Psikolog Feminis
2 bulan lalu · 318 view · 4 min baca menit baca · Gaya Hidup 97413_38870.jpg
Skeeze@Pixabay

Jangan Mau Jadi yang Kedua

Terbiasa dengan pencitraan perempuan kedua yang negatif, kita mengabaikan bahwa justru sebagian besar perempuan kedua adalah perempuan biasa, normal, rata-rata. Ia bisa jadi teman, sahabat, adik, kakak, saudara kita sendiri, atau bukan tidak mungkin kita sendiri kelak dapat atau telah mengalaminya. 

Perempuan-perempuan biasa ini, seperti perempuan kebanyakan pada umumnya, berharap satu saat akan menemukan pasangan, menikah, dan berkeluarga. Namun tentunya hampir tidak ada perempuan yang berencana bahwa satu saat akan mencintai pria yang sudah berstatus suami orang. 

Sebagian perempuan dapat segera meninggalkan pria beristri, namun sebagian lagi justru masuk dan terjebak lebih dalam. Mereka pun tidak dapat terhindar dari babak demi babak kisah cinta yang dramatis.

Hubungan dengan pria yang sudah terikat perkawinan akan mengantarkan perempuan dalam situasi penuh tekanan

Pertama, status hubungan ini adalah gelap. Perempuan kedua tersembunyi atau lebih tepatnya disembunyikan dan terpaksa menyembunyikan pula hubungannya. 

Ia tidak diperkenalkan kepada orang tua, keluarga, dan teman-temannya. Sebaliknya, ia pun tidak mungkin memperkenalkan pasangannya kepada keluarga dan teman-teman. 

Di mata orang luar, ia adalah perempuan lajang. Memasuki usia tertentu, ia harus siap dengan teman atau keluarga yang dengan maksud baik tentunya akan berusaha memperkenalkannya kepada pria lain. 


Hal ini akan sangat menyakitkan bagi perempuan, karena makin mengingatkannya bahwa ia memang tidak akan pernah bersama-sama dengan pria yang ia cintai. Di sisi lain, ia akan makin kuat menginginkannya untuk jadi miliknya. Disadari atau tidak, hubungannya dengan pria beristri akan “menghambat”-nya untuk menemukan pria lain. 

Kedua, akhir pekan si pria beristri bukanlah milik perempuan kedua, tetapi milik istri dan anak-anaknya. Tidak ada bedanya dengan mereka yang belum punya pacar, perempuan kedua menghabiskan akhir pekannya bersama teman atau keluarga. 

Demikian pula dengan liburan sekolah. Selama periode ini, perempuan kedua mengaku tersiksa dengan kerinduan karena tentu sulit bagi si pria menghubunginya saat tengah berlibur dengan keluarga. 

Sekaligus ia mengembangkan ide-ide kecemburuan: kekasihnya tidak hanya berlibur dengan anak-anaknya, tetapi juga (dan terutama ini yang sangat mengganggunya) dengan istrinya. 

Ketiga, sehari-harinya pria beristri juga tidak selalu dapat hadir bagi perempuan kedua. Begitu ia pulang kerja, ia sudah sulit terjangkau. 

Kecuali si pria beristri adalah rekan kantor, perempuan kedua tidak dapat melihatnya setiap hari. Bahkan di hari kencan, ia hanya dapat bersamanya selama beberapa jam. 

Begitu ia pulang ke rumah, ia akan merasa sendiri, galau, dan bergulat mengatasi keingintahuan-keingintahuan. Apa yang sedang ia lakukan? Apakah ia masih tidur seranjang dengan istrinya? Apakah ia masih bercinta dengan istrinya? 

Ia akan kecewa mendengar informasi yang menunjukkan ia masih berinteraksi secara ‘normal’ dengan istrinya: berbelanja dengan istri, menemani istri kondangan, mengantar istri ke dokter, dan lain sebagainya.

Keempat, pria beristri juga sudah pasti sulit ditemui saat dia sakit. Perempuan kedua tidak dapat menemaninya dan tidak dapat menghubunginya karena mungkin istri dan anak-anaknya sedang menjaganya. Yang dapat ia lakukan hanya menanti kabar dari kekasihnya. Demikian pula jika ia yang sakit, perempuan tidak dapat mengharapkan dijenguk olehnya. 

Kelima, perempuan kedua mengira pria beristri tidak lagi melakukan aktivitas bersama istrinya karena sudah memiliki perempuan lain. Tetapi kehidupan rumah tangga tidak bersifat dikotomis seperti itu. 

Kenyataan yang paling menampar perempuan kedua adalah ketika si istri mengandung lagi. Menjawab pertanyaannya selama ini bahwa pria yang ia cintai masih berhubungan intim dengan pasangannya.


Sementara pria memisahkan cinta dengan seks, tidak demikian dengan perempuan pada umumnya. Tidak mudah bagi perempuan menerima pasangannya yang mengaku tidak lagi mencintai istrinya, tetapi masih melakukan hubungan seksual dengannya. 

Keenam, hubungan dengan pria beristri tentu sarat dengan penilaian moral. Perempuan kedua, kerap dibayangkan sebagai sosok yang « bersenang senang » dengan suami orang, pada kenyataannya cenderung tertekan oleh rasa bersalah, berdosa, dan khawatir. 

Ia merasa bersalah terhadap keluarga si pria (istri dan anak-anaknya) dan keluarganya sendiri (terutama orang tua). Ia juga cenderung tidak tenang karena diliputi rasa berdosa dan kerap khawatir jika keluarga dari kedua belah pihak mengetahui hubungan mereka.

Katakan Tidak Sejak Awal

Mereka yang pernah menjalani hubungan dengan pria beristri menggambarkan hubungan ini seperti candu, karena menciptakan efek adiksi (ketergantungan). Begitu masuk ke dalamnya, perempuan akan sulit keluar. 

Hal ini dikarenakan sifat dualistik dari hubungan ini: di satu sisi, hubungan ini membuat mereka menderita; di sisi lain, mereka merasakan cinta yang kuat dan indah. Saat-saat pertemuan dengan si pria beristri yang begitu terbatas justru menjadi begitu berharga. 

Frustrasi, kesedihan, putus asa, nelangsa selama tidak bertemu berubah menjadi kebahagiaan tak terkira ketika berjumpa. Hubungan yang terlarang memang memiliki sensasi tersendiri sebagai hasil dari dinamika beragam perasaan. 

Ramuan perasaan ini sering dicampuradukkan dengan cinta. Tidak heran jika perempuan kedua akan menghayati hubungannya dengan pria beristri justru sebagai cinta terindah dalam hidup mereka. 

Tulisan ini tidak bertujuan untuk menghujat perempuan kedua atau sebaliknya untuk membelanya. Saya tidak ingin memandang persoalan ini dari segi moral. 

Tulisan ini ingin memaparkan bahwa hubungan dengan pria beristri dapat membawa tekanan mental bagi perempuan. Hubungan ini juga cenderung tanpa harapan. Sangat sedikit yang dapat meninggalkan istri dan anak-anaknya (dapat dilihat pula: Ilusi, Harapan, dan Kenaifan Perempuan Kedua).

Jika saat ini Anda merasa menemukan pria idaman, tetapi ia sudah berkeluarga, katakan tidak. Tegaskan pada diri Anda untuk tidak sampai melangkah masuk dalam hubungan ini.


Jika Anda sudah telanjur di dalamnya, keluarlah segera. Jangan sampai Anda menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menunggu pangeran impian Anda bercerai. 

Seiring usia yang makin bertambah, ketika Anda melihat ke belakang, Anda akan menyesali telah membuang waktu dengan percuma. 

Jangan mau jadi yang kedua. Anda layak merasakan cinta terindah tanpa membuat Anda tersiksa.

Artikel Terkait