Mendaki gunung adalah kegiatan yang murah dengan kesenangan yang mewah. Menyehatkan secara fisik maupun batin. Perjalanan di atas tanah yang licin saat musim hujan atau berdebu saat kemarau membuat setiap pendakian walau di gunung yang sama memiliki rasa yang berbeda.

Oleh karena itu banyak orang dari berbagai latar belakang melakukannya beberapa tahun ini. Bahkan sudah menjadi tren baru masyarakat, khususnya pemuda. Hal itu bisa kita lihat beberapa minggu lalu saat Gunung Lawu pertama kali dibuka setelah tutup lama akibat pandemi. Volume pengunjung sungguh banyak, mungkin karena rasa bosan terlalu lama di rumah. Itu bukti betapa orang-orang menggilai kegiatan ini.

Jika menilai dari apa yang saya dapat di organisasi pencinta alam, sangat disayangkan tren mendaki ini tidak diikuti dengan pengetahuan seputar berkegiatan di alam bebas. Misalnya pengetahuan mendasar seperti manajemen perjalanan, manajemen logistik/perlengapan, P3K, kepedulian terhadap lingkungan, dan survival.

Mendaki gunung bukan menjadi hal yang menyenangkan lagi jika tanpa bekal ilmu yang cukup. Berkegiatan alam menjadi bahaya karena keengganan untuk belajar. Hal itu mudah dibuktikan dengan masih banyak pendaki yang menggunakan pakaian berbahan jeans dan mendaki hanya menggunakan sandal.

Selain pengetahuan dasar itu, setiap pendaki pada khususnya harus memiliki pemikiran yang rasional dan skeptis pada hal-hal mistis. Tentu saja untuk menghindari kejadian pendaki yang meninggal di Gunung Lawu beberapa waktu lalu itu.

Belakangan ini beredar sebuah video di media sosial yang merekam seorang pendaki yang telanjang dada sambil membawa ranting pohon yang dibungkus dengan pakaiannya sendiri. Mungkin karena rombongan pendaki lain yang berpapasan dan membuat video tersebut memercayai takhayul atau hal-hal mistis, sehingga membiarkannya telanjang.

Diketahui sesudahnya bahwa pendaki yang telanjang dalam video tersebut adalah AS (18), korban yang ditemukan meninggal pada 5 Juli 2020 di Gunung Lawu, Jawa Tengah. Sungguh disayangkan nyawa harus hilang saat ada kesempatan untuk diselamatkan.

Saya bukan bermaksud menyalahkan siapa pun. Tetapi hanya ingin berasumsi bahwa kejadian tersebut bisa dicegah agar tidak terjadi di kemudian hari.

Pendapat ini adalah jawaban dari pertanyaan yang saya dapatkan setelah menonton video tersebut. Bagaimana mungkin pendaki telanjang di atas gunung dibiarkan begitu saja? Apakah solidaritas antarpendaki sudah mati?

Jawaban yang muncul pertama adalah kebanyakan masyarakat kita yang masih memiiliki kepercayaan terhadap takhayul dan hal-hal mistis. Hal-hal seperti itu memang tidak bisa dibuktikan ketidakberadaannya, inilah hal yang mendorong keyakinan tersebut. Sementara keberadaannya selalu diada-adakan, disangkut-pautkan sedemikian rupa untuk mendukung keyakinannya.

Ada kemungkinan keyakinan itu juga yang mendorong rombongan pendaki yang melihat korban sebelum meninggal tersebut dibiarkan saja. Karena dilihat dari caption video tersebut yang menyiratkan tindakan korban yang membungkus ranting kayu dengan pakaiannya ada di bawah pengaruh makhluk halus. Di situ dikatakan bahwa korban melakukan itu disuruh oleh ”Mbok” yang artinya ibu.

Meski ketakutan dengan hantu atau menganggap itu sebagai ritual, paling tidak mereka menolong korban dengan memakaikannya pakaian yang layak dan hangat. Bukankah solidaritas antarpendaki itu kuat? Semoga masih.

Hal hampir serupa pernah terjadi di Gunung Gede, Jawa barat. Bedanya korban tidak melepas baju, melainkan mengigau atau halusinasi karena hipotermia. Korban terus meminta-minta untuk dibuatkan kopi. Karena panik dan dikira sedang kesurupan, teman-temannya pun nurut menyeduhkan kopi untuknya. Akhirnya sangat disayangkan korban ini tidak terselamatkan. Lagi-lagi karena ketakutan pada hantu.

Betapa takhayul dan kepercayaan terhadap hal mistis dalam beberapa kasus menjadi sangat berbahaya. Jika saja ada skeptis dalam keyakinan itu, saya percaya bahwa kejadian serupa tak akan terjadi lagi. Apalagi jika dibarengi dengan pengetahuan-pengetahuan seputar kependakian dan pola pikir yang rasional.

Dengan pengetahuan, kejadian semacam itu bukan dilihat sebagai hal yang aneh. Karena begitulah efek hipotermia. Dalam kondisi tertentu penderita bisa mengigau bahkan melepas bajunya.

Menurut laporan tirto.id dalam kejadian AS di gunung Lawu, tindakannya melepas baju adalah bagian dari hipotermia yang disebut paradoxial undressing. Di saat tubuh kedinginan hebat, ia secara alamiah merespon dengan melebarkan pembuluh darah untuk menghangatkan tubuh, kemudaian tubuh menjadi panas sehingga penderita melepas bajunya.

Semoga kejadian meninggalnya pendaki di gunung tidak ada lagi, terlebih yang disebabkan karena kurangnya pengetahuan serta memercayai mitos. Selain itu, semoga trend mendaki gunung tetap ada namun dengan bekal yang cukup bagi pendaki.

Inilah mengapa pengetahuan dan berpikir rasional sangat dibutuhkan saat mendaki. Tidak asal membawa tas carrier, mi instan, jaket, dan kamera bagus. Pendakian dikatakan berhasil bukan hasil foto yang menuai like ratusan di instagram, melainkan selamat sampai di rumah.

Semua itu adalah hal yang cukup mudah jika mau belajar. Apalagi yang dipelajari adalah sesuatu yang disukinya.

Yang sulit adalah melepaskan belenggu takhayul dari masyarakat kita. Sebab yang paling berbahaya dari percaya takhayul adalah ketakutan. Karena ketakutan dapat dijadikan kontrol oleh sesuatu yang menakut-nakuti.

Kontrol tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alat berkuasa. Mau contoh? Itu hantu PKI, hantu yang setiap tahun langgeng dikabarkan akan bangkit dari kubur. Kita pun ketakutan, yang menakut-nakuti punya kuasa terhadap kita. Hah, Kita? Kalian saja, saya tidak takut pada hantu, apalagi hantu yang terus-menerus digoreng.