guna menghambat penyebaran virus tersebut. 

Upaya edukasi pada masyarakat terus dilakukan seperti sudah banyak tersebar di media sosial. Tetapi masyarakat tidak hanya perlu edukasi tentang dampak virus dan cara pencegahan. Masyarakat memerlukan solusi untuk mengatasi masalah yang muncul dari pembatasan sosial seperti pemenuhan kebutuhan selama masa isolasi. 

Masyarakat diimbau untuk berdiam diri di rumah, belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan beribadah dari rumah. Masyarakat mungkin bisa mengikuti imbauan belajar dan beribadah dari rumah, namun untuk bekerja dari rumah tidak semua masyarakat bisa memenuhi hal tersebut. 

Bekerja dari rumah bisa dilakukan sebagian orang yang pekerjaannya memang bisa dikerjakan di rumah. Sedangkan bagi sebagian besar orang yang pekerjaannya memang di luar rumah tentunya ini sangat sulit. Bekerja dari rumah bisa berarti berhenti bekerja. 

Jika tidak bekerja tidak ada pemasukan yang dapat menopang keberlanjutan kehidupan keluarga. Jangankan dua atau tiga pekan, berhenti bekerja satu hari saja akan berdampak pada pemenuhan kebutuhan. Sehingga pembatasan sosial ini terutama berimbas pada jalannya roda ekonomi masyarakat. 

Masyarakat memerlukan solusi dari dampak sosial ekonomi yang muncul dari pemberlakuan pembatasan sosial itu sendiri. Ini seperti simalakama, keluar rumah harus bertaruh nyawa dengan virus sementara berdiam diri di rumah tanpa persediaan yang memadai akan mati kelaparan. 

Jauh sebelum ini sekitar 600 tahun lalu, pada abad-14 di Eropa juga pernah meluas wabah yang memakan korban hingga puluhan juta nyawa manusia melayang. Bakteri dari spesies Yersinia pestis, adalah agen mikroorganisme patogen yang menyebabkan penyakit pes kala itu. 

Penyakit ini masuk ke dalam tubuh manusia karena kutu yang dibawa oleh tikus. Kutu tersebut membawa bakteri Yersinia pestis yang kemudian menginfeksi sel tubuh manusia. Orang yang terkena bakteri ini kulitnya akan menghitam. Banyak korban meninggal sehingga wabah ini kemudian dikenal sebagai maut hitam atau black death.

Penyakit pes ditularkan dari daratan Eropa dan menyebar ke Asia dan Afrika melalui perdagangan. Perdagangan abad-14 memang berkembang pesat. Migrasi ekonomi bergerak begitu cepat dengan dibangunnya banyak pelabuhan. 

Disebutkan dalam sebuah artikel yang berjudul Tade in Medieval Europe  yang ditulis oleh Mark Cartwright menyebutkan bahwa perdagangan di Eropa seperti negara Italia misalnya melakukan kontak dagang dengan banyak mitra bahkan bangsa yang jauh seperti bangsa Mongol. Kontak global ini kemudian membawa masuknya wabah yaitu maut hitam yang terjadi pada tahun 1347-1352 M.

Tahun 1347 hingga 1352 menjadi masa yang cukup mencekam dunia terutama benua Eropa. Banyak korban meninggal hingga mencapai angka puluhan juta bahkan beberapa sumber mengklaim jumlah korban meninggal dari maut hitam mencapai angka ratusan juta jiwa.

Banyaknya korban menggambarkan begitu dahsyatnya wabah yang terjadi pada abad itu. Perdagangan memang menjadi salah satu faktor yang dapat membawa wabah, karena aktivitas interaksi sosial.

Meluasnya interaksi sosial berdampak pada penyebaran wabah yang semakin cepat. Perdagangan dengan melibatkan banyak orang bahkan dalam skala global tentunya sangat berpotensi mempercepat proses menyebarnya wabah seperti yang terjadi di abad-14. Saat perdagangan berkembang pesat dan interaksi sosial masyarakat sulit dibendung, maka wabah sulit diatasi akibatnya banyak korban berjatuhan.

Tidak ada yang berharap black death akan terulang lagi. Interaksi sosial yang sulit dibendung salah satunya karena faktor ekonomi memang memerlukan solusi. Aktivitas perdagangan global serta interaksi sosial menjadi hal yang perlu diperhatikan. 

Kabar baiknya, seiring berkembangnya peradaban manusia, kecanggihan teknologi, serta berkembangnya ilmu pengetahuan di bidang kesehatan, mendukung umat manusia untuk mengatasi permasalahan penyebaran wabah dengan lebih cepat. 

Namun semua perkembangan ini tidak akan banyak membantu mengatasi penyebaran wabah tanpa didukung oleh kesadaran masyarakat untuk membatasi diri dalam berinteraksi. Sekalipun ini akan berlangsung sementara waktu atau dalam jangka waktu yang belum tentu.