Kira-kira apa tujuan memakai seragam di sekolah? Kalau kita tanya kepada praktisi pendidikan, maka jawabannya pasti untuk kesetaraan. Makanya disebut biar seragam, biar sama rata.

Dalam pandangan umum, seragam memang bertujuan untuk menghapus perbedaan “kelas” antara para siswa. Sehingga kita tidak akan menemukan orang kaya di sekolah memakai mahkota emas, atau baju dengan kancing berlian. Ya, kita tidak akan menemukan orang kaya yang memperlihatkan kekayaannya melalui seragam.

Namun, agaknya ada beberapa hal yang mengganjal. Mari kita lihat dengan sudut pandang yang berbeda.

Kalau dipikir kembali, sisi negatif memakai seragam adalah mengharuskan siswa membeli seragam baru. Dan membeli seragam baru bukanlah hal yang mudah bagi semua kalangan. Seakan-akan jika mau sekolah ya harus beli seragam. Dan yang tidak mampu beli seragam dilarang sekolah.

Ironinya, jika fungsi seragam adalah memisahkan mana yang kaya dan mana yang miskin, agaknya kurang logis. Karena masih terlihat jelas mana yang kaya dan mana yang miskin. Ketika saya sekolah, meskipun ada seragam, saya tahu kok mana teman yang kaya 7 turunan, dan mana yang sangat sederhana.

“Lah kok bisa tahu?”

Ya karena yang dibuat seragam kan cuma baju, celana, topi, dan dasi saja, yang lainnya tidak. Contohnya sepatu. Dari melihat sepatu saja pasti sudah kelihatan kok siapa yang paling kaya di sekolah.

Di zaman saya, sangat mudah sekali menentukan kelas sosial dari sepatu yang dipakai. Jika ada anak yang memakai sepatu futsal, biasanya anak kaya. 

FYI saja, di zaman saya SD sampai SMP, kalau kita pakai sepatu futsal ke sekolah itu udah sangat hypebeast. Kalau sekarang sih pakai sepatu futsal ke sekolah jadi aneh. Intinya anak yang memakai sepatu olahraga adalah anak kaya, entah sepatu futsal, voli, basket, atau lainnya, dan biasanya memiliki sepatu lebih dari satu.

Nah, beda dengan yang hidupnya sangat sederhana, sepatu yang dipakai pasti itu-itu saja. Dari awal masuk sampai lulus sekolah. Bahkan sampai bolong-bolong tetap dipakai.

Edyann tenan.

Sedikit nostalgia, dulu pas saya sekolah ada sepatu legendaris, mereknya “Rieker” yang warnanya pasti hitam (gak ada warna lain). Nah, sepatu ini menjadi primadona kalangan menengah ke bawah. 

Selain karena harganya murah, sepatu tersebut sangatlah awet (kayak hubungan kamu sama dia). Dan satu lagi, sepatu ini memiliki bentuk yang ideal, sehingga sepatu ini bisa dipakai kapan saja dan di momen apa saja, baik ketika sekolah, futsal, jogging, atau bahkan untuk kentjan.

Tanpa si kaya mengatakan dirinya kaya. Dengan memakai sepatu yang tiap minggu ganti, pasti sudah kelihatan kok.

“Loh tapi sekolah negeri sepatunya juga harus sama.”

Oke, kalau sekolah negeri sepatu juga harus sama. Warnanya juga harus hitam semua biar seragam. Namun, tahukah anda, “kasta” di antara para siswa masih terlihat jelas. Misal ketika pergi ke kantin, bakal ketahuan kok siapa yang beli nasi dengan lauk paling komplit. Siapa yang makan 4 sehat 5 sempurna. Siapa yang cuma pesan gorengan (itu pun pesan lima bayarnya dua), atau ada juga yang membawa bekal dari rumah, bahkan ada juga yang tidak pergi ke kantin.

Okelah, anggap saja sekolah menyadari hal itu dan sebagian sekolah ada yang semua muridnya dapat jatah makan siang. Sehingga makanan yang mereka makan adalah sama. Yaps, sama rata sama rasa.

Apakah dengan begitu bisa menutupi kasta sosial mereka? Oh, saya rasa tidak. Tetap saja ketika pulang sekolah, kita tahu siapa yang dijemput dengan mobil, siapa yang dijemput naik motor, siapa yang naik angkot, siapa yang naik sepeda pancal, atau siapa yang jalan kaki sampai sukses.

Entah bagaimanapun, kelas sosial pasti akan terlihat kok. Yang anak kaya tetap bisa mengekspresikan kekayaan yang mereka miliki dengan berbagai hal di hadapan anak-anak lainnya. Dan itu tidak salah, kan memang mereka kaya. Gak mungkinlah kita maksain orang kaya untuk pura-pura tidak kaya.

Kalaupun akhirnya semua dibuat sama. Diasramakan deh misalnya. Dibuat kumpul jadi satu gitu. Tetap saja kok, kita masih bisa mengetahui mana yang kaya, mana yang miskin.

Dengan cara apa? Ya dengan seragamnya itu sendiri.

Misal nih seragam putih. Tidak semua seragam putih itu warna putihnya sama kan? Ada yang putihnya kinclong, entah pakai pemutih atau memang beli baru setiap hari. Ada yang putihnya kekuning-kuningan. Bahkan ada yang ukuran bajunya longgar karena baju warisan kakaknya untuk menghemat pengeluaran keluarga. 

Kemudian tidak semua bahan bajunya sama. Ada yang tipis, ada yang tebal, ada yang gampang kusut, ada yang mulus kayak jalan tol.

Oleh karena itu, fungsi seragam untuk menghapus kelas sepertinya tidak masuk akal. Memang sih, tidak semua orang kaya akan memakai baju yang terbaik dan si miskin memakai baju kusam. Tapi sebagian besar demikian. 

Dan perlu diketahui juga bahwa membeli seragam bagi si miskin adalah sebuah musibah tersendiri. Jadi mending peraturan seragam ini dihapus saja, apalagi tujuan memakai seragan juga tidak jelas.

Bukankah tidak memakai seragam juga termasuk cara berseragam dengan cara yang beragam? Ya tidak berseragam juga merupakan seragam.

Anehnya, kenapa sekolah seolah menutupi realitas bahwa kenyataannya di dunia ini memang ada orang kaya dan orang miskin? Di dunia ini memang ada keberagaman, lantas kenapa harus ditutupi? Kenapa tidak diperkenalkan saja dari awal agar kita mengenal perbedaan?

Bagi saya, Indonesia ini terlalu berwarna untuk dijadikan seragam.