Dulu aku pernah mengalami ini: mencintai seorang lelaki, bercinta, hamil.

Bagi lelaki itu, dunia bukan lagi runtuh, tetapi menjadi surreal ketika seorang perempuan yang tak (ingin) ia nikahi menghampirinya dan bilang: “Aku hamil.”

Itu mengapa ia berlama-lama menunda kepulangannya pada kesadaran. Ia pura-pura linglung, khilaf. Sempat juga mengaku sedang gila.

Aku tak ingin dinikahi lelaki itu. Aku tak pernah berpikir untuk dinikahi atau menikahi siapa pun. Aku hanya ingin tak dianggap sebagai pembohong.

Perempuan yang hamil, dari semula akan disebut “mengaku hamil”. Sebuah tuduhan.

Setelah itu, seluruh dunia akan menuntutnya untuk mengajukan berbagai pembuktian. Tanpa bukti, beribu kali pun kau, perempuan, telah bercinta dengan lelaki yang sama, kehamilanmu olehnya hanyalah sebuah pengakuan. Bukan kenyataan.

Aku ingat, satu-dua teman perempuanku pun mengalami kemalangan serupa.

*****

Sekarang, mari kita panggil lelaki itu Ray. Sebuah nama yang, entah mengapa, tak pernah aku suka. Aku harus menamai lelaki itu dengan sebutan yang yang tak kusuka. Lelaki itu agak kurang ajar untuk disukai. Apalagi dicintai. Sayang, baru sekarang aku menyadarinya. Ah, kesadaran memang selalu tumbuh setelah melalui berbagai ujian.

Mari bersamaku membayangkan hari itu. Tak perlu sebut tanggal atau tahun.

Sedari pagi aku gelisah oleh sebuah benda yang kubeli di malam sebelumnya. Test pack. Alat penguji kehamilan.

Benda tipis memanjang itu, bungkusnya sedikit basah oleh keringat dinginku. Entah berapa lama aku hanya menggenggamnya. Memandanginya. Menaruh kembali di tempatnya semula: tas merah hati yang kubeli dengan gaji pertamaku.

Lalu mengambilnya kembali. Menggenggamnya lagi. Dan tanganku masih saja gemetar.

Aku mual, sayu, layu saat mataku akhirnya melihat dua garis merah berdempetan di sisi kanan benda itu. Ya, aku hamil.

Hamil. Ia memperdengarkan bunyi tak beraturan di telingaku. Tak tentu makna. Entah ia merujuk ke mana atau pada apa.

Hari itu aku makan sebanyak-banyaknya. Lalu memuntahkan semuanya. Berharap janin yang kukandung ikut keluar dari lubang mana pun yang ada pada tubuhku. Tentu ini terdengar bodoh bagimu. Tapi, bagi manusia yang tengah kalut, kebodohan adalah satu-satunya pemberi harapan.

Pagi berikutnya, aku kembali melakukan tes. Berharap hasilnya akan berubah. Ternyata tidak.

****

Ketika menunggu kedatangan lelaki itu, pikiranku tengah bermain-main dengan banyak skenario. Bukan untuk merencanakan kebohongan atau menciptakan adegan yang dramatis. Skenario yang kumaksud adalah rancangan kata dan suasana yang sekiranya tak akan menyakiti lelaki itu. Mungkin, sebenarnya aku sudah tahu ia akan bereaksi seperti apa.

Ini dia lelaki itu. Datang dengan senyum cerah dan beberapa makanan yang kupesan.

“Semua lengkap, sayang. Aku harus cari durian sampai ke Pasar M… Heran, kamu biasanya langsung mual begitu mencium bau durian. Yakin, mau makan?”

Aku tak menjawab. Kuperhatikan wajahnya yang sumringah. Ah, berapa lama senyum itu akan bertahan?

Mungkin ia bergegas mencari semua pesananku dan dengan hati riang buru-buru menujuku. Mungkin di sepanjang perjalanan, pikirannya semarak oleh reward yang akan ia peroleh dari kebaikannya itu. Siapa yang tak tergoda oleh persetubuhan yang direstui musim penghujan?

Lalu, bum! Cukup dengan satu pernyataan saja dan seluruh kelaki-lakiannya mengalami ujian paling berat.

*****

Pertanyaan pertama yang ia ajukan: “Kamu yakin?”

Kutunjukkan test pack bergaris merah dua itu kepadanya. Ia melihat, mengamati, tapi tangannya tak mau meraih benda itu. Dibiarkannya tanganku yang memegang. Lalu ia berpaling dari benda itu. Membuang matanya pada tong sampah biru berisi macam-macam kebusukan.

Sambil menunduk ia bertanya lagi, “Kamu yakin?”

Aku masih menyusun beberapa perkiraan makna dari pertanyaannya itu. Belum juga aku selesai, ia sudah bergumam, “Kau tahu maksudku. Bukan hanya aku yang pernah bercinta denganmu.”

Ada dua sembilu yang ia tusukkan pada harga diriku ketika bergumam seperti itu. Satu, sembilu pada ujaran “pernah.” Dua, tudingan di balik “bukan hanya aku.”

Ia lupa erangan-erangan yang ribuan kali telah keluar dari mulutnya setiap kali ia orgasme selama lima tahun hubungan kami. Biar kutebak, ia tak pernah menghitung berapa ribu kali orgasme yang dialaminya gagal mengantarkanku pada titik klimaks.

Tak ada yang lebih egois dari lelaki seperti dia dalam urusan seks. Asal masuk, asal keluar. Dan berapa banyak lelaki semacam dia? Coba saja kau lakukan observasi.

Satu-satunya alasan perempuan sepertiku bisa bertahan, karena kami percaya bahwa seks terpisah dari cinta. Bahwa ikatan emosi yang kami miliki lebih dari cukup untuk menambal ruang-ruang kosong dalam hubungan kami yang sepi oleh pencapaian nikmat dua pihak.

Sebuah pemakluman yang membawa banyak perempuan pada kesadaran semu: “Bila ia (lelakiku) telah mencapai kepuasan, maka aku sudah puas dengan sendirinya. Karena aku (akan) bahagia (bila) telah membahagiakannya.”

Sungguh, inilah kebodohan yang banyak menjangkiti para perempuan. Dan tidak berhenti pada pola hubungan seksual. “Aku akan bahagia bila telah membahagiakannya” dipakai pada banyak konteks di banyak peristiwa yang kemudian menjadi rutinitas.

Lalu, “bukan hanya aku.” Ini adalah tuduhan yang fatal. Mungkin cukup memberimu alasan untuk mengakhiri hubungan dengan lelaki semacam dia. Kalimat yang tak akan selesai kau maafkan dalam hitungan waktu yang spesifik. Di sana kamu akan mendapati: ketidakpercayaan, merendahkan, keinginan untuk lari.

Apa yang tersisa dari rasa cintamu untuk lelaki semacam ini? Tak ada.

Aku ingat, ketika itu kami menghabiskan lima jam untuk memperdebatkan siapa yang paling bersalah.

Mengapa setiap pertengkaran sepasang kekasih selalu bermuara pada: “Ini salahmu!” dan melupakan inti dari persoalan sesungguhnya?

Kami melupakan calon manusia yang sedang tumbuh dalam tubuhku. Kami tak sempat memikirkan: akan bagaimana jika ia dilahirkan ke dunia? Akan seperti apa hidupnya kelak jika kami berperan sebagai orang tua yang tak dewasa dan belum juga selesai dengan diri sendiri?

Lima jam itu kami saling menyiksa lewat berbagai kata-kata kasar dan prasangka. Aku menangis dia teriak. Dia menangis aku murka. Kami  berlagak tengah menyelesaikan persoalan tetapi semua kata yang terucap, seluruh kalimat yang mengemuka hanya untuk meramalkan nasib sendiri-sendiri.

Akhirnya dia selalu kembali pada, “Bukan hanya aku yang pernah tidur denganmu.”

Aku menemukan diriku bukan lagi ia yang sedang terluka, tetapi ia yang sudah kehilangan. Hilang rasa, hilang percaya.

Ketika sekali lagi lelaki itu mengatakan tuduhannya, kuputuskan untuk meninggalkannya. Lelaki yang masih diliput ragu untuk mempercayai perempuan. Lelaki yang kesadarannya selalu kembali pada pelukan tradisi yang berasal dari ribuan tahun lalu. Tradisi yang mengajarkan agar selalu menangguhkan kebenaran dari ucapan seorang perempuan. Itulah agama. Apa yang datang dari agama memang selalu dirawat, seburuk apa pun pengaruhnya.

Mungkin keputusan untuk meninggalkan lelaki itu adalah keputusan terbaik kedua dalam hidupku. Sementara itu, keputusan terbaik paling utama adalah tak melahirkan calon manusia itu ke dunia yang rapuh ini. Si jabang bayi yang tak akan pernah tahu kemalangan-kemalangan seperti apa yang akan dialaminya kelak. Kemalangan sebab dari orang tua yang tak bisa menjanjikan kehidupan yang baik dan berarti.