Judul: Bunga Kering Perpisahan
Genre: Drama
Tanggal Rilis: Juli 2013
Sutradara: Hanung Bramantyo
Cerita: Denny JA
Durasi: 42 menit 16 detik

Cinta lebih tua dari agama
Jangan jadikan agama sebagai penghalang untuk menyatukan cinta
Karena cinta tak terbatas oleh agama

Kalimat di atas mewakili pesan yang disampaikan dalam sebuah film yang berjudul “Bunga Kering Perpisahan” karya Denny J.A dan Hanung Bramantyo. Film ini diangkat dari sebuah puisi esai karya Denny J. A, seorang penggagas puisi esai yang menjadi inovasi baru dalam dunia sastra.

Selain “Bunga Kering Perpisahan” masih ada empat karya puisi esai lainnya yang juga telah diangkat dalam sebuah film, yaitu: Romi & Yuli dari Cikeusik, Saputangan Fang Yin, Minah Tetap Dipancung, dan Cinta yang Dirahasiakan.

Semua karya puisi esai Denny J.A menjadi oase di tengah maraknya diskriminasi atas nama agama, etnis, ras, dan status sosial. Pesan “Cinta” yang dihadirkan Denny J.A dalam setiap gubahan puisinya memberi isyarat bahwa “Cinta” itu merdeka, tidak dibelenggu sekalipun oleh sesuatu yang bernama “Agama”.

Di antara semua film yang diangkat dari puisi esai karya Denny J.A, film yang berjudul “Bunga Kering Perpisahan” menjadi sebuah film yang paling saya sukai. Film ini selalu membuat saya meneteskan air mata setiap kali menontonnya.

Film ini bercerita tentang kisah cinta dua anak manusia yang tidak bisa bersatu hanya karena perbedaan agama. Dewi (diperankan oleh Rara Nawangsih) seorang muslimah dan kekasihnya, Albert (diperankan oleh Arthur Brotolaras) seorang kristiani anak pendeta. Cinta Dewi kepada Albert tulus begitu pun dengan cinta Albert kepada Dewi.

Mereka tidak mempermasalahkan perbedaan agama di antara mereka. Mereka hanya tahu bahwa mereka saling mencintai dan menyayangi sebagaimana layaknya dua anak manusia yang sedang dimabuk cinta. Semakin hari cinta mereka semakin kuat.

Perasaan cinta itu semakin bergejolak di hati mereka berdua hingga terkadang membuat mereka lupa bahwa ada sebuah “bom keyakinan” yang dapat meledak kapan saja dan memisahkan cinta mereka.

Cinta diuji. Agama digugat. Akhirnya cinta itu harus direlakan demi nama agama. Dewi dijodohkan dengan seorang lelaki muslim dan shaleh yang bernama Joko (diperankan oleh Ferry Anwar). Dewi hanya bisa pasrah dan patuh menuruti titah sang ayah.

Walaupun hatinya marah, tapi sebagai seorang anak, ia tidak mau berbuat durhaka dan menyakiti hati kedua orang tuanya. Di sisi lain, dengan berat hati, Albert menerima keputusan Dewi. Sebagai salam perpisahan, Albert memberikan sebuah kotak yang berisi kuntum mawar merah dengan seuntai pesan yang tertulis:

Dewi simpanlah bunga segar ini
Pada waktunya nanti, ia akan kering dan layu
Jika kelak telah siap untuk bersatu denganku
Kirimlah bunga ini sebagai isyarat
Aku akan segera menghampirimu
Ini janjiku

Dewi berusaha untuk menjadi muslimah teladan. Patuh pada suami, taat pada orang tua, dan bakti kepada agama. Ia pun berusaha untuk mencintai suaminya. Namun, memang cinta tak bisa dipaksakan. Cintanya telah terpatri kepada Albert. Dewi hanya bisa menjadi seorang istri secara fisik, tapi tidak dengan hati dan cintanya.

Pernikahan mereka hanya berlangsung selama sepuluh tahun karena Joko telah dipanggil oleh sang Pencipta untuk selama-lamanya. Mereka pun tidak dikaruniai anak karena Joko mempunyai penyakit sehingga tidak bisa mempunyai keturunan.

Kini, Dewi telah sendiri. Ia tidak mau lagi menderita karena cinta. Ia telah bertekad untuk mengejar cintanya. Ia merasa sudah menjadi anak yang berbakti dengan menuruti titah ayahnya menerima perjodohannya dengan Joko.

Sekarang, ia merasa lebih berhak untuk menentukan kebahagiaan hidupnya sendiri. Diambilnya sebuah kotak berisi mawar yang pernah Albert berikan padanya. Dikirimkannya kembali kotak itu kepada Albert sebagai tanda bahwa ia telah siap untuk hidup bersama Albert.

Hari-hari Dewi diliputi dengan perasaan “harap-harap cemas”. Ia tetap setia menunggu jawaban dari Albert. Namun, Albert tak kunjung juga datang. Hingga suatu hari datanglah ibunya Albert membawa pesan tersurat untuk Dewi.

Dewi, mungkin sudah kau kirimkan kembali bunga kering itu sekarang
Tapi yang kau terima hanya surat ini
Aku tak berniat mengingkari janji
Aku mungkin sekarang di alam lain
Tapi janjiku tetap seperti dulu
Cintaku hanya untukmu
Yang tak sampai hanya karena kita beda agama

Albert telah tiada. Pergi menghadap Tuhan dengan membawa cintanya. Cinta yang telah dikaruniakan Tuhan. Namun, terhalang oleh agama yang juga diturunkan Tuhan.

Film yang berdurasi kurang dari satu jam ini dikemas dengan sangat apik dan baik. Peran Dewi dan Albert sebagai tokoh utama dalam film ini mampu membawa penonton untuk hanyut dalam perasaan mereka dan seolah-olah bisa merasakan apa yang mereka rasakan.

Dalam film ini juga dihadirkan seorang narator (Teuku Rifnu Wikana) yang membacakan puisi esai Denny J.A di sela-sela tanyangan film. Kehadiran narator semakin menambah kuat alur cerita dari film ini.

Walaupun di awal tayangan film ini ada catatan bahwa “Ini hanyalah cerita fiktif belaka….” Tetapi dalam realitanya, kisah cinta Dewi dan Albert banyak terjadi di masyarakat. Ada di antara mereka yang bisa menyatukan cinta mereka dalam ikatan pernikahan. Namun, banyak juga yang harus merelakan cintanya kandas karena tidak bisa menentang ajaran agama. Pada akhirnya, biarkanlah cinta yang memilih jalannya sendiri.

Pesan moral yang disampaikan lewat film ini menjadikan film ini sangat layak untuk ditonton. Tak hanya film “Bunga Kering Perpisahan”, keempat film lainnya: Romi & Yuli dari Cikeusik, Saputangan Fang Yin, Minah tetap Dipancung, dan Cinta yang Dirahasiakan, juga menjadi tontonan wajib karena semua film tersebut menyuguhkan sisi lain dari kehidupan yang mengharuskan kita untuk tidak menutup mata dari realita yang ada.