william_kamkwambas_old_windmill.jpg
Kincir angin pertama yang terbuat dari barang bekas, ciptaan William Kamkwamba. Foto: Wikimedia
Pendidikan · 4 menit baca

Jangan Membaca Buku untuk Lari dari Kenyataan

Tulisan ini merupakan tanggapan atas tulisan Debbi R. Saragih, Jangan Hanya Baca Buku!. Ada sesuatu yang menggelitik ketika membacanya, karena bagaimanapun, di tengah masyarakat yang kering literasi, saya masih berpikir bahwa kegiatan membaca dalam bentuk apapun harus didorong dan ditularkan seluas-luasnya.  

Saya sendiri suka membaca buku, terutama buku non-fiksi. Dua tema favorit di antaranya adalah buku-buku bisnis dan sejarah. Bisnis karena berhubungan dengan pekerjaan, sejarah karena hobi yang ditularkan oleh bapak saya. Tapi seiring dengan waktu, mempelajari sesuatu yang sepertinya tidak berhubungan langsung dengan profesi (selain mengelola usaha sendiri, saya juga mengajar bahasa Inggris), ternyata banyak membantu saya memahami dunia dan sekitar, dari fenomena kecil hingga peristiwa besar.

Ambil contohnya, ketika santer di media sosial bertebaran klaim atas penduduk “asli” vs. “pendatang” di daerah tempat saya tinggal, saya mencari jawabannya di buku-buku sejarah. Apa betul klaim ini berdasar? Dari situ saya tahu bahwa siapapun yg mengklaim dirinya penduduk “asli” suatu wilayah, sebenarnya juga pendatang. Cuma bedanya tahun kedatangan dirinya atau nenek moyangnya. Maka tiap ada yang mengungkit-ungkit masalah ini, saya cuma bisa senyum senyum sendiri.  

Siapapun yang suka membaca buku pasti setuju bahwa kegiatan ini mendatangkan banyak keuntungan. Banyak yang menyebut di antaranya mengembangkan imajinasi, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Tidak lupa efek menghibur yang ditimbulkan ketika kita membaca.

Selain itu semua, saya sendiri merasakan efeknya antara lain mendapatkan pengetahuan, mengembangkan kosakata (bahasa Indonesia maupun asing), dan tentu saja menambah khasanah dan pemahaman saya akan dunia sekitar.

Tapi bagi orang Indonesia dengan tingkat literasi rendah, keuntungan ini seringkali harus diterjemahkan ke dalam contoh-contoh yang lebih nyata (baca: menghasilkan). Baiklah, ambil contoh Warren Buffett, salah satu investor paling sukses di dunia. Ketika memulai karirnya, dia membaca sekitar 600 hingga 1.000 halaman per hari. Dan hingga hari ini ia masih mendedikasikan 80% harinya untuk membaca.

Dari membaca ia bisa terhindar dari mengambil keputusan investasi yang gegabah. Bahkan, ketika ditanya apa kunci suksesnya, ia menyarankan untuk membaca 500 halaman per hari. Karena menurutnya begitulah pengetahuan bekerja, terus berakumulasi. Ia mengatakan tiap orang bisa melakukannya, tapi menjamin tidak semua orang mau. Contoh lain dalam bisnis, Bill Gates membaca sekitar 50 buku tiap tahunnya, yang berarti satu buku per minggu.

Tapi tentu membaca tidak serta merta melulu soal kekayaan dan uang. William Kamkwamba dari Malawi adalah contoh nyata bagaimana membaca membawa perubahan positif bagi lingkungannya. William berasal dari keluarga petani yang miskin. Di tahun 2001 ketika ia berumur 14 tahun, Malawi mengalami bencana kelaparan yang parah. Karena tidak bisa membayar iuran sekolah, ia terpaksa putus sekolah. Tapi ia tidak tinggal diam. Walaupun tidak bersekolah, ia tetap rutin mengunjungi perpustakaannya.

Suatu hari, di sana ia membaca sebuah buku teks berjudul Using Energy. Dari situ ia memiliki ide untuk membangun kincir angin. Karena menurut yang ia baca, kincir angin dapat menghasilkan energi listrik, dan energi listrik dapat digunakan untuk irigasi. Setelah berhasil membuat kincir angin pertamanya dari barang bekas, kincir anginnya yang ke tiga akhirnya mampu memompa air untuk irigasi. Selebihnya adalah sejarah.

Dari kincir angin yang cara membuatnya ia pelajari dari buku yang ia baca di perpustakan, tidak saja ia berhasil menyediakan air untuk irigasi, tapi juga air bersih, penerangan untuk rumah, dan pembangkit listrik tenaga surya. 

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari contoh-contoh di atas? Perbedaan antara orang-orang yang membaca buku dan yang tidak: yang tidak membaca buku akan menerima kenyataan sebagaimana kenyataan itu, sementara yang membaca buku akan mendapatkan ilham dan kekuatan untuk mengubah realita sekitarnya, yang seringkali pahit, untuk lebih mendekati pada keadaan yang ia cita-citakan.

Karena buku mengandung ilmu yang bisa mengarahkan apa dan kemana langkah-langkah yang sebaiknya kita ambil untuk mencapai apa yang kita inginkan. Tanpa ilmu, kita berjalan tanpa bekal, tanpa arah.

Tapi mengapa beberapa orang malah berpikir orang-orang yang membaca adalah orang-orang yang penuh ilusi dan idealisme yang semu? Permasalahannya bukan di kegiatan membacanya, tapi kegagalan kita untuk membangun hubungan antara kegiatan membaca dan realita sekitar. Ibarat beragama, rajin melakukan ritual tapi lupa melakukan kebaikan terhadap sesama.

Akhirnya yang terjadi membaca hanya menjadi bagian dari ritual tanpa arti. Ini lah yang saya sebut sebagai membaca untuk lari dari kenyataan. Padahal membaca hanya sebagai ritual bukanlah esensi dari membaca itu sendiri. Membaca, seperti halnya proses belajar, harus membawa perubahan, setidak-tidaknya perubahan dalam pola pikir yang akan mempengaruhi perubahan dalam tindakan.

Maka dari itu ketika berbicara dengan murid-murid atau teman dengan berbagai latar belakang yang berbeda, untuk mendorong mereka lebih rajin membaca buku, saya selalu menekankan bahwa mereka bisa mulai dari buku apa saja, tidak harus buku yang sedang populer atau dibaca banyak orang. Saya percaya membaca buku memiliki kekuatan tersendiri pada profesi apapun, bukan hanya pada profesi yang memiliki pertautan langsung dengan kegiatan literasi seperti pendidikan dan sastra, tapi lebih dari itu.

Yang diperlukan adalah menempatkan kegiatan membaca dalam konteks: untuk apa saya membaca dan mengapa? Beberapa tahun belakangan saya menemukan bahwa kunci untuk dapat mengambil manfaat sebanyak mungkin dari membaca adalah dengan hanya membaca buku-buku atau hal-hal yang saya perlu dan menjadi minat saya, di luar itu saya anggap tidak penting.

Dan ketika tiap orang di Indonesia dengan profesinya masing-masing melakukan hal ini, bayangkan ada berapa banyak orang yang memiliki kemampuan belajar tinggi dan bersedia untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilannya secara terus-menerus? Kita akan mendapatkan tidak hanya sumber daya manusia yang berilmu tapi juga berketrampilan tinggi.

Dengan begini kita bisa menjembatani jurang antara kegiatan membaca dan pengimplementasiannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan yang terpenting: jangan membaca buku untuk lari dari kenyataan, tapi justru bangunlah jembatan antara buku dan kenyataan itu!