Tulisan adalah upaya kita berkomunikasi dengan orang lain melalui bahasa. Oleh karenanya, kejelasan dan kepaduan masih sangat penting. Janganlah menganggap pembaca sebagai “musuh” yang perlu dibikin bingung, pusing, dan muntah, sebelum pada akhirnya menyerah.

Demikian Yusi Avianto Pareanom menegaskan dalam Kelas Menulis Qureta-BSI di Banyuwangi (13/12). Sebagai pemateri, novelis yang juga merupakan editor di Banana ini mengharapkan para peserta agar menjadi penulis yang menempatkan pembacanya seperti kekasih—apakah ada orang yang memusuhi bukan mencintai kekasihnya?

Maka, sebagai bentuk kecintaan terhadap kekasih (pembaca), seorang penulis perlu mengenali problem-problem yang ada dalam penulisan—termasuk cara menyajikan faktanya—dan bagaimana mengatasinya tanpa harus menebak-menebak. Paparan berdasar penyampaian dari Yusi berikut ini adalah sebentuk ringkasan praktisnya.

Layak Tulis

Ibarat makanan, tentu bahan bermutu dalam tulisan berpotensi besar menghasilkan hidangan lezat meski dengan pengolahan yang sederhana. Maka, tugas pertama seorang penulis adalah menyiapkan bahan atau gagasan berkualitas prima sebelum mengolah untuk menyajikannya ke pembaca.

“Tugas pertama seorang penulis adalah memilih gagasan apa saja yang layak tulis. Kata layak mesti dikedepankan karena, seperti kata Neil Postman dalam Amusing Ourselves to Death (1985), saat ini, informasi membanjir dari segala penjuru. Sehingga, untuk bisa mengonsumsinya, kita perlu saringan.”

Ada beberapa kriteria layak tulis menurut Yusi. Yang pertama adalah kebaruan. Hal-hal baru inilah yang senantiasa akan mengundang rasa ingin tahu.

“Baru bisa bersifat mutlak, seperti penelitian atau eksprerimen yang tidak pernah dilakukan orang lain sebelumnya. Yang lebih mudah adalah hal baru yang bersifat relatif, seperti perkembangan terbaru dari kasus atau penelitian yang sedang berjalan.”

Yang kedua adalah keunikan. Seperti kebaruan, sisi ini juga biasanya bersifat baru, atau setidaknya baru diketahui, meski tidak harus selalu seperti itu. Dan yang ketiga adalah kedekatan, yakni bagaimana topik yang diangkat si penulis itu bersinggungan erat dengan keseharian pembaca.

“Bila sebuah tulisan memiliki kebaruan, keunikan, dan kedekatan, nilai jualnya otomatis akan meninggi. Sebuah karangan sudah cukup memiliki nilai tawar bila setidaknya ada salah satu dari ketiga unsur tersebut.”

Angle

Yusi mengingatkan, seorang penulis tidak mungkin mencurahkan semua gagasan atau materi penelitian/pengamatannya, sebesar apa pun semangatnya. Ada masalah yang benar-benar teknis yang hampir bisa dipastikan tidak akan tertangani hanya oleh kehendak si penulis saja.

“Di majalah dan surat kabar, misalnya, halaman sudah dikapling-kapling sehingga jatah tulisan untuk suatu rubrik hanya sekian ratus kata. Hal yang sama kurang lebih berlaku di blog ataupun situs pribadi. Oleh sebab itu, setiap penulis memerlukan angle atau sudut pandang.”

Setiap penulis memang bisa mengambil angle yang khusus menarik hatinya sekaligus yang dirasa paling menjual. Tetapi satu hal yang mesti diingat, setiap angle yang dipilih harus bisa menjadi benang merah untuk peristiwa besar yang jadi tilikan.

“Cermat-cermatlah memilih angle. Setelah itu, setialah kepadanya.”

Sebagai contoh, jika penulis sudah memiliki angle untuk kisah keberhasilan peternak bebek, misalnya, yaitu pakan khusus yang dipakai untuk meningkatkan produksi, maka ia bisa bercerita bagaimana awal si peternak beroleh gagasan membuat pakan itu, cara mendapatkan bahan, cara mengolahnya, dan perubahan nyata angka produksi telur setelah pakan khusus tersebut dipakai. Penulis di sini bisa saja menambahkan keseharian si peternak, semisal hobi atau keluarganya, agar tulisan lebih berwarna, tetapi tetap harus dijaga agar tidak melebar ke mana-mana.

“Tulisan harus efektif. Kalau tidak, pembaca bakal lari. Ingat, penulis bersaing dengan waktu dan perhatian pembaca.”

Pengumpulan Bahan

Deskripsi, akurasi, dan kelengkapan hanya bisa didapatkan oleh seorang penulis yang memiliki cukup bahan. Untuk mengenali kecukupan bahan sejak awal, maka hal pertama yang harus dilakukan oleh seorang penulis adalah menyusun “daftar belanja bahan” sesuai angle, sebelum akhirnya beranjak ke “pasar”.

Persoalannya, dengan begitu banyak penjual di pasar, ke mana si penulis mesti melangkahkan kaki?

“Ada dua pilihan. Yang pertama: teliti sebelum membeli. Tepat seperti saat orang ke pasar, penulis mesti mencari bahan terbaik di tempat penjual terbaik. Dengan mengenali secara teliti sumber/tempat terlebih dahulu, penulis bisa menghemat waktu dan apa yang ia dapat pun sudah ketat. Ia hanya perlu datang ke tempat yang sudah tepercaya dan tak repot mencoba-coba kemungkinan lain.”

Bagaimana kalau situasi lapangan tidak klop dengan ide/angle yang sudah ada di kepala penulis?

“Ambil pilihan kedua: pikiran itu seperti parasut; ia bekerja terbaik kalau terbuka. Sekalipun melenceng dari angle awal, boleh jadi bahan dan sumber baru ini lebih menarik. Tentu saja, pada saat berpikir terbuka seperti ini, si penulis mesti selalu menyertakan sikap kritis.”

Untuk memulai pengumpulan bahan ini, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan reportase.

“Agar tulisan hidup, penulis mesti melakukan reportase lapangan. Dalam reportase, pengamatan tidak cukup hanya dilakukan dengan mata. Pengamatan/pencatatan yang dilakukan mesti benar-benar menggambarkan keadaan di lapangan.”

Bisa pula dengan wawancara. Tetapi karena melibatkan tindakan bertanya ke sumber terkait, metode ini wajib diterapkan dengan ilmu dan seninya sendiri. Beberapa aturan berikut ini mesti dipatuhi agar mendapatkan hasil wawancara yang maksimal:

  1. Membuat daftar pertanyaan yang runtut.
  2. Memastikan bahwa, saat wawancara, penulis paham akan istilah teknis atau data statistik yang disebutkan sumber. Jika tidak tahu, mesti bertanya. Tidak boleh beranggapan bahwa penulis tahu segala hal.
  3. Bila untuk sebuah pertanyaan melahirkan jawaban menarik dari sumber, penulis mesti mengelaborasi lebih jauh—setelah itu, kembali ke daftar.
  4. Tidak boleh ragu meminta penjelasan lebih lanjut jika jawaban sumber dirasa mengambang.
  5. Tidak boleh ragu menginterupsi jika jawaban sumber dinilai melenceng dari apa yang sudah jadi pengetahuan publik atau informasi awal.
  6. Tidak pernah boleh menggiring sumber untuk mengiyakan pernyataan sendiri, karena ini yang disebut “meminjam mulut”.

“Yang paling penting setelah wawancara adalah melakukan cek ulang/silang terhadap jawaban sumber agar tidak terjadi kekeliruan.”

Cara pengumpulan bahan berikutnya adalah riset. Dalam dunia penulisan, ini dimaksudkan untuk menyebut pencarian bahan yang dilakukan tidak melalui reportase lapangan atau wawancara.

“Riset dilakukan dalam beberapa tahapan: riset sebelum reportase/wawancara untuk mendapatkan informasi awal dan riset tambahan ketika penulisan sedang dilakukan untuk memperkaya bahan tulisan.”

Cara terakhir pengumpulan bahan adalah method writing. Seperti aktor yang menerapkan method acting, penulis pun harus melakukannya demi mendapatkan bahan atau roh tulisan.

Method writing adalah salah satu cara mendapatkan bahan tulisan, bukan satu-satunya. Cara ini juga tak menjamin bagus-tidaknya tulisan yang dihasilkan. Hanya saja, dengan menjalankannya, ada pengalaman yang tak akan diperoleh melalui tiga cara sebelumnya.”

Outline

Adalah lazim juga praktis membuat outline agar tulisan terhindar dari kekacauan. Tanpa outline, potensi kehilangan fokus dalam menulis akan sangat besar ketimbang menerapkannya.

Apa saja bahaya penulisan tanpa outline? Urutan kacau. Ini tidak saja akan membuat pembaca bingung, melainkan pula akan kehilangan selera. Pengulangan juga bisa terjadi. Bagian yang sudah dibahas di awal, misalnya, sangat mungkin diulang lagi di tengah. Selain itu, bagian cerita yang semestinya penting malah bisa terlewatkan.

“Ibaratkan outline dengan resep makanan. Di situ ada daftar bahan yang diperlukan (ada bahan utama dan bumbu), dan urutan-urutan pengerjaan (berapa lama suatu bahan mesti dipanggang atau ditumis). Nah, sama halnya dalam tulisan, penulis mesti mengenali mana yang menjadi bahan utama dan yang berupa bumbu dari hasil “belanjaan” (reportase/wawancara/penelitian) di lapangan.”

Ada banyak bentuk outline yang bisa diterapkan dalam penulisan. Yang paling lazim dan relatif mudah adalah kronologis. Berikutnya adalah urutan ruang, urutan logis (sebab-akibat atau akibat-sebab), urutan umum-khusus, serta urutan pemecahan masalah.

Menulislah!

Setelah memahami teknis-teknis di atas, tentu tahap selanjutnya adalah mulai menulis. Unsur-unsur seperti kalimat pembuka/pemancing (lead), badan, dan penutup tidak boleh disepelekan. Juga perkara deskripsi, akurasi, dan kelengkapan, semuanya merupakan unsur mutlak dalam sebuah tulisan.

Untuk masalah judul, Yusi mengingatkan kepada para peserta agar membuat yang semenarik mungkin. Setidaknya, judul harus merepresentasikan isi cerita.

“Ia boleh bermain-main, tetapi tak boleh menyimpang. Yang paling mudah adalah mencari generiknya terlebih dahulu.”

Terakhir, setelah tahap penulisan usai, penyuntingan ditempatkan sebagai hal yang tidak kalah krusialnya. Lazimnya memang menjadi tanggung jawab redaktur atau editor, namun tidak ada salahnya jika seorang penulis pun mulai belajar merapikan tulisannya sendiri.

Beberapa hal yang bisa dikerjakan sebelum mengirimkan naskah ke media massa adalah memeriksa kesalahan ketik, ejaan, panjang tulisan, diksi yang digunakan, serta—sangat dianjurkan—membaca ulang.

“Penyuntingan memperbesar peluang kejernihan tulisan kita. Seorang penulis boleh saja melakukan kesalahan, tetapi seorang penyunting tak punya privilese semacam itu. Jadi, jika saat membaca karya apa pun Anda merasa marah karena kalimat atau logika yang tak karu-karuan, dosa utama ditanggung penyunting yang meloloskannya. Jika penulis dan penyunting ada pada satu orang, kesalahannya kuadrat."